Redstone: Sanctuary

Redstone: Sanctuary
Chapter 5: Intro


__ADS_3

Awalnya Edwin mengetuk pintu kamar Maria satu kali dan menunggu, tapi tidak ada jawaban. Bahkan ketukan kedua pun tidak juga ditanggapi. Pada ketukan sopan yang ketiga, Jose berseru dari dalam, menyuruhnya masuk.


Jose dan Maria masih duduk bersisian di belakang meja makan mungil mereka di atas karpet bulu. Keduanya tersenyum ramah, meski begitu wajah mereka agak kesal.


"Maaf karena mengganggu, Tuan, Nyonya." Edwin membungkuk dalam-dalam dan baru berani mengangkat wajahnya setelah dipersilakan. "Ada tamu yang ingin menemui Tuan."


Jika yang datang adalah orang biasa, Edwin tidak mungkin mengganggu waktunya bersama Maria. Jose menebak tamunya pagi ini pasti menarik. "Bukan Mr. Decker, kan? Dia harusnya belum sampai Redstone."


"Bukan Tuan, yang datang adalah Mr. Krücher."


Jose dan Maria bertukar pandang dalam keheranan yang sama. Jika yang datang adalah Devon, Jose bisa memakluminya.


"Maksudmu Blake Krücher dari Abysmal?" Maria memastikan.


"Benar, Nyonya. Mr. Blake Krücher bersikeras ingin menemui Tuan Jose. Dia datang bersama Miss Lucy. Katanya ada hal sangat penting yang ingin mereka tanyakan. Apakah Tuan berkenan menemui mereka?"


Jose mengangguk. "Ya, aku ingin dengar apa masalahnya. Ambilkan jas dan siapkan mantelku, Ed."


Edwin mengiyakan dan segera beranjak pergi meninggalkan kamar. Jose menoleh pada Maria dengan wajah penasaran. "Menurutmu kenapa mereka datang?"


"Mungkin dia kesal karena hampir dikerjai olehmu, jadi dia ingin mengganggu waktu kita." Maria mengedikkan bahu, merapikan kerut roknya. "Atau mereka terlibat masalah dan membutuhkan bantuanmu. Mungkin juga mereka ingin melukaimu."


Jose tersenyum kecil. "Aku cenderung percaya kemungkinan yang ketiga."


"Panggil Boris," kata Maria serius. Matanya menatap Jose lekat. "Blake tidak sepertimu yang peduli soal nyawa manusia. Dia bisa membunuh orang hanya karena sedang kesal."


"Dia cuma bocah delapan belas tahun."


"Bocah delapan belas tahun itu pemimpin Abysmal," Maria mengingatkan. "Dia membunuh semudah mengedipkan mata."

__ADS_1


"Bukan hal baru." Jose mengacak-acak rambut cokelat di sampingnya dengan sayang. "Aku dibesarkan oleh orang-orang semacam itu. Tenang saja Mary, kurasa dia memang hanya ingin bicara denganku. Berusaha melukaiku di rumahku sendiri adalah hal bodoh. Dia tidak mungkin bodoh kalau bisa membuat geng besar di umur delapan belas, kan?"


***


Meski sudah bisa menebak bahwa footman yang ditemui Devon pastilah sang marquis sendiri, Blake membayangkan Marquis Redstone sebagai pria yang lebih tua dan menyeramkan, lebih berwibawa dan perlente.


Namun yang turun menemuinya adalah orang yang benar-benar berbeda. Jose terlihat sederhana. Setelannya polos tanpa perhiasan menyilaukan. Cincin di jarinya hanya ada dua. Yang satu adalah cincin gelarnya sementara yang lain cincin kawin. Lelaki itu juga sangat muda. Blake menaksir selisih umur mereka tak lebih dari lima tahun.


Jose sendiri baru pertama kali ini bertemu dengan Blake. Seperti kabar yang beredar, pemuda itu mengenakan setelan resmi hitam-hitam seolah baru pulang dari pemakaman. Bahkan dasinya pun sehitam arang. Warna mata dan rambut mereka berdua sama-sama hitam, tapi Blake kelihatan lebih lusuh, warnanya seperti hitam pudar. Wajah pemuda itu sedingin senyumannya, tapi jabatan tangannya penuh percaya diri. Di luar dugaan, Blake Krücher bersikap sangat sopan.


"Maaf karena datang tanpa pemberitahuan sebelumnya, My Lord," Blake berkata. Suaranya dingin dan lembut, seperti dibisikkan langsung oleh kerak es. "Saya terpaksa harus mengganggu Anda karena ini berkaitan dengan nyawa seseorang."


"Tidak masalah. Duduklah Mr. Krücher, Miss Lucy." Jose mempersilakan. Ia sendiri sudah duluan duduk di depan mereka. "Aku tidak menyangka akan bertemu denganmu secepat ini. Teh atau kopi?"


"Tidak, terima kasih. Daripada teh atau kopi, kami lebih suka bertemu dengan Devon."


