Redstone: Sanctuary

Redstone: Sanctuary
Chapter 19: Encounter


__ADS_3

Tangan dingin yang lain menangkup bibir Maria, membungkamnya dari belakang. Dalam kepanikannya, Maria bisa mendengar suara seseorang berbisik di telinganya, "Ssst, Nona! Jangan berisik! Jangan bergerak!"


Andai situasinya tidak membingungkan seperti ini, Maria pasti sudah melawan. Namun ia baru saja melihat makhluk aneh, terlempar ke dunia lain, dikejar bayangan gelap merambat, lalu melihat bayangan lain yang membengkak aneh. Maria tahu bahwa satu-satunya hal paling bijak yang bisa ia lakukan sekarang adalah mengangguk patuh dan bekerja sama. Lagi pula, yang mencengkeramnya dari belakang adalah manusia. Ia bisa merasakan detak jantungnya. Meski kedua tangannya dingin, Maria bisa merasakan hawa panas samar dari tubuh di belakangnya. Itu membuatnya lega.


Mereka berdua merunduk perlahan, berlindung di balik tong-tong kayu yang bertumpuk.


Bayangan itu mendekat, mereka bisa merasakannya. Maria bahkan gemetaran dari ujung rambut sampai ujung kaki. Lelaki asing tadi masih membungkam bibir Maria dengan tangannya, mencegah bunyi gemeletuk serta uap napasnya keluar. Mereka membungkuk makin dalam ke tanah, meringkuk sebisa mungkin ketika bayangan itu tepat berada di depan mereka—di balik tong-tong kayu, kemungkinan merasakan hawa keberadaan mereka.


Maria memejamkan mata rapat-rapat dan menahan napas. Ia menahan napas sampai paru-parunya panas, sampai kepalanya sakit. Rasa sakit itu menyadarkannya bahwa ia tidak berada dalam mimpi.


Ini nyata.


"Nona?" suara itu berbisik lagi, kedengaran agak cemas. Telapaknya menyingkir dari wajah Maria. "Nona? Kita sudah aman ... untuk sementara."


Maria menghirup udara banyak-banyak. Aromanya lembap dan apak, seperti menghirup udara di loteng yang penuh dengan kulit samak. Matanya sampai berair. Ia mengusap sudut mata dengan hati-hati, kemudian mengangkat wajah, menatap penyelamatnya.


Lelaki itu kurus, wajahnya ramah, rambut cokelatnya dipotong cepak, masih muda, mungkin awal dua puluh. Maria menaksir umur mereka tidak jauh berbeda. Meski hawa sedingin ini, tapi lelaki itu hanya mengenakan kemeja serta celana kain tipis yang melekat pas di tubuhnya. Maria sadar ia tidak bisa mengkritisi pakaian orang lain karena ia sendiri juga hanya mengenakan jubah tidur. Pipinya memanas begitu menyadari itu. Ia mengenakan piyama di depan lelaki selain Jose! Satu-satunya hal yang ia syukuri adalah suaminya pergi malam ini, jadi ia memilih jubah panjang semata kaki yang tebal dan hangat untuk tidur, bukan gaun transparan yang memperlihatkan bentuk tubuhnya.


"Siapa kau?" Maria duduk memeluk lutut, berusaha keras mengalihkan rasa malunya dengan fokus ke masalah utama mereka. "Ini di mana? Ini ... bukan Redstone kan?"


"Bukan, kurasa bukan." Lelaki itu menggeleng. "Aku sendiri tidak tahu. Tiba-tiba saja aku sudah di sini ... seingatku ... aku sedang dalam perjalanan pulang." Ia diam sejenak, keningnya berkerut seperti baru saja mengingat peristiwa mengerikan. "Ini kelihatan seperti Redstone, tapi juga bukan Redstone ... kau sendiri, Nona? Kenapa kau di sini? Kau bersama siapa?"


"Nyonya," koreksi Maria. "Namaku Argent. Maria Argent. Aku sendirian."

__ADS_1


"Maaf, Ma'am." Lelaki itu mengerutkan dahi. "Argent, eh? Itu nama yang pasaran, ya?"


Maria mengangkat bahu. "Aku tidak tahu kenapa aku di sini. Tapi mungkin ... mungkin itu karena relik hantu di rumahku. Aku mau kembali ke sana dan—"


"Relik hantu?" Lelaki itu menyela. "Kau punya?"


"Ya. Kenapa?"


