
Rolan datang siang harinya, tampak sesantai biasa. Edwin menjemput Rolan dari Aston begitu mendapat telepon dari manor Argent di sana.
Redstone terhampar beberapa mil di antara pegunungan batu. Ada yang bilang, raja Albion terdahulu menumpuk batu-batu di sana sebagai barikade, jadi orang-orang sekitar menyebut tempat itu sebagai King's Stone.
Meski kalah gemerlap dari Aston, Redstone juga dipenuhi dengung sibuk manusia. Banyak turis, pekerja, orang lokal, para pedagang, semuanya tumpah ruah, berjubelan di jalan berdebu. Manusia bercampur dengan kuda, pedati, gerobak. Jalan baru mulai lengang saat Rolan keluar dari Stonard dan memasuki pusat Redstone.
Sekarang ia menghadapi keramaian yang lebih manusiawi dan beradab di Center—pusat Redstone. Jalanan lebih bersih. Gedung-gedung tinggi mendominasi wilayah, dengan ujung-ujung atap yang runcing dihias patung-patung bernuansa religius. Tak sedikit malaikat-malaikat dengan sayap terkembang berjaga seperti pilar batu. Kendaraannya melewati menara jam tinggi dengan pilar-pilar besar dari marmer. Menara itu kelihatan sudah tua. Rolan memandangi sekeliling dengan kagum.
Edwin membawa mereka melewati pasar kecil, kemudian lurus ke arah satu rumah besar yang terletak tak jauh dari jantung kota.
Rumah itu berpagar ukir raksasa, dengan ujung-ujung runcing menantang langit. Ada banyak pekerja berjaga di sana. Dua orang dari mereka segera membuka gerbang agar mereka bisa masuk. Halamannya luas, lebih luas dibanding manor Argent di Bjork.
Rolan meloncat turun dari mobil. Ia membiarkan kopor-kopornya diurus para pekerja, tapi tas hitam kesayangannya tetap ia sandang. Pintu rumah terbuka lebar dan Jose melangkah keluar dari sana untuk menyambutnya.
"Bagaimana kabarmu, Jose?" Rolan berseru gembira. Ia memeluk keponakannya erat-erat, menepuk pelan kepala berambut hitam ikal itu. "Kau kelihatan capek. Hidup pengantin baru memang melelahkan, eh? Itu wajar."
"Aku sehat, Paman." Jose tertawa. "Maaf meminta Paman datang jauh-jauh. Kupikir Paman akan datang paling cepat besok."
"Kau menyebut nama Maria, jadi aku datang secepatnya." Rolan menoleh pada Maria yang menunggu dengan sabar di samping Jose. Maria mengenakan gaun panjang dengan sentuhan lebih moderen, tanpa terlalu banyak lipatan. Wajah perempuan itu cerah ceria. "Heyya, keponakan cantik. Kau kelihatan sehat-sehat saja."
"Bagus, kalau begitu." Maria tersenyum manis. Ia memeluk Rolan dengan hangat. "Bagaimana kabar Paman? Thea bagaimana?"
"Kabarku baik. Thea bisa berbaring miring sedikit. Kau harusnya lihat bagaimana Lady Argent merayakan segala pencapaian putrinya." Rolan menggeleng takjub. "Setiap hari jadi pesta."
"Pesta?" Jose mengerutkan dahi, ingat bahwa Marco tidak terlalu suka pesta. "Bukan pesta besar, kan?"
"Pesta kebun kecil-kecilan, mengundang teman-temannya untuk memamerkan apa yang dilakukan Thea." Rolan meringis. "Sebenarnya cukup menghibur melihat ekspresi Marco. Di wajahnya jelas-jelas tertulis: aku sayang wanita ini, tapi dia membuatku gila dan kadang aku kangen hidupku waktu masih sendirian."
Jose bisa membayangkan itu. Ia tergelak panjang, ikut melontarkan lelucon bahwa itu adalah karma untuk Marco. Mereka berjalan masuk beriringan, dengan para pelayan mengikuti di belakang sambil membawakan kopor dari mobil.
