Redstone: Sanctuary

Redstone: Sanctuary
Chapter 27: Shaft


__ADS_3

"Hubbert Decker meninggal?" ulang Maria heran begitu mendengar cerita Jose.


Ia senang lelaki itu pulang cepat. Meski benci dengan pengalaman tersesat di alam lain, Maria sudah menganggap peristiwa itu seperti mimpi buruk saja dan tidak mau memikirkannya terlalu dalam. Lagi pula, Jose bisa mengurusnya. Ia percaya suaminya bisa menyelesaikan masalah ini.


Sebenarnya Maria justru agak senang karena setelah malam mencekam itu, Jose jadi lebih perhatian padanya dan membatalkan banyak perjalanan jauhnya. Mereka bahkan bercinta cukup panas tadi pagi.


Jose mengangguk menanggapi pertanyaan istrinya tadi. Ia membawa beberapa eksemplar koran lama ke atas meja kerja. "Mr. Decker dihantui penampakan setelah pulang dari ladang gandum, lalu meninggal dalam tidurnya dini hari. Cara meninggal yang kedengaran cukup konyol, tapi cocok dengan kenyataan."


"Lalu yang sedang membaca buku di perpustakaan itu siapa? Hantu?"


"Anggap saja begitu," Jose tertawa. "Aku sudah mengirim kabar ke Bjork untuk memberi tahu Bibi Jean soal kematian Mr. Decker. Kita tidak akan memanggil polisi, tapi Brooks akan kuberi tahu secara langsung sore nanti."


Maria mengangguk-angguk mengerti, mencoba memahami semua yang terjadi. "Aku akan memastikan semua pelayan tahu apa yang harus mereka katakan. Atau ... kau lebih suka membuat pelayan tidak tahu apa pun?"


Jose berpikir sebentar. "Agak janggal. Tidak mungkin mereka tidak tahu kalau ada orang meninggal di rumah, kan?"


"Apa yang akan kita lakukan kalau Hubbert benar meninggal? Kita pasti akan meminta itu dirahasiakan, kan?" Maria menukas. "Apalagi kalau kau curiga kematiannya adalah pembunuhan."


"Tapi para pelayan pasti akan tetap bergosip meski kita menyuruh kematiannya dirahasiakan," Jose mendebat. "Kau bisa membuat seolah 'pelayan disuruh tutup mulut, tapi gagal'?"


"Itu agak susah, tapi aku bisa mencoba." Maria tersenyum. Semua pelayan yang bekerja di manor Redstone adalah orang-orang pilihan yang kesetiaannya teruji. Cukup mudah mengajak mereka bersandiwara. "Nanti kubicarakan dengan Susan dan Edwin. Ada lagi yang ingin kau lakukan?"


"Edwin bilang, kau membatalkan jadwal dokter yang kupanggil?"


"Aku tidak mau diperiksa dokter."


"Sejak dulu kau tidak suka dokter," Jose mengesah, ingat bahwa Maria juga menolak diperiksa dokter saat terlibat misteri di Bjork. "Aku cuma ingin memastikan kau baik-baik saja."


"Aku tidak suka disentuh-sentuh lelaki lain," sungut Maria. "Semua dokter selalu lelaki, orang asing pula! Kudengar yang kau panggil adalah orang Belanda. Aku tidak suka orang Belanda."


"Dia dokter yang ahli dari Aston."


"Aku tidak suka. Aku pernah diperiksa satu kali oleh mereka, ada benda aneh yang ditempelkan ke dadaku. Aku harus membuka baju. Aku tidak mau." Maria melotot galak. "Aku baik-baik saja, tidak usah cemas."


Jose mengerutkan kening, merasa tahu apa yang dimaksud Maria. "Itu untuk mendengarkan detak jantungmu."


"Mereka memaksa aku membuka mulut dan menekan-nekan lidahku. Itu menjijikkan."


Jose menggelengkan kepala, menyerah. "Baiklah. Sesukamu saja."


Maria terlihat agak malu dengan kekeraskepalaannya. "Kau kan tahu aku paling benci bersentuhan dengan orang lain," ucapnya lebih lunak.