"Umm ... bukan apa-apa. Jadi kau cuma sendirian? Aku senang sekali waktu melihat ada manusia lain. Tadinya kupikir aku sudah gila atau aku sudah mati." Ia diam. Suaranya melirih, "kita ... belum mati, kan?"


"Tentu saja belum!" Maria menukas tegas, sekalian berusaha meyakinkan dirinya sendiri. "Aku tadi sedang tidur di rumah, di kamarku, di ranjangku! Lalu tahu-tahu ..." ia tersendat. Napasnya sesak. "Tahu-tahu aku di sini. Mungkin ... itu karena aku menaruh relik hantu di dalam toples garam. Mungkin ... entahlah, mungkin hantunya marah ... atau semacam itu."


"Harusnya tidak. Aku tahu orang-orang yang menyimpan relik hantu sembarangan, hantunya tidak melempar orang lain ke alam lain."


Yang ia dapat hanya satu gelengan.


"Aku ikut," kata lelaki itu. Wajahnya memelas. "Kau tidak keberatan, kan?"


Maria tidak keberatan. Ia justru lega mendapat teman perjalanan. Jarak ke rumahnya cukup jauh. Ia tadi berlari kesetanan dan memaksa diri berjalan cukup jauh karena ketakutan. "Rumahku agak jauh," bisiknya. "Waktu berlari ke sini tadi, aku tidak bertemu makhluk aneh. Tapi yang mengembang dan berjalan barusan tadi itu apa?"


"Entahlah. Aku juga tidak tahu. Tapi dia selalu memutari jalan dan berhenti agak lama di tiap persimpangan. Aku hapal karena selalu menghindarinya." Lelaki itu mengangkat wajah. Matanya menyipit, memandang ke kejauhan. "Kita bisa lewat atap, lebih cepat, tapi ..." Matanya menatap Maria ragu. "Apa kau bisa?"


"Melompat di atap?" Maria tersenyum. Senyum pertamanya sejak terdampar di tempat ini. Keberadaan manusia lain menguatkan hatinya. "Itu sih mudah. Aku dan kawan masa kecilku selalu melakukannya."

__ADS_1


"Kawanmu kedengarannya menyenangkan." Lelaki itu bangkit lebih dulu, sebelah tangannya terulur pada Maria. "Dia juga wanita cantik sepertimu?"


"Untunglah bukan." Maria menyambut uluran tangan itu dan bangkit dengan anggun. "Sekarang dia suamiku."


"Sayang sekali," lelaki itu tertawa pelan, jenis tawa dipaksakan untuk membantu menenangkan diri. Maria tahu apa yang mereka lakukan: berusaha keras membicarakan hal-hal ringan supaya fokus perhatian mereka teralihkan, supaya mereka tidak lagi memikirkan keganjilan di tempat mereka berada saat ini.


"Kita lewat mana?" Maria bersedekap, berulang kali berusaha memastikan bahwa semua kancing pakaiannya tertutup rapat.


"Rumahmu di jalan apa? Di mana? Omong-omong, aku tidak pernah melihatmu di Redstone. Kalau ada yang sepertimu, aku pasti ingat."


"Aku memang baru dua bulan di sini. Belum sempat ke mana-mana." Maria menunjuk ke arah kedatangannya. "Rumahku di manor Redstone. Kau pasti tahu. Rumah besar milik Marquis Redstone."


Lawan bicaranya diam. Matanya menatap Maria lurus-lurus. "Kau ... tinggal di sana? Tunggu ... kau ... kau Nyonya Argent? Marchioness Redstone?"


Maria menaikkan sebelah alisnya yang runcing. "Ya. Tadi sudah kubilang, kan? Aku Maria Argent."


"Kupikir tadi maksudmu Argent yang lain! Pantas saja! Aku heran setengah mati kenapa seorang perempuan bisa setenang ini meski berada di tempat seaneh ini! Sampai-sampai tadi kupikir kau siluman atau sejenisnya! Tapi pantas saja! Kau istri orang itu!"


Maria menatap sekitar dengan cemas. "Suaramu terlalu keras!" desisnya.


"Oh, oh, benar! Maafkan aku!" lelaki itu balas berbisik. Mata cokelatnya bercahaya. "Baiklah, kalau kau yang bilang relik itu akan membawa kita kembali, aku percaya! Aku tahu jalan tercepat ke manormu! Ah, kau belum tahu namaku ya? Namaku Devon, Ma'am. Senang bertemu denganmu!"


Giliran Maria yang menganga kaget.

__ADS_1


***


__ADS_2