Redstone: Sanctuary

Redstone: Sanctuary
Chapter 13: Intimacy


__ADS_3

Blake tersenyum memandangi gelang yang dibawanya. Semuanya terdiri dari gigi geraham yang direkatkan dengan semacam lem bening, membentuk lingkaran gelang yang kaku. Dari jauh, benda itu kelihatan sekilas seperti gelang manik biasa.


Beberapa menit lalu, begitu Blake menunjukkan gelangnya, seorang pelayan datang dan membisikkan sesuatu ke telinga Jose. Kabar apa pun itu, jelas membuat sang marquis senang karena senyumnya melebar dan bola mata hitamnya berkilat seperti anak-anak mendapat mainan baru. Jose pamit pergi, tapi meminta Blake dan Lucy menunggunya karena ia hanya akan pergi sebentar.


Kini hanya ada Lucy dan Blake dalam kamar tamu yang luas. Hidangan kue-kue mewah dan teh panas disajikan di meja tamu, tapi Blake tidak tertarik. Ia justru berjalan mengelilingi ruangan, melihat-lihat tiap sudut dekorasi.


"Kenapa kau tidak pernah bilang kalau ini semua jebakannya?" tanya Lucy dari tempatnya duduk. Ia juga tidak menyentuh hidangan di meja.


"Aku tadinya tidak yakin," Blake menukas. "Dan dia tidak main-main, dia memang bisa membaca apakah seseorang berbohong padanya."


"Maksudmu?"


"Aku cuma membual tadi," tukas Blake dalam bisikan rendah. Ia barusan memutari ruangan bukan untuk main-main, ruangan ini tidak kedap suara. Blake berbalik kembali ke ruang duduk, memilih sofa tunggal yang tadinya ditempati Jose. "Aku tidak membunuh siapa pun, tapi aku tahu dia memang mengutus orang memata-matai kita. Dia dikenal sebagai satu-satunya Argent yang bertangan bersih. Kupikir kalau aku memprovokasinya dengan kematian, dia akan goyah." Blake mengangkat bahu. "Dari reaksinya, dia tahu aku bohong."


"Aku pusing," Lucy mengakui. "Bisakah kau bicara dalam bahasa manusia?"


Blake meringis. "Intinya, aku benar tapi tidak punya bukti. Jadi aku mencoba memprovokasinya untuk membantu diriku sendiri, tapi dia tidak memberi reaksi. Dia butuh bantuanku, itu juga benar. Tapi dia tidak mau memintanya begitu saja karena itu akan membuat dia kehilangan muka."


"Karena itu dia menculik Devon?"


"Karena itu dia berusaha menjebak kita dengan rumor soal dukat emas," Blake mengoreksi. "Tapi soal Devon, dia memang tidak tahu. Kau sendiri dengar bahwa dia tidak bohong, kan?"


Lucy berjengit. "Aku tak percaya lagi padanya. Dia bisa manipulasi jawaban."


Blake senang mendengar itu. Ia lebih suka Lucy membenci Jose. "Setidaknya dia memberi tahu hal yang sebelumnya tidak kita tahu soal kemampuanmu. Aku tidak pernah berpikir sampai sana."


Lucy mengangguk pelan, pipinya yang tirus sedikit merona. "Kupikir kau tidak benar-benar mencari Devon."


Blake mengelus lengan sofa, mengamati teksturnya yang selembut beledu. "Mana mungkin," gumamnya. Ia bukannya tak mengerti dari mana kekhawatiran Lucy. Gadis itu bersamanya sangat lama, melihatnya dengan mudah memutus hubungan, meninggalkan rekan yang tak berguna, membunuh orang dalam lingkaran intern. Tadinya mereka bertujuh, kini tinggal tiga. "Aku cuma sedang berhati-hati," katanya.


"Lalu apa hubungannya dengan Relik Hantu? Dia ... ditangkap penyelundup?"

__ADS_1


Blake menggeleng. Ia masih mengenakan topi petnya, yang menjatuhkan bayang-bayang ke separuh wajah, membuat ekspresinya tak terbaca. "Devon mencuri satu relik berbahaya."


***


"Maria di kamarnya?" Jose bertanya tanpa menoleh.


"Benar, Tuan," Weston, pelayan pribadinya, membenarkan. Lelaki itu ikut berjalan cepat selangkah di belakang Jose, mengikutinya berjalan ke sayap timur rumah tempat kamar-kamar tidur utama berada.


Jose bisa melihat beberapa pelayan perempuan tingkat rendah menunggu di depan pintu kamar Maria, yang berarti istrinya sedang mandi di dalam. Jose berjalan masuk tanpa mengetuk sementara Weston menunggu di luar.


Para dayang yang berada dalam kamar membungkuk ketika melihatnya masuk. Jose mengibaskan tangan, meminta mereka pergi. Kakinya melangkah masuk pada kamar mandi di bagian dalam kamar tersebut, berpapasan dengan Susan yang terperanjat kaget.


"Nyonya belum selesai mandi, Tuan."


"Aku tahu. Pergilah dulu." Jose melewatinya.


"Jose?" panggil Maria heran. Kepala berambut cokelat itu melongok dari sela tirai yang menyelubungi bak mandinya. "Mau mandi bersama? Airnya masih panas."


