
Perpustakaan terletak di sayap timur rumah. Koleksi buku-buku Jose memenuhi ruangan dari sudut sampai sudut. Rolan sampai berpikir keponakannya ingin membuat pusat arsip sendiri di rumah ini.
Di ujung ruangan, dekat jendela yang disirami cahaya matahari, terdapat kursi malas dan balok kayu panjang yang berfungsi sebagai meja. Namun orang yang ia cari ada di sisi lain ruangan, di belakang meja kerja kaku, dengan setumpuk berkas dan satu cangkir kopi di dekatnya. Hubbert tampak tekun, tidak menyadari kehadiran mereka.
"Halo Mr. Decker," sapa Rolan.
Sang jurnalis mengangkat wajah dari buku yang dibacanya, kemudian cepat-cepat bangkit begitu melihat Jose juga ada di sana. "My lord," sapanya. Ia mengangguk pada Rolan. "Dokter Orlov. Kau datang untuk Lady Redstone?"
"Untukmu juga." Rolan menghampiri Hubbert, mengeluarkan sepucuk surat dari saku jasnya. "Lady Argent mengirim ini. Aku tidak membukanya, tapi kurasa itu berisi alamat seseorang. Kau diminta mencari suaka ke sana kalau sudah sampai di Nordem."
Hubbert menerima surat tersebut, membaca isinya, kemudian mengangguk. "Saya akan pergi nanti malam," katanya pada Jose.
"Tentu, aku bisa mengurusnya." Jose tersenyum. "Dari Nordem, kau bisa langsung kembali ke Bjork dengan kapal. Tapi tidak kusarankan. Lebih baik kembali lewat Redstone. Aku akan mengantarmu ke Aston."
"Anda terlalu baik," sahut Hubbert kaku. Ia tahu bahwa yang diinginkan Jose adalah hasil penyelidikannya. "Tanpa bermaksud tidak hormat, saya perlu menegaskan satu hal pada Anda," katanya pelan. "Saya tidak bekerja untuk Lady Argent. Apa yang akan saya temukan di Nordem tidak wajib saya sampaikan pada Anda, atau pada Marquis Argent. Lagi pula, apa yang saya cari tidak ada hubungannya dengan Anda. Sebaiknya Anda tidak ikut campur."
"Lancang sekali." Dahi Rolan berkerut mendengar ketidaksopanan itu. Ia berjalan mendekati Hubbert, menekan bahu lelaki itu ke bawah hingga Hubbert terduduk kembali ke kursinya. Wajah jurnalis itu gugup, tapi teguh.
"Kau tahu sedang bicara dengan seorang marquis, kan?" bisik Rolan dengan nada mengancam. "Bahkan meski Jose bukan seorang marquis, dia tuan rumah ini. Kau berlindung pada belas kasihnya dan makan di rumahnya. Berani benar kau minta dia tidak ikut campur. Bagaimana kalau matamu kucongkel dengan sendok? Mungkin kau bisa melihat lebih jelas setelah itu."
"Paman," tegur Jose santai. "Jangan bercanda seperti itu."
"Nah, lihat?" Rolan menaikkan sudut bibirnya dalam senyum mengejek. "Kau tahu apa yang terjadi kalau Jose tidak ikut campur? Bola matamu sudah pindah ke meja sekarang. Jadi jaga bicaramu, Decker. Jaga bicaramu."
Warna wajah Hubbert berubah-ubah dari putih pucat jadi memerah malu. "Saya adalah tamu di sini," katanya gemetar. "Saya dengar Keluarga Argent menghormati tamu mereka."
"Koreksi aku kalau aku salah," kata Rolan gusar, menolak bersilat lidah soal etika. "Yang kudengar, saat kau datang ke sini, kau melihat orang digantung di ladang. Kau melapor pada Jose. Lalu saat Jose dan kau memeriksa tempat itu, kau lagi-lagi melihat penampakan aneh. Kemudian kau membawa penampakan sialan itu ke rumah ini, dan hantu itu menyeret istrinya ke alam lain. Maria dalam bahaya menggantikanmu, dan kau bilang ini tidak ada hubungannya dengan Jose?"
__ADS_1
Hubbert hendak bangkit, tapi ia tidak bisa bergerak. Tekanan pada bahunya terlalu kuat. "Kenapa jadi aku yang salah?" tukasnya jengkel. "Apa kau pikir aku mengantongi setan dari Bjork ke Redstone? Lagi pula apa maksudmu Lady Redstone menggantikanku? Apa yang terjadi sebenarnya?"
Rolan meringis. "Menurutmu apa? Kau sendiri ingin melakukan apa di Nordem?"
"Apa hubungannya itu dengan—" Hubbert berhenti. Ia menoleh, menatap Jose yang memandanginya dari belakang Rolan. "Tunggu, tunggu, maksud Anda, saya yang diincar?"
Jose hanya tersenyum sebagai jawaban.
"Kenapa saya?"
"Semua orang tahu kau dekat dengan Jeanne Argent, 'wanita yang bisa membuat berita jadi kenyataan'," sahut Rolan. "Tidak sedikit yang mengira kau bekerja untuknya."
