Redstone: Sanctuary

Redstone: Sanctuary
Chapter 12: Aperture


__ADS_3

Berdasarkan penyelidikan yang ia lakukan, Jose mengenal Blake Krücher sebagai remaja cerdas yang licik.


Di bawah kepemimpinan tuan tanah sebelumnya, geng-geng kecil menjamur karena hanya itu satu-satunya cara mendapatkan uang mudah tanpa keahlian berarti. Manusia berkelompok, saling merampok, saling membacok, hingga pembunuhan jadi hal yang terbilang wajar di Redstone. Jika ada mayat ditemukan di jalan, orang-orang akan membicarakannya, tapi mereka tidak akan heran. Geng-geng kecil tak jarang saling serang untuk memperebutkan wilayah kekuasaan.


Redstone adalah jembatan yang menghubungkan antara Nordem dengan Aston. Biasanya para saudagar Nordem lebih suka mengambil jalan memutar lewat laut untuk mengirim barang ke Aston. Memang biaya transportnya jadi mahal, tapi barang mereka aman. Namun ada juga orang-orang atau pedagang yang tak bisa menggunakan jalan laut dan terpaksa melewati Redstone. Jika beruntung dan hati-hati, mereka akan bisa sampai di Aston dengan selamat. Sisanya harus rela memilih apakah hartanya saja atau sekalian nyawanya yang diambil penyamun.


Abysmal tadinya hanya salah satu geng kecil di sudut Stonard yang merupakan wilayah terdekat dengan Aston. Namun kedatangan Blake Krücher mengubah jalan kelompok tersebut. Daripada merampok, Abysmal menjalankan jaring menyelundupkan barang dan menadah barang-barang curian yang tak bisa dijual dengan cara biasa.


Tadinya Jose heran bagaimana seorang remaja belasan tahun bisa melakukan semua itu, tapi ia mendapat jawabannya sekarang. Lucy.


***


Blake masih semuram dan sepucat terakhir Jose melihatnya, tapi kini ada cahaya di mata pemuda itu.


Cahaya yang mematikan, pikir Jose.


Jika yang datang memaksa masuk adalah orang lain, Edwin pasti akan langsung melemparnya keluar gerbang. Namun Blake Krücher adalah incaran Jose, jadi Edwin berhati-hati. Kehati-hatian kepala pelayannya itu jelas ditangkap oleh Blake, yang kemudian memanfaatkannya untuk datang tanpa undangan atau pemberitahuan sebelumnya. Pemuda itu tahu dirinya tidak akan diusir.


"Selamat sore, Sir." Blake mengangguk sebelum duduk. Ia tidak melepas topi pet hitam yang menutupi rambut hitam lurusnya. "Maaf karena datang tanpa pemberitahuan sebelumnya. Saya datang untuk menjemput Lucy."


"Tentu, kau boleh menunggu. Ms. Lucy belum selesai bicara denganku."


"Tidak, dia sudah selesai bicara," tegas Blake. "Saya yang akan mengambil alih pembicaraan ini menggantikannya."


"Apa kau menganggapnya tidak mampu bicara sendiri? Biarkan dia bicara atas namanya sendiri."


Blake menarik napas panjang. "Saya percaya Lucy bisa bicara atas kepentingannya sendiri. Yang tidak saya percayai adalah Anda," jawabnya gamblang. "Anda akan memberi Lucy janji kosong hanya agar bisa memanfaatkan kemampuannya untuk kepentingan Anda sendiri."


"Tidak juga, kemampuannya tidak terlalu berguna untukku. Biar kutunjukkan kenapa." Jose menoleh ke luar, ke arah jendela kamar yang menampilkan langit biru. "Besok mungkin ada tamu," katanya. "Bagaimana Ms. Lucy? Apa aku berbohong?"


Lucy menggeleng pelan.

__ADS_1


Jose tersenyum. "Nah, sekarang, bagaimana kalau begini: besok mungkin ada tamu."


Lucy menyentuh daun telinganya dengan satu tangan, seperti berusaha memastikan ia tidak salah dengar. Raut mukanya berubah. "Anda berbohong? Tapi bagaimana bisa? Tadi ..."


"Coba tanyakan pada Mr. Krücher kenapa aku bisa berbohong sekaligus jujur untuk satu kalimat yang sama."


Blake menatap Jose datar. "Saya ... tidak tahu."


"Aku sudah menebaknya," Jose tertawa. Kemudian ia mengulang lagi, "Aku sudah menebaknya."


Lucy membeliak kaget. "Lagi. Yang pertama benar, yang kedua bohong. Bagaimana bisa?"


Sekarang Blake mengerutkan kening, kelihatan mulai paham. "Anda memanipulasi jawaban."


"Aku memanipulasi diriku sendiri," koreksi Jose santai. "Miss Lucy hanya bisa mendengar suara denging dari orang yang berbohong—hanya selama orang itu sadar bahwa dirinya berbohong. Selama aku hanya berasumsi, Miss Lucy juga tidak akan tahu apakah itu bohong atau bukan. Jadi kemampuannya bukan hal yang terlalu istimewa, bahkan tanpa bisa mendengar kebohongan seperti Miss Lucy, aku bisa membedakannya sendiri."


