
Maria meringkuk memeluk kaki di bawah meja di pasar. Meski tahu bahwa rasa dingin yang menyelimuti bukanlah dari angin melainkan hawa di sekitarnya, Maria tetap berlindung di sana karena tempat itu kelihatan aman.
Punggungnya menempel pada dinding tembok yang dingin, membuatnya menggigil hebat hingga giginya bergemeletukan. Ia berhasil lari dari kejaran makhluk aneh tadi dan keluar gerbang manor.
Maria tahu Jose sekarang berada di ladang gandum di luar gerbang kota. Insting pertamanya adalah pergi menemui Jose, jadi ia berniat lari ke ladang gandum. Namun setelah berjalan lama, sisi pinggangnya kram dan telapak kakinya nyeri. Ia berlindung di bawah salah satu meja dagang di pasar dan baru menyadari letak ketololannya setelah agak tenang.
Ia tidak berada di Redstone, mana mungkin bisa bertemu dengan Jose?
Entah bagaimana, ia sekarang terdampar di dunia yang lain. Meski tempat ini begitu mirip dengan Redstone—bahkan isi rumahnya juga persis sama dengan yang ia ingat—Maria tahu bahwa ia tidak berada di rumahnya. Jiwanya menyadari itu.
Masalahnya sekarang, kenapa ia bisa sampai sini? Makhluk apa yang mengejarnya? Kenapa ia dikejar? Bagaimana caranya pulang?
Beragam pertanyaan memenuhi kepala, membuatnya resah. Maria menarik napas panjang, meneguhkan hati.
Ini semua bermula dari gelang aneh itu, batin Maria. Ia mengusap-ngusap hidung yang beku, memaksa otaknya berpikir keras. Harus. Kalau ia berhenti berpikir, rasa takut akan melandanya, membuatnya putus asa. Itu tidak boleh terjadi. Ia ingin pulang.
Maria ingat bahwa ia terganggu dengan bayangan gigi-gigi gelang dan tidak bisa tidur. Saat ia membuka mata, dirinya sudah berada di dimensi lain.
Gelang itu ditenggelamkan dalam toples garam dan diikat kawat besi. Zoe dan Max menjaganya di kamar, di sebelah kamar tidur Maria.
Bagaimana kalau hantunya marah? Maria mengerjap-ngerjapkan mata, menemukan pencerahan. Ia memukul telapaknya dengan kepalan tangan. Bagaimana kalau dia marah gara-gara aku menguburnya dalam garam?
Kalau benar, maka solusinya mudah. Maria meniup-niup telapak tangannya, berusaha menghangatkan diri. Ia akan membuka toplesnya.
Kenapa tadi tidak terpikir? Bodoh sekali! Maria menemukan semangatnya lagi. Ia bahkan tersenyum membayangkan kemungkinan bisa pulang. Ia mengusap-usap telapak kakinya yang sakit karena menginjak kerikil, kemudian beringsut keluar dari meja.
Tubuhnya membeku ketika melihat sesosok bayangan melintas gontai. Bayangan itu berada di ujung perempatan, agak jauh dari Maria. Namun keberadaannya membuat Maria gelisah. Napasnya makin cepat. Sekujur tubuhnya terasa dingin.
Bayangan gelap itu bahaya. Sama bahayanya dengan yang merangkak di manor tadi.
Maria masih mematung, kali ini atas kemauannya sendiri. Ia tidak mau bergerak tiba-tiba dan menarik perhatian makhluk itu.
Bayangan itu berdiri di tengah perempatan jalan, tapi kepalanya yang lonjong terayun-ayun mayu mundur seperti pendulum. Maria tidak bisa melepaskan pandangannya dari ayunan aneh itu. Gerakannya membuat gelisah. Kepala hitam itu membengkak, makin lama makin besar.
Maria kembali ingat pada bayang-bayang bersulur yang merambat di kamarnya. Ia menahan napas. Pupil matanya membesar.
Jari-jari dingin mencengkeram lengan Maria, menariknya kuat ke belakang. Ia bahkan tidak sempat menjerit.
__ADS_1
***
Blake yakin yang tadi itu adalah suara manusia. Tepatnya, suara manusia tercekik.
Dilihat dari wajahnya, Weston jelas tidak mendengar apa pun, tapi Jose pasti mendengar karena lelaki itu batal bicara begitu suara cekikan barusan muncul. Namun sang marquis diam saja, malah kembali meneruskan jalan seolah tidak ada apa-apa.
"Anda dengar itu?" Blake bertanya di tengah suara gemerisik kaki menyibak tanaman gandum dan belukar. Mereka tidak berjalan melewati pematang tapi memintas petak ladang.
"Suara itu? Ya, aku dengar."
"Sepertinya bukan suara binatang."
Jose tersenyum sekilas mendengar komentar itu. Blake punya keahlian menyembunyikan pertanyaan dalam bentuk pernyataan.
"Memang bukan," gumam Jose lirih. "Abaikan saja. Kita datang untuk tujuan lain."
Sebenarnya ada banyak hal yang ingin dipastikan oleh Blake. Ia ingin tahu dengan cara apa Jose ingin menemukan Devon. Ia ingin tahu apa yang dibisikkan sang marquis pada Boris untuk dicari di tengah ladang gandum. Ia ingin tahu apa yang akan mereka lakukan sekarang. Ia perlu tahu apa yang menempel padanya yang dimaksud oleh Jose. Ia juga ingin bertanya kenapa mereka mengabaikan suara cekikan yang makin lama makin terdengar keras.
Namun Blake menyimpan semua pertanyaan tadi dalam hati dan mencoba bersabar.
Ketika mereka sampai di tempat Boris berada, Blake merasa kepalanya seperti dipukul dengan gada. Di dekat kaki pria besar itu, ditutupi mantel lebar sebagai selimut, terbaring orang yang sangat dikenalnya. Pemuda berambut cokelat cepak dengan tulang pipi tinggi seperti milik Lucy.
"Bagaimana ...?" Mata Blake menyipit. Ia berlutut, dengan cekatan meraba leher Devon, mencari denyut nadi. Ada, tapi lemah.
"Tidak ada patah tulang atau luka luar, Tuan," lapor Boris.
"Weston," perintah Jose sambil mengedikkan kepala.
Weston tahu tugasnya. Ia segera mengangkat Devon dengan hati-hati ke punggungnya, lalu membawa lelaki itu ke mobil.
Blake menatap punggung kawannya yang menjauh. Perlahan tapi pasti, ia bangkit berdiri. Ketika mengangkat tubuh, tangannya menelusup cepat ke balik sepatu bot, mencabut revolver yang diselipkan di sana, dan menempelkan moncongnya ke dada Jose, tepat di jantungnya.
Pada detik yang sama, Boris sudah menempelkan bilah belati ke leher Blake sementara Jose mengangkat sebelah tangan, menahan agar pekerjanya tidak menggorok leher pemuda itu. Matanya menatap tajam penuh peringatan. Boris menahan gerakan, tapi tidak menurunkan belati. Napasnya memburu dalam ketegangan yang bercampur amarah. Ia tidak akan mengampuni Blake kalau sehelai saja rambut tuannya sampai jatuh.
"Aku menemukan kawanmu, tapi kau malah menodongkan senjata?" Jose kedengaran geli. "Ini caramu berterima kasih?"
"Kau mempermainkanku," Blake tidak lagi menggunakan bahasa sopan. Matanya dingin dan datar, tanpa emosi, tapi suaranya gemetar dipenuhi kebencian. "Kau mencelakai Devon dan membuangnya ke sini."
__ADS_1
"Tidak, ini salah paham. Aku kebetulan saja menemukannya." Jose terlihat tenang. Matanya bahkan tidak melirik revolver yang ditekan ke dadanya. "Sejujurnya, aku malah tidak menyangka dia ada di sini. Aku mengajakmu ke sini untuk tujuan lain."
"Aku melihatmu bicara pada Boris. Kau sudah tahu Devon ada di sini. Apa lagi artinya selain kau sendiri yang membuangnya di tempat ini?"
"Aku tidak punya alasan mencelakainya."
"Ah, tentu kau punya." Blake tersenyum sinis. "Bukankah kau yang memberi kabar bohong soal dukat emas itu, Sphere? Apa alasanmu untuk itu?" Ia melirik Boris karena pisau pria itu melukai kulit lehernya. "Turunkan pisaumu atau jantungnya akan—"
Blake mengumpat dalam hati ketika menangkap kelebatan gerakan. Begitu menyadari bahwa seharusnya yang tidak boleh ia lepaskan dari pandangan adalah Jose, semua sudah terlambat.
Jose dengan tangkas memukul lengan Blake ke samping, menjauhkan revolver dari dadanya. Pukulan itu begitu kuat hingga sendi-sendi Blake terasa ngilu dan tulangnya mati rasa. Dalam sekejap senjatanya sudah berpindah tangan. Blake bereaksi cepat. Ia menjejak tanah untuk mundur ke belakang, menjauh dari belati Boris. Namun betisnya mendadak sakit dan dunia berputar aneh. Langit malam dipenuhi bintang.
Detik berikutnya, Blake sudah tergeletak di tanah, di antara rumpun gandum yang menusuk-nusuk. Ujung revolver kini terarah padanya. Butuh waktu agak lama bagi Blake untuk menyadari bahwa ia baru saja ditendang jatuh oleh Jose. Blake tercengang.
Kenapa dia perlu pengawal kalau sendirian saja sekuat ini?!
Perlahan, ia beringsut bangun, bertumpu pada siku. Tidak ada rasa takut di matanya, hanya amarah. Topi petnya jatuh ketika ia terbanting ke tanah. Rambutnya acak-acakan diterpa angin malam.
"Kau akan membunuhku?" Blake menantang.
Jose tertawa mendengarnya, mengesankan bahwa kematian Blake tidak memberinya manfaat sama sekali. Jose menarik kembali revolver yang tadinya diacungkan ke depan, memastikan pengaman revolver aktif, melepas silindernya, mengosongkan peluru, kemudian menyimpan senjata itu ke dalam saku mantel. Pandangan matanya diedarkan ke sekeliling ladang. Hanya sekejap, tapi Blake melihat ada kecemasan terlintas.
"Sebaiknya kita pergi sekarang." Jose berbalik. Mantelnya berkibar diterpa angin. Tanaman gandum bergesekan, membuat bunyi desir ribut. "Tempat ini lebih bahaya dari dugaanku semula."
***
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
¬Untuk yang ngikutin novel Options di noveltoon/mangatoon dan pengen liat beberapa tokohnya, kalian bisa cek IG @novelnarazwei atau FB narazwei ya. Soalnya ga bisa kutaruh di novel itu gambar2nya.