"Anda mengenal Devon, kan?" Blake tidak mengedip. Mata hitamnya menatap lurus, menuntut jawaban. "Rambutnya cokelat cepak. Anda bertemu dengannya di pacuan kuda. Dia salah dengar nama Anda dan memanggil Anda Sphere."


"Maaf, tapi aku baru pertama kali mendengar nama itu." Jose memberi seulas senyum menyesal. "Jadi kalian sedang mencari orang bernama Devon?"


"Apakah Anda yang menangkap Devon?"


Jose menelengkan kepala mendengar pertanyaan bernada tajam itu. "Aku tidak mengenal siapa orang yang kau maksud, Mr. Krücher. Kalau ingin membuat laporan kehilangan, aku sarankan ke kantor polisi. Aku bisa membantu membuatkanmu surat keterangan agar prosesnya dipercepat. Kapan dia hilang?"


"Jadi Anda tidak menangkap Devon?"


Jose tertawa dalam hati mendengar pertanyaan barusan. Blake cukup ahli mengubah pertanyaan untuk mendapatkan jawaban yang diinginkannya. Trik semacam itu sering digunakan oleh pamannya sehingga Jose sudah terbiasa. Ia memutuskan untuk mengikuti pola pemuda itu dan menjawab sesuai pertanyaan, "Tidak, Mr. Krücher. Aku tidak menangkapnya."


Ekspresi Blake tidak berubah, tapi perempuan di sisinya sekilas terlihat heran. Sekarang perhatian Jose berpindah penuh pada Lucy. Wajah gadis itu berbentuk hati, dengan rambut cokelat lurus yang diikat rapat ke belakang kepala. Sejak awal Lucy hanya duduk diam di sisi Blake, tapi tangannya kadang bergerak dalam gestur alami, seperti sedang gelisah.

__ADS_1


Dua orang ini cukup ahli, pikir Jose.


"Apakah Anda tahu di mana dia berada sekarang?" Blake bertanya lagi.


Jose beralih kembali pada pemuda itu. "Pertama," katanya lembut. "Bukan begitu caranya bicara dengan seorang Argent."


Baik Blake maupun Lucy mendadak merinding. Jose masih duduk dengan santai di hadapan mereka, tapi ekspresi wajahnya berubah dingin dan sorot matanya menggelap. Bersama dengan itu, rasa takut mencekam Lucy kuat-kuat seolah ia dan Blake sedang diincar bahaya. Seolah seseorang hendak membunuh mereka.


Lucy mengedarkan pandangan ke sekitar dengan kalut, tapi ia tidak melihat ada orang lain di ruangan itu.


"Kedua," sambung Jose tenang seakan tidak menyadari perubahan ekspresi kedua tamunya. "Bagaimana caramu melakukannya, Miss Lucy?"


Baik Blake maupun Lucy saling berpandangan penuh tanya.


"Apa maksud Anda?" Lucy akhirnya angkat bicara. Suaranya rendah khas alto.


Jose menunjuk jemari Lucy yang menumpuk di pangkuan gadis itu. "Kau membaca pikiranku, kan?" tanyanya. "Ah, tidak. Lebih tepatnya, kau bisa menebak apakah yang kukatakan adalah jujur atau bohong. Kau membuat gerakanmu tak kentara, tapi kulihat kau memberi tanda pada Mr. Krücher setiap kali aku selesai memberi jawaban. Karena itu dia hanya mengajukan jenis pertanyaan yang jawabannya adalah 'ya' atau 'tidak', kan? Lebih mudah mencari tahu kebenaran dari pertanyaan sederhana dengan dua pilihan jawaban."


Lucy merasa punggungnya seperti disengat listrik dingin. Ia menelan ludah, mati-matian berusaha menjaga agar ekspresinya tetap tenang.


"Anda bicara apa, Sir?" Blake menyahut sambil tertawa. Meski begitu, wajahnya sama sekali datar. "Mana bisa orang membaca pikiran?"


"Aku bisa." Mata Jose berkilat tajam. "Teman kalian yang bernama Devon menghilang. Kalian menyimpulkan bahwa aku menculiknya, tapi kalian tidak punya bukti. Karena Miss Lucy bisa membaca apakah seseorang sedang berbohong atau tidak, maka Mr. Krücher membawanya serta pagi ini untuk memastikan apakah aku memang benar menculik Devon atau tidak. Langkah selanjutnya akan dipertimbangkan sesuai hasil pertemuan kita pagi ini apakah aku memang menyekapnya atau tidak."


Lucy menganga kaget sementara Blake menyipitkan mata dengan skeptis. "Itu bukan membaca pikiran, tapi menebak."


"Aku lebih suka menyebutnya menduga, menebak kedengaran lebih asal-asalan. Dugaanku selanjutnya adalah saat ini kalian sedang terlibat dalam hal berbahaya," Jose meringis. "Apakah ada hubungannya dengan Relik Hantu?"


***

__ADS_1


__ADS_2