"Itu undangan yang sangat menggiurkan, tapi tamu-tamuku masih menunggu." Jose berdiri agak jauh, memusatkan perhatian sepenuhnya pada lilin-lilin beraroma yang sengaja dinyalakan di banyak tempat. Maria memang suka menyalakan lilin beraroma terapi saat mandi. "Tadinya, aku mau mengajakmu pergi berburu penyelundup, tapi mangsa kita membatalkan kedatangannya."


"Tidak. Ada hal menarik lain yang datang, masih berhubungan dengan Relik Hantu yang sedang populer. Aku mendapatkan ekornya, dan Blake Krücher sepertinya akan memberi informasi, jadi aku—"


Maria mengesah lebih keras, memainkan air di bak mandinya dalam kecipak-kecipak kecil. "Kau mau menyibukkan diri bersamanya, kan?"


Jose mengangguk. "Mungkin aku tidak akan pulang beberapa hari."


"Kau ingat kita harus menghadiri makan malam Madam Amelie, kan?"


"Tentu, aku akan pulang tepat waktu." Jose mendeham pelan. Pipinya memanas. "Bisa hentikan itu?" pintanya. "Aku jadi lupa mau bilang apa lagi."


"Apa?" balas Maria heran. "Hentikan apa? Aku tidak mengerti maksudmu." Ia menghela napas lembut dari balik tirai. Cahaya lilin menerakan siluet tubuhnya dengan jelas.

__ADS_1


"Kau bernapas seperti itu! Kau sengaja, kan?"


Istrinya terkikik, lalu mendesah lagi. "Sekarang aku tidak boleh bernapas, nih?"


Jose memutar bola mata, tahu bahwa wanita itu sengaja menggodanya untuk balas dendam. Ia berjalan mendekat, menyibak tirai bak mandi untuk menyentuh Maria. Alih-alih ciuman, yang diterimanya adalah cipratan air besar. Jose meloncat mundur, tapi terlanjur kena. Ia mengumpat pelan sambil mengusap wajahnya yang basah.


"Enak saja mau dekat-dekat," Maria tertawa geli. Ia menarik jubah mandinya dan melompat keluar bak mandi. "Sana peluk pekerjaanmu!"


Berkat disiram air, Jose jadi ingat apa lagi yang ingin ia katakan. "Kita diundang ke istana tiga bulan lagi, undangannya ada di kamar kerjaku."


"Untuk apa?" Maria mengikat jubah mandinya lalu meraih handuk untuk mengeringkan wajah Jose. "Pesta atau pertemuan resmi? Tunggu ... kita? Aku juga diundang?"


"Ya." Jose tersenyum kecil, jenis senyum yang sangat dikenal Maria. Suaminya selalu tersenyum seperti itu setiap mereka akan mendapat masalah. "Mungkin kita akan dibantai di sana."


Pengangkatan Jose sebagai seorang marquis mendapat kecaman banyak bangsawan. Marquis adalah pemimpin wilayah perbatasan, karena itu yang dipilih pada umumnya adalah panglima perang. Orang yang bisa memimpin prajurit. Orang yang jelas memiliki kemampuan militer, politik, atau ekonomi.


Jose tidak punya semua itu.


Maria mendengar gosip bahwa ada faksi bangsawan yang mengajukan petisi untuk menanggalkan gelar Jose.


"Yang Mulia tidak akan membantu, jadi aku cuma bisa mengandalkan diriku sendiri besok." Jose menghela napas. Ia memeluk pinggang Maria, mendaratkan keningnya di kening wanita itu, memejamkan mata. "Kalau tidak ada hasil besar yang bisa kutunjukkan tiga bulan lagi, kita jelas akan dihabisi."


Tentu saja maksudnya adalah dihabisi secara sosial, Maria tahu itu. Ia mengusap lengan Jose dengan lembut. Masalah di Redstone terlalu banyak hingga sulit memutuskan untuk menyelesaikan dari mana. Satu masalah berkaitan dengan masalah lain. Saat mencoba membangun, Jose akan dihadapkan pada preman dan geng yang memberontak. Saat mencoba mengatasi masalah penyelundupan, korupsi dan busuknya birokrasi menghalangi jalan. Jika mencoba mengatasi korupsi yang mengakar, Jose dijegal beragam fitnah dan diserang secara personal. Selama setahun belakangan, Jose sudah berusaha sekuatnya membangun banyak hal, tapi selalu gagal. Maria tahu ada pihak tertentu yang sengaja menjegal mereka dari balik bayang-bayang.


"Maaf," gumam Jose pelan, merasa bodoh karena malah mengeluh pada istrinya. Maria mendapat beban yang sama beratnya karena wanita itu yang selalu berhadapan dengan sindiran dan permusuhan terselubung di balik kata-kata manis para putri bangsawan.


"Maaf untuk apa?" Maria menukas santai, mengusapkan handuk yang dibawanya ke wajah Jose. "Kalau menyesal karena sering meninggalkanku, tebus dengan kencan dong."


"Oh, pastinya." Jose tertawa. Ia mengecup kening Maria, berlama-lama menghirup aroma wangi dari rambut cokelat basah itu. "Ke mana? Pilih saja tempat mana pun yang kau suka."


"Karena kita batal berburu malam ini, kau harus mencarikan buruan lain."

__ADS_1


Senyum terbit dengan hangat di bibir Jose. "Gampang!"


***


__ADS_2