Blake melirik Lucy yang tampak kecewa. Jelas bahwa tadinya gadis itu berpikir untuk menggunakan kemampuannya sebagai penawaran.


Lucy menggeleng pelan.


"Kalau begitu sekarang giliranku," sahut Blake dengan keriangan yang tawar. "Apakah jika saya menerima tawaran Anda, Anda akan membantu menemukan Devon, Sir?"


"Tawaran yang mana maksudnya, Mr. Krücher?"


"Akhir-akhir ini seseorang mengikuti saya," Blake bercerita. Wajahnya bosan. "Saya membiarkannya saja karena bukan masalah bagi saya. Tapi Devon menghilang dan Lucy dipancing untuk datang ke sini. Itu membuat saya kesal." Suara Blake merendah hingga hampir menyerupai bisikan. "Saya membunuhnya."


Jika Jose terkejut, lelaki itu tidak menunjukkannya. Sang marquis masih diam, mendengarkan dengan tenang.


"Yang menarik adalah," Blake meneruskan, "sebelum mati, dia mengakui bahwa yang menyuruhnya adalah Anda."


"Oh ya?"

__ADS_1


"Ya. Aku bisa menebak apa yang Anda inginkan, Anda bukan orang pertama yang mendekati Abysmal. Anda bukan orang pertama yang ingin bekerja dengan kami."


"Benarkah?" Jose memasang wajah tertarik. "Sayang sekali kau membunuhnya. Kau tidak bisa meyakinkan siapa pun kalau saksimu mati."


"Saya tidak butuh kesaksiannya, duh," Blake tertawa mengejek. Kepalanya ditelengkan dan matanya menatap tajam, seolah menyampaikan ancaman tanpa suara. Ia tidak butuh kesaksian siapa pun, ia akan menindak sendiri orang yang mengusiknya.


Sekarang, Jose tersenyum. "Ada beberapa hal yang salah dari ceritamu, Mr. Krücher." Ia mengangkat satu jari. "Pertama, Miss Lucy datang sendiri ke sini, aku tidak memanggilnya." Jari kedua naik. "Dua, aku tidak menyuruh siapa pun mengikutimu. Tiga, aku tidak ingin bekerja denganmu."


"Satu." Blake ikut menaikkan jarinya sesuai hitungan. "Dia memang datang sendiri ke sini, tapi Anda yang memengaruhinya. Lord Redstone, Anda tuan tanah di sini, tapi saya lebih tahu soal Redstone. Saya tahu orang-orang yang Anda gunakan untuk memanipulasi Lucy."


Dan itu salahku karena mengabaikannya, pikir Blake. Kupikir Lucy akan menunggu dengan tenang.


"Dua," ia meneruskan, "sudah saya bilang, saya tahu segalanya di Redstone. Anda membayar orang untuk memuntahkan info soal saya?" Blake mengeluarkan satu keping emas dari saku mantelnya, melempar kepingan itu ke udara dan menangkapnya kembali dalam genggaman. "Yang Anda dengar adalah info yang saya izinkan untuk disebar. Semua orang bicara atas izin saya, dan uang Anda masuk kantung saya, terima kasih banyak. Sampai hitungan keberapa tadi? Oh tiga," Blake menurunkan suaranya hingga menyerupai bisikan, "kalau mau menyingkirkan saya, Anda bisa membunuh saya dengan mudah seperti geng-geng lain yang Anda kacaukan. Tapi Anda sengaja merepotkan diri seperti ini, yang berarti tujuan Anda bukan nyawa. Anda punya istri yang cantik, jadi tidak mungkin motifnya adalah asmara. Kemungkinan terakhirnya hanya Anda ingin bekerja dengan saya, dengan kami. Abysmal memang menggiurkan."


Lucy mendengarkan semuanya dengan tenang, tapi makin lama makin marah setelah mengerti bahwa dirinya hanya dimanfaatkan untuk memancing Blake datang. Blake melihat itu. Ia cepat-cepat menangkap tangan Lucy, menggenggamnya untuk mencegah agar Lucy tidak mengamuk.


"Anda membutuhkan bantuan saya, entah untuk apa. Kami membutuhkan bantuan Anda untuk menemukan Devon. Mari kita akhiri permainan kucing-kucingan ini."


Jose masih menyandarkan pelipisnya di kepalan tangan. Sikunya menumpu pada lengan kursi. "Sejak tadi kalian bicara soal Devon dan bahwa kalian ingin aku menemukannya. Baiklah, kuakui aku memang pernah bertemu dengannya dulu, aku mengenalnya. Tapi aku tidak tahu dia di mana dan aku bukan detektif."


"Tapi Anda pernah kembali dari kematian," sahut Blake tenang. Mata hitamnya berkilat aneh. "Anda pernah berurusan dengan hal yang bukan dari dunia ini—dan Anda selamat."


Jose masih memasang wajah tenang. "Apa hubungannya?"


"Hubungannya dengan Relik Hantu." Blake menyelipkan tangan ke dalam saku dada bagian dalam jasnya, lalu mengeluarkan satu benda kecil yang muat digenggam. Benda itu adalah gelang.


Setelah memperhatikan lebih jelas, Jose bergidik.


Gelang itu dibuat dari untaian gigi manusia.


***

__ADS_1


__ADS_2