Redstone: Sanctuary

Redstone: Sanctuary
Chapter 26: Tag


__ADS_3

Ein menatap kepingan uang yang berserakan di lantai. Ia memungut satu keping emas, mengamatinya bolak-balik, menggigitnya, lalu mengangguk puas. "Bilang dari awal dong kalau kau mau bayar," katanya masam.


Blake berdiri diam memandangi lelaki itu. Kalau ia sejak awal langsung mengeluarkan emas, Ein akan jual mahal dan menguras seluruh kantongnya untuk sebuah informasi. Namun lihatlah sekarang, sedikit meja rusak, sedikit amukan, beberapa keping emas dan perunggu, semuanya sudah cukup untuk membuat Ein buka mulut.


Setelah selesai memunguti koin yang jatuh sambil terus merutuk, Ein mempersilakan Blake duduk.


"Ein." Jim kelihatan tak setuju.


"Apa?" Ein menyahut galak. "Apa, ha? Kau mau menolak uang? Kau pikir makanmu selama ini kubayar pakai upil? Sudah, keluar sana! Kalian berdua keluar!"


Baik Jim maupun Joe keluar ruangan sambil bersungut-sungut, melempar tatapan memusuhi pada Lucy yang bersandar santai di dinding dekat pintu.


"Aku serius soal satu hal, Blake," