Redstone: Sanctuary

Redstone: Sanctuary
Chapter 16: Phantasm


__ADS_3

"Ini ke arah Jalan Emas," kata Blake setelah diam selama sepuluh menit. "Jadi kita memang akan ke ladang gandum?"


"Kau sudah menduganya?


"Tidak juga. Tadinya saya pikir kita akan mendatangi Van Heiden."


"Kadang-kadang aku merasa kau bisa membaca pikiranku, Mr. Krücher," suara Jose terdengar geli. "Aku memang ingin mengunjunginya. Tapi sayang, dia sedang pergi ke Aston."


"Aston cuma satu jam dari sini," Blake menghitung kecepatan mobil dalam hati dan membandingkannya dengan jarak antar wilayah. "Kalau memang ingin menemuinya, kenapa tidak ke sana?"


"Seorang marquis tidak bisa bepergian ke sembarang tempat," terang Jose hati-hati. "Kami harus memberi kabar dulu ke istana dan menunggu persetujuan. Kami bahkan dilarang datang ke Aston tanpa diundang oleh Yang Mulia atau Perdana Menteri."


Blake baru tahu ada larangan semacam itu. "Kenapa?"


"Aturannya memang begitu. Dulu aturan ini dibuat demi mencegah para duke dan marquis membuat faksi sendiri untuk menggulingkan tahta. Sampai sekarang masih tetap dipertahankan karena alasan yang sama."


"Bagaimana kalau keluarga Anda ada yang sakit di Aston?"


"Yah, mungkin kedatanganku akan dimaklumi. Tapi secara teknis, kecuali kondisi sangat darurat dan genting, seorang marquis tidak boleh bepergian keluar daerahnya tanpa izin. Konsekuensinya besar."


"Setahu saya, Marquis Argent tidak berada di Argent."


Jose memikirkan Bjork, membayangkan jalan-jalannya yang berliku, genting-genting merahnya yang kukuh, serta permukaan tanahnya yang berlapis batu-batu pipih. "Pamanku punya hak istimewa."


"Dan Anda tidak punya hak semacam itu?"


"Tidak. Hak yang istimewa selalu dibarengi dengan keberadaan beban istimewa." Jose memandang keluar, ke arah jalanan Redstone yang becek. "Aku ..." Ia berhenti tiba-tiba. Tangannya menggapai, menepuk lengan Boris. "Matikan mesin!"


Mobil berhenti di pinggir jalan. Weston mengeluarkan belati dari balik lengan baju dengan sigap dan Boris juga menyiapkan senjata. Blake tidak bertanya. Ia meraba pinggang, mencabut pisau pendek begitu merasakan hawa ketegangan dalam mobil.


Mereka berhenti di samping pasar. Hanya ada meja-meja kayu yang ditumpuk dan aroma sampah basah. Blake menyapukan pandangan ke sekitar, tapi tidak melihat apa pun yang aneh.


"Tuan?" bisik Weston.

__ADS_1


Jose menempelkan satu jari di depan bibir. "Kalian dengar itu?" bisiknya.


Mesin mobil sudah mati. Ada suara tangis bayi dari salah satu rumah entah di mana, ada bunyi orang bertengkar, ada suara para lelaki mengobrol dari beranda rumah di suatu tempat di gang lain.


Blake menajamkan telinga, mencoba mendengarkan. Tidak ada hal yang aneh.


"Suara apa?" tanyanya, menyerah.


Jose membuka pintu mobil dan berjalan keluar. Weston dan Boris segera bergegas mengikuti. Blake tetap diam di dalam mobil. Wajahnya bosan.


***


Maria sudah mengganti pakaiannya dengan gaun tidur. Ia menyelipkan kitab suci ke balik bantal dan mengalungkan rosario, membiarkan salibnya menjuntai di dada. Susan ada di kamar yang sama, sedang mengatur nyala perapian. Ada juga para pelayan lain yang sedang membenahi tempat tidur dan merapikan sisir serta pakaian gantinya tadi. Namun Maria tetap saja tidak bisa mengenyahkan perasaan ganjil yang ia rasakan sejak tadi.


"Toplesnya dibawa siapa?" Maria memastikan sekali lagi. Ia sudah tahu siapa yang menjaga, tapi hanya bertanya agar bisa mendengar suara orang lain.


"Max dan Zoe," jawab Susan. Matanya menatap menyelidik, jelas-jelas menangkap keresahan tuan putrinya. "Saya akan berjaga di sini, Nyonya."


Maria mengangguk. Besok, pikirnya sembari menelusup ke balik selimutnya yang hangat, besok aku akan bilang pada Jose soal gelang itu. Makin lama perasaanku tidak enak.


Ketika membuka mata, di sisi tempat tidurnya terdapat orang lain. Pikiran pertama yang terlintas di benak Maria adalah Susan, kemudian Jose. Namun Susan tidak mungkin naik ke tempat tidurnya tanpa izin, sementara Jose sedang pergi.


Siapa? Maria membeliak. Jantungnya berdegup panas dalam dada.


Sosok itu diam saja.


Maria merasa seluruh sendi tubuhnya melemas. Dinding-dinding terasa merenggang, menjauh, seolah ia berada dalam mimpi.


"Nyonya?" Susan memanggil.


Maria menoleh ke belakang punggung, mendapati Susan berdiri di sisi ranjang. Jantungnya mencelus. Wajah dayangnya berkeriyut aneh, setiap sudut kulit dipenuhi keriput-keriput kehitaman menumpuk.


Maria ingin menjerit, tapi suaranya tercekat. "Hey," bisiknya tersendat. Ia masih mematung dalam posisi setengah berbalik di tempat tidur. Lehernya kaku, tak bisa digerakkan. "Pergilah. Ini kamarku. Ini rumahku."

__ADS_1


Bayang-bayang hitam merambati dinding kamar, perlahan membesar. Jendela-jendela kaca bergemeretakan pelan, kemudian mendadak jadi sunyi seolah seseorang mematikan tombol suara di dunia.


Maria menggerakkan mata, mengedarkan pandangan ke tiap sudut ruangan.


Susan tidak ada di kamar. Tidak ada siapa pun di kamar. Bahkan sosok kehitaman yang berbaring di sisinya tadi juga lenyap.


Maria menyibak selimut. Telapak kakinya merasakan tekstur karpet bulu yang dihamparkan di sekitar tempat tidur. Ujung jarinya digoreskan ke atas meja, rasanya halus. Rasanya nyata. Ini bukan mimpi. Ia memanggil Susan, memanggil dayangnya yang lain.


Tidak ada jawaban.


Maria menarik napas panjang, berusaha menenangkan diri. Ia tidak boleh panik. Panik akan menguras tenaga. Panik akan membuatnya tak bisa berpikir. Akhirnya ia menghampiri tali lonceng di sisi cermin rias dan menariknya kuat-kuat.


Tidak ada bunyi gema lonceng. Tidak ada suara tapak kaki mendekat.


Maria mengumpat dalam hati begitu menyadari dirinya sudah tidak berada di kamar lagi. Ia tidak berada di rumahnya. Ia tidak berada di Redstone.


***


"Apa yang Tuan cari?" Boris bertanya tegang, kebingungan melihat Jose berjalan bolak-balik tanpa arah. Sekarang tuannya itu berdiri diam di perempatan jalan, dahinya berkerut.


"Maria," jawab Jose dengan wajah ragu. "Aku dengar Maria memanggil."


"Nyonya ada di rumah ketika kita pergi," sahut Weston heran. "Meski Nyonya menyusul kita, tidak mungkin bisa mendahului sampai sini."


"Aku tahu, tapi itu memang suara Maria." Jose menyapukan pandangan ke sekitar dengan bingung. Tidak ada satu pun manusia terlihat. Sudut-sudut pasar dilingkupi kegelapan tanpa sinar. "Kalian tidak mendengarnya? Sama sekali?"


Baik Weston maupun Boris menggeleng.


"Tuan ingin kita kembali?"


Jose menatap ke arah mobilnya yang ditinggalkan di tepi pasar. Blake memandangi mereka dari balik jendela tanpa rasa tertarik.


Jika mereka pulang sekarang maka tidak ada satu pun rencananya yang benar-benar sukses dijalankan minggu ini.

__ADS_1


Jose menggeleng. Ia menoleh melewati bahunya, memastikan sekali lagi bahwa Maria tidak di sana. "Kita jalan lagi," katanya.


***


__ADS_2