__ADS_1


Jose tahu itu. Istrinya kelihatan ramah dan manis dari luar, tapi sebenarnya sangat dingin, juga angkuh. Maria tidak suka bersentuhan dengan orang lain, terlebih kalau tidak berdarah ningrat. Jika tidak menyukai seseorang, Maria bisa benar-benar mengabaikan keberadaan orang itu seolah tidak melihatnya. Itu hal yang membuat Maria berkali-kali terlibat masalah dalam bersosialisasi. Maria selalu gagal berempati atau bersimpati pada orang-orang yang dia anggap tak berarti. Jika ada orang ditabrak di jalan dan meregang nyawa di hadapannya, Maria bisa saja mendiamkannya dan terus berjalan. Persediaan emosi Maria sangat terbatas.


"Susan sudah memeriksaku dengan detail semalam. Tidak ada luka apa pun di luar. Nafsu makanku baik, saraf-sarafku bekerja dengan semestinya. Kau juga sudah memeriksanya sendiri kan begitu aku bangun tidur?"


Ingatan Jose melayang pada rasa tubuh Maria di ranjang tadi pagi. Ia cepat-cepat mengalihkan pikiran sebelum gairah menyergap dan membutakannya. "Kalau Paman Rolan yang memeriksa, kau mau?"


Maria mengangkat bahu. "Tidak masalah. Dia kan bukan orang lain."


Jose tersenyum kecil dan kembali pada korannya. "Aku sudah menelepon ke Bjork tadi pagi, tapi George bilang, Paman sedang keluar. Kuharap dia tidak buru-buru kembali ke Orlov dan bisa mampir sebentar."


Maria mengangguk lembut. Gaunnya berdesir di atas lantai ketika berjalan menghampiri Jose. Ia duduk di lengan kursi kerja untuk melihat apa yang sedang dibaca lelaki itu. Jose membaca sangat cepat hingga kelihatannya hanya seperti membolak-balik halaman koran.


"Aku ingin memastikan," kata Maria begitu melirik nama koran yang tertera. Tangannya merayap ke bahu Jose, memijatnya ketika merasakan otot-otot di sana sedikit kaku. "Kau curiga seseorang ingin membunuh Hubbert?"


Jose mengangguk. "Dia ingin berangkat ke Nordem untuk mencari berita tentang ... Van Heiden." Ia memejamkan mata, menikmati sentuhan Maria. "Dan urusan dengan Relik Hantu ini juga melibatkan orang itu."


"Kau bisa menangkapnya langsung, kan? Interogasi dia?"


"Aku tidak mau menambah masalah dengan salah tangkap. Perlu bukti konkret kalau dia terlibat, bukan cuma sekadar dugaan. Korelasi tidak sama dengan kausasi. Lagi pula aku belum tahu motifnya."


"Seseorang ingin menjatuhkanmu," kata Maria sebal. "Mulai dari Jones dan entah siapa itu dulu sebelum pernikahan kita, lalu penghancuran turbin-turbinmu, lalu masalah dengan hantu ini."


"Soal hantu ini sudah sejak dulu ada."


"Nah, itu yang perlu diselidiki. Kalau makan korban, seharusnya kita dapat laporan. Tapi selama ini aku tidak dengar apa pun. Kau dengar sesuatu?"


Maria menggeleng. Ia melihat suaminya memejamkan mata, jadi segera menambahkan dengan menjawab, "Tidak dengar. Tapi aku memang tidak mengumpulkan informasi apa pun. Kalau kau mau, aku bisa minta Susan mencari tahu."


"Lakukan saja ... mm, lebih keras di situ ... astaga Mary, rasanya enak sekali. Aku tahu kau terampil dengan tanganmu, tapi ..."


"Tidak menyangka akan seahli ini?" Maria tertawa senang. Ia mendaratkan kecupan di ubun-ubun Jose, senang mencium aroma rambut lelaki itu. "Kau kelelahan. Pundakmu sampai kaku begini. Lehermu juga. Inilah makanya kubilang kau butuh asisten. Seorang marquis harusnya tidak ke sana-kemari mengurus segalanya sendirian."