Rolan lega melihat keponakannya kelihatan seceria dulu. Ia pikir Jose akan berubah jadi pemurung dan pemarah karena masalah-masalah di Redstone yang ia tahu tak pernah berhenti.
"Jadi, sudah berapa minggu terlambat?" tanya Rolan segera begitu pintu depan tertutup di belakang punggung mereka. Senyumnya terkembang lebar.
Maria menaikkan satu alis dengan heran. Beberapa detik kemudian pipinya merona merah. "Bukan seperti itu, Paman! Kami memanggil Paman bukan karena itu."
Wajah Rolan berubah serius. "Bukan? Lho, masih belum dapat?"
Jose segera mengerti apa maksud pertanyaan pamannya soal terlambat tadi. Sekarang wajahnya juga agak memerah. "Kita bicara sambil jalan saja, Paman. Omong-omong, Luke juga ada di sini."
"Lucas Clearwater?" Rolan menyipitkan mata dengan curiga. "Jose ... kau tidak terlibat hal menakutkan lagi, kan? Kupikir aku dipanggil untuk Maria?"
"Ya, memang untuk Maria. Aku ingin Paman memastikan kondisinya," Jose berbisik sambil menggamit lengan pamannya, mengajaknya berjalan duluan ke atas. Maria ada di belakang mereka, sedang memberi instruksi pada Edwin dan Susan dengan suara hampir tak terdengar.
"Tunggu ... jangan bilang Maria memang sakit?" bisik Rolan. "Kupikir kau memanggilku karena dia hamil?"
"Bukan! Dia tidak ... maksudku, belum. Belum ada anak," gumam Jose. "Lagi pula kami baru dua bulan menikah."
__ADS_1
"Marco langsung punya anak begitu dia menikah, Edgar juga. Kalian kan cukup subur, kecuali Jacob. Tapi kurasa itu karena Olivia; keluarganya selalu hanya menghasilkan satu atau dua anak saja, dia sendiri anak tunggal setelah pernikahan sepuluh tahun."
"Punya anak bukan prioritas kami sekarang ini."
Rolan tertawa pelan. "Baiklah, aku tahu kau sibuk. Tentang apa ini sebenarnya? Maria kelihatan sehat-sehat saja."
"Memang, dia juga mengaku tidak apa-apa. Hanya saja, aku agak cemas. Maria tidak mau diperiksa dokter biasa. Makanya aku memanggil Paman. Tidak keberatan tinggal sebentar di sini, kan?"
Rolan mengangkat bahu. "Tentu. Aku tahu ada yang tidak beres di sini. Daripada Maria, justru kau yang kelihatan sakit. Wajahmu pucat, kau juga lebih kurus."
"Aku tidak bisa tidur beberapa hari ini," Jose mengakui.
"Karena Maria, kan?"
"Salah satunya, tapi bukan seperti yang Paman pikirkan," tukas Jose cepat, tahu Rolan memikirkan hal lain.
"Aku bahkan belum mengatakan apa pun," Rolan membela diri. "Kau ingin aku memeriksanya sekarang?"
Jose mengangguk. Ia membawa Rolan ke kamarnya dan menceritakan secara singkat apa yang terjadi Senin malam yang lalu.
Rolan mendengarkan dengan tenang, makin lama kelihatan makin tertarik. Ia sama sekali tidak heran mendengar keponakannya terlibat hal supernatural. Mereka sudah pernah berhadapan langsung dengan iblis, menurutnya tidak akan ada hal lain yang akan bisa mengagetkannya lagi. Jika iblis memang ada dan bisa jatuh ke bumi seperti hujan, menurutnya segala hal mungkin saja terjadi. Keberadaan hantu bukan hal yang menakjubkan.
"Mana gelang itu?" tanyanya. "Aku ingin lihat apakah giginya asli."
"Maria membawanya," jawab Jose. "Aku memasukkannya ke dalam kantung kecil dan memintanya terus membawa benda itu."