"Aku tidak bekerja untuk siapa pun!" Hubbert menyergah jengkel.
Kau cuma tidak sadar sedang menari di bawah iringan musik Jeanne, komentar Rolan dalam hati. "Yah, itu kan katamu. Menurut orang lain tidak begitu. Kau pergi dari Bjork ke Nordem, transit di Redstone. Sekarang kalau kau jadi orang incaranmu, melihat jurnalis yang dekat dengan Argent mengorek-ngorek soal bisnismu, padahal kau tahu Argent dekat dengan istana, apa yang akan kau lakukan? Apa yang kau pikirkan?"
Hubbert masih bingung. "Sebentar," katanya, "aku ... saya tidak mengerti. Dokter, kau menerangkan seolah aku diserang karena ada orang yang berpikir aku adalah kaki tangan Argent dan dia takut apa yang kuketahui akan diketahui Argent, yang berarti juga akan diketahui istana! Itu yang kau maksud?" Ia tertawa kering. "Kalau begitu, kenapa tidak serang saja aku dengan bandit, atau apalah. Kenapa harus di Redstone? Masa menyerang orang dengan ... dengan setan. Itu kan aneh!"
Hubbert merasa mual. Ia sering menjadi target teror karena berita-berita yang ia tulis, tapi sebelumnya tidak pernah ada yang sampai ingin membunuhnya. Apa karena ia dulu tidak dianggap berarti? Apakah sekarang ia jadi lebih berarti, suaranya jauh lebih diperhitungkan, karena ia dilihat dekat dengan Argent? Sejak kapan setiap gerakannya dihubungkan dengan keluarga itu? Hubbert tak bisa memutuskan apakah ia seharusnya senang atau jijik.
Pantas saja jadi banyak orang yang mendadak ramah dan mendekatinya. Ia jadi merasa konyol sampai tidak menyadari bagaimana orang lain memandangnya. Bertahun-tahun ia berusaha membangun citra diri yang netral. Usahanya hancur hanya karena ia dekat dengan Jeanne Argent.
"Jika ada orang yang ingin membunuh saya," Hubbert kembali pada topik semula untuk memfokuskan pikiran, "jika semua hal soal setan itu disengaja, ada dua hal yang jadi pertanyaan saya. Pertama, bagaimana cara orang itu melakukannya? Setan kan bukan hewan peliharaan yang bisa disuruh-suruh," sekarang suaranya tak yakin. Ia jadi ingat pada Sir William yang bisa mengendalikan iblis. Bagaimana kalau lagi-lagi mereka berhadapan dengan semacam solomonari? Ia jadi ngeri sendiri. "Bagaimana," lanjutnya dengan suara sumbang, "bagaimana dia bisa dengan sengaja membuat saya melihat entah apa itu lalu membuat setan itu mengikuti saya? Apa maksudnya Lady Redstone menggantikan saya? Maksudnya, dia sakit karena saya?"
"Itu dia yang ingin kucari tahu," ucap Jose tenang, masih belum mau memberi tahu Hubbert apa yang dialami Maria. Ia berjalan mendekat, mengambil tempat duduk di seberang Hubbert. "Yang jelas, ada satu hal yang bisa kita simpulkan dari kejadian ini."
Hubbert mengangguk, menangkap maksudnya. "Saya pasti tahu sesuatu yang berbahaya. Kemungkinannya adalah: seseorang menyerang saya untuk membungkam saya, karena saya tahu hal yang berbahaya baginya. Atau kemungkinan kedua: dia ingin mencegah saya ke Nordem karena di sana memang ada hal yang bahaya kalau sampai ketahuan oleh saya—atau oleh Keluarga Argent, kalau mereka anggap saya berhubungan dengan kalian."
__ADS_1
Jose mengangguk. "Senang bicara dengan orang yang cepat tanggap sepertimu," pujinya. "Nah, tidak susah kan bekerja sama?"
Rolan melepaskan tangannya dari bahu Hubbert, membuat jurnalis itu mengembuskan napas lega diam-diam. Kebrutalan Rolan sudah dikenal di seantero Bjork. Orang-orang menyebutnya dokter di depan tapi mengoloknya sebagai tukang jagal di belakang karena Rolan selalu menjadi algojo pribadi Marco.
"Kita bisa mulai dari kemungkinan pertama," Rolan berkata. Ia menarik satu bangku Ottoman ke dekat Jose dan duduk di sana. Matanya kembali pada Hubbert. "Apa pun yang kau ketahui, mungkin itu akan membantu kita mengurai apa yang sebenarnya terjadi di Redstone."
Hubbert tahu ia tidak punya pilihan. Dengan berat hati ia berkata, "Yah, sejujurnya belum banyak yang kutahu. Hanya bahwa Van Heiden punya klien di Nordem."
Rolan melirik Jose. Dilihat dari ekspresi keponakannya, nama itu jelas berarti sesuatu.
***
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
Kalian bisa support aku di karyakarsa sambil baca novel lain yang tersedia di sana. Untuk linknya bisa dicek di IG @novelnarazwei atau page FB narazwei ya 💓 update bab selanjutnya nunggu yg like, share dan komen kekumpul banyak dulu ya. 🙃