Jose tertawa. "Seharusnya begitu. Andai orang yang kusuruh ke sana-kemari bisa dipercaya, aku pasti tidak akan pontang-panting sendiri." Ia membuka mata dan mengangkat wajah, menatap Maria lembut. "Mau pergi denganku sore nanti?"


"Kau tahu aku selalu mau," sahut Maria, mengambil kesempatan untuk mendaratkan ciuman di bibir. "Ke neraka pun asal bersamamu, aku bersedia," bisiknya, lalu kembali mencium.


"Itu ekstrem sekali," Jose berkomentar. Ia menarik Maria ke pangkuannya dalam satu gerakan, kemudian balas memagut. Tangannya mengelus paha Maria, meremasnya, sementara tangan yang lain berfungsi sebagai tempat sandaran punggungnya yang ramping. Lidah mereka bertemu dengan lembut dalam sapuan-sapuan menggoda. Keduanya saling mencuri napas satu sama lain dalam satu kompetisi lawas. Siapa pun yang berhasil membuat lawan mengerang duluan, dia yang menang. Sampai hari ini, Jose masih punya skor lebih banyak. Ia berniat mempertahankan status pemenang, meski sama sekali tidak keberatan kalau sampai kalah.


Maria sebenarnya merasa permainan itu berat sebelah karena hanya dicium saja sudah cukup untuk membuat kepalanya pening seperti mabuk berat. Tidak butuh usaha keras untuk membuatnya bersuara, berbeda dengan Jose yang bisa diam semalaman penuh tanpa bersuara sedikit pun kalau mau, seperti predator menggarap mangsa. Namun ia suka permainan kecil mereka karena rasanya selalu menyenangkan kalau berhasil membuat Jose lepas kendali. Sayangnya, kali ini ia lagi yang kalah. Maria mengerang lemah ketika Jose menjilat daun telinganya.


"Itu curang! Aku kaget," protes Maria dengan napas memburu. Kedua tangannya menahan Jose. "Coba kalau aku yang melakukannya, kau pasti juga akan berseru kaget!"

__ADS_1


"Lalu kenapa tidak kau lakukan?" balas Jose geli sambil kembali mencium, tidak memberi Maria kesempatan menjawab. Ia baru mau menggendong istrinya ke sofa dan melanjutkan di sana, tapi pintu kamar diketuk dari luar.


Jose mengangkat wajah, terengah. Maria masih bersandar di pelukannya dengan wajah merona, juga kehabisan napas.


"Tidak ada waktu bermesraan di rumah ini," gerutu Maria, memaksakan senyum.


"Nanti malam," Jose berjanji. Begitu Maria sudah selesai memastikan kerapian dirinya barulah Jose mempersilakan siapa pun yang mengetuk pintu untuk masuk.


Yang datang adalah Edwin. Pria itu menghadap untuk memberi tahu bahwa Clearwater sudah datang dan saat ini sedang menunggu di ruang tamu.


"Cepat sekali! Keretanya ditarik berapa kuda?" Jose menyumpah pelan. "Kenapa dia tidak bilang kalau sudah sampai? Aku pasti akan menjemputnya di gerbang kota!"


"Dia pasti tidak sempat, kutebak dia langsung datang ke sini terburu-buru begitu kau memanggilnya," Maria tertawa. "Aku cuma heran kenapa kita tidak dengar suara keretanya."


Jose tahu sebabnya. Saat itu fokus mereka sedang tersita untuk mendengar suara lain.


***


.


.


¬konkret: nyata/berwujud, bisa dilihat jelas


¬korelasi: hubungan


¬kausasi: keterhubungan antara sebab akibat


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


Catatan:


Untuk yang kangen Nolan, cerita khusus tentang dia aku taruh di karyakarsa supaya nggak bikin distraksi kalau ditaruh di sini. Cerita tentang Kate dan Kass juga bisa kalian temukan dalam bentuk novel di karyakarsa, begitu pula extra story dari Bloody Love. Kalian bisa cek IG @novelnarazwei atau page narazwei di FB untuk info lebih lengkap.


__ADS_2