Jose menimbang sebentar, berpikir apakah sebaiknya ia menceritakan pada pamannya apa yang bisa ia lihat. Ia belum pernah mengatakan ini pada siapa pun selain Maria. Namun ia tidak tahu bagaimana cara menjelaskan apa yang ia alami. Kadang ia melihat pendar-pendar aneh. Kadang ia tidak melihat apa pun. Kadang ada yang kelihatan jelas, meski tidak selalu. Kadang ia mendengar suara.
Bagaimana kalau kepalanya rusak? Jose kadang memikirkan itu. Bagaimana kalau ia sakit? Mungkin ini semua delusinya saja. Mungkin ia jadi agak gila sejak bertemu iblis dan tenggelam di sungai.
"Gelang itu rasanya punya energi positif," akhirnya Jose hanya mengatakan itu.
Rolan kelihatan jelas tak percaya. Ia tahu bahwa keponakannya sama seperti anggota keluarga Argent yang lain—sangat mementingkan keluarga. Tidak mungkin Jose main-main dengan keselamatan istrinya. Namun ia hanya mengangguk saja, tidak akan memaksa dulu kalau Jose belum mau menjelaskan secara rinci.
Maria masuk ke kamar lima menit kemudian. Rolan memintanya duduk di sofa dengan relaks, lalu memeriksa nadi Maria. Ia menanyakan beberapa hal, kemudian mengangguk pelan.
"Tidak ada apa-apa. Maria sehat walafiat. Tapi kalian jelas kelelahan. Sedikit stress, kurasa. Kau, Maria, harus makan yang teratur. Dan Jose, harus istirahat yang cukup. Itu saja saran dariku saat ini, tapi aku masih perlu mengawasi Maria lebih lanjut."
"Makanmu tidak teratur?" Jose menatap Maria heran, tidak mengerti kenapa itu bisa terjadi padahal jadwal makan di rumah ini sangat tepat waktu dan ada banyak pelayan yang siap melayani istrinya.
Maria menjatuhkan pandangan ke karpet. "Teratur ... dua hari ini teratur."
"Dua hari?" Jose beralih menatap Susan, yang juga berada di kamar itu karena mengikuti Maria. "Mary tidak teratur makannya? Kenapa aku tidak tahu?"
"Jangan marahi Susan," Maria cepat-cepat membela. "Setiap kali kau pergi, nafsu makanku agak berkurang. Makanya kadang-kadang aku tidak makan. Hanya kadang-kadang saja. Satu atau dua kali saja. Aku masih makan kok."
Rolan memutar bola mata. "Kalian harus lebih sering ngobrol berdua. Komunikasi adalah hal penting dalam pernikahan. Omong-omong, orang mati yang mengunjungimu masih ada di sini, kan?"
__ADS_1
"Mr. Decker di perpustakaan," kata Jose. "Aku akan mengantar Paman."
Rolan mengangguk, tersenyum simpul melihat Maria menarik lengan Jose dan mencuri satu kecup sebelum membiarkannya pergi.
"Dia cuma mengantarku ke ruangan lain di rumah ini, bukan mau ke medan perang," ledek Rolan.
"Paman kan tahu Jose seperti apa," sahut Maria tangkas. "Alihkan pandangan darinya sebentar, tahu-tahu dia sudah hilang dan dalam bahaya."
"Itu benar. Sifatnya yang menyebalkan itu ternyata belum berubah ya?"
"Makin parah, kurasa. Mungkin karena tidak ada yang jadi rem baginya di sini."
"Ya, teruskan saja. Anggap aku tidak ada di kamar yang sama," sahut Jose monoton.
Rolan tertawa. "Baiklah, ayo temui Hubbert dulu. Aku punya pesan dari Lady Argent untuknya."
***
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Kadang notifikasi mangatoon mati. Untuk tahu kapan aja Redstone bakal update, kalian bisa sering-sering cek di IG @novelnarazwei atau FB narazwei
__ADS_1