
Rolan sedang memasukkan berkas-berkas dokumen ke dalam tas kulit hitamnya ketika pintu kamar menjeplak membuka dan seseorang menghambur masuk. Refleks, ia menyambar pisau dari keranjang buah di nakas dan bersiap pada kemungkinan serangan.
Tidak ada serangan.
Yang ada hanya Nolan, dengan rambut pirang pasirnya yang diikat asal. Kedua pipi gadis itu merona kemerahan, pundak kecilnya naik turun dalam napas tak teratur. Sebelah tangan gadis itu masih mencengkeram pegangan pintu.
Rolan melempar pisaunya kembali ke keranjang buah. "Kalau yang ada di kamar ini adalah Marco, kau pasti sudah dilempar keluar," katanya riang. "Syukurlah cuma ada aku di sini. Oh, kalau mencari surat Jose, bukan aku yang pegang. Kurasa pagi ini memang tidak ada, atau belum ada."
"Aku bukan mencari surat," sahut Nolan ketus. "Jose memang tidak akan mengirim surat lagi."
Ini kabar baru. Rolan memang tahu bahwa sudah sebulan ini tidak ada surat dari Redstone untuk Nolan, tapi tadinya ia pikir itu hanya libur sementara karena Nolan baru mulai bekerja. Gadis itu mendapat pekerjaan sebagai juru ketik di balai kota. Ia berhenti menata dokumennya untuk menatap Nolan. "Kenapa? Marco melarangmu?"
"Apa kau pikir kalau sesuatu berubah dalam hidupku, itu karena dilarang-larang orang lain?"
Rolan tertawa. "Tentu saja."
"Aku memutuskannya sendiri! Dan itu bukan karena kau melarang atau Marco melarang atau siapa pun melarang! Aku cuma tidak ingin mengganggu Jose lagi!"
"Baik, baik, maafkan ketidaksopananku. Lalu, untuk apa menyerbu begitu kalau bukan ingin mencari sesuatu? Kau sakit?"
Nolan menunduk, menunjukkan siku kanannya yang berdarah. "Aku ... aku jatuh."
"Itu luka kecil. Kau kan bisa mengobatinya sendiri atau minta Margie membantu," keluh Rolan. Meski begitu ia tetap saja mengeluarkan kotak obat dan menyuruh Nolan duduk. "Ada lagi yang sakit?" tanyanya setelah membersihkan lecet tersebut. "Kepalamu, barang kali? Otakmu? Kewarasanmu?"
__ADS_1
"Jeanne bilang, kau akan pergi."
"Bukan pergi tapi pulang," Rolan mengoreksi. Ia membuang kapas bekas pakai ke tempat sampah dan membereskan kotak obatnya. "Jeanne dan Marco sudah mulai kalem setelah punya anak, mereka tidak akan berkeliaran membuat diri mereka terbunuh lagi. Renata dan Edgar kembali ke Argent. Tidak ada lagi yang bisa kulakukan di sini."
"Kau kan tangan kanan Marco?" Nolan memprotes. "Harusnya kau selalu ada di dekatnya, kan? Itu yang dilakukan tangan kanan!"
"Tidak. Dia akan memanggilku kalau ada perlu dan orang-orangnya akan menghubungiku kalau ingin menyampaikan sesuatu." Rolan duduk mengempaskan diri di tepi ranjang, di sisi tas besarnya. "Rumahku di Orlov. Aku dipanggil ke sini karena ada kasus orang hilang. Masalah sudah selesai, jadi aku harus pulang. Kenapa, sih?" Ia tertawa melihat wajah sedih Nolan. "Kalau kangen, kau bisa meneleponku kapan saja dari rumah ini. George menyukaimu, dia pasti akan mengizinkanmu memakai telepon. Kau tahu cara pakainya, kan?"
"Aku boleh menelepon?"
Rolan mengerjap heran melihat reaksi Nolan. Ia tadi hanya menggoda saja, ia pikir Nolan akan menghardiknya atau dengan kesal mencemooh olok-olok soal kangen. "Eh ... yah, aku tidak tahu pasti, tapi kurasa kau tetap harus minta izin pada George," katanya.
"George mengizinkan, kok. Jeanne juga. Mereka sudah bilang sejak dulu, aku juga sudah diajari caranya." Nolan masih duduk di kursinya dengan kedua tangan saling terkait di pangkuan. "Maksudku, aku benar boleh meneleponmu?"
"Oh, aku bertengkar dengan anak-anak nakal tadi." Nolan mengusap rambut, menarik satu daun kering yang tersangkut di sana. "Mereka mengejar-ngejar kucing dan melemparinya dengan batu. Inspektur Chester bilang, kucing itu ditinggalkan kapal yang datang dari Nordem, jadi tidak ada tuannya. Warnanya abu-abu putih dan wajahnya galak. Kau harus lihat! Kau pernah lihat kucing, kan?"
"Melihat gadis yang liar seperti kucing sih sering," sahut Rolan, mulai lega karena Nolan kembali bersikap seperti biasa. "Lalu kau membawanya pulang?"
"Nanti terinjak-injak adikku."
"Jadi kau bawa ke sini?" Rolan menebak. "Kau ingin memeliharanya di sini? Asal kau tahu, Jeanne alergi bulu kucing."
Nolan menghela napas. "Aku tahu," gumamnya, "aku mendengarnya dari Margie."
__ADS_1
"Aku tidak suka kucing, jadi aku juga tidak mau membawanya," Rolan menolak sebelum Nolan sempat bicara. Ia mulai mengerti alasan kedatangan Nolan. Gadis itu mungkin berharap ia bisa memeliharanya. "Berikan saja pada Chester. Setahuku dia suka kucing."
"Dia lebih sering berada di luar rumah, dan anaknya masih bayi. Istrinya takut kucing itu membawa penyakit. Katanya kucing-kucing itu makan tikus, jadi istrinya jijik."
"Memang makan tikus. Kucing-kucing kapal memang dipelihara untuk memburu tikus."
"Kau tidak punya cara?"
"Berikan saja pada kapten kapal. Pasti banyak yang bersedia menerima." Rolan diam. Tawanya meledak melihat ekspresi memelas gadis itu. "Kau ingin memeliharanya sendiri, ya?"
"Aku tidak bisa. Aku kan jarang di rumah," Nolan bergumam sedih. "Para pelayan tidak ada yang mau memelihara kucing. Mereka sibuk."
"Sebenarnya, ada satu orang lain yang bisa kau mintai tolong." Rolan tersenyum. "Kau juga mengenal orangnya. Kalau kau yang meminta, aku yakin dia akan menerima dan merawat kucing itu seperti putri kerajaan."
"Siapa?"
"Lord Marsh."
***
Karena yang favorit Bloody Love sampai 5k (segitu aja udah banyak banget bagiku 💕 🥺), jadi aku bikin extra story ini. Makasih untuk kalian yang masih setia baca sampai ikut ke Redstone.
Untuk saat ini, aku belum ada bayangan masukin Nolan ke cerita di Redstone, jadi buat kalian yang menantikan dia, cukup lewat chapter extra aja ya 🤣
__ADS_1
Sambil menunggu Redstone update, kalian juga bisa baca chat story-ku di mangatoon/noveltoon. Judulnya Options. Atau cek novel Red Light District di cabaca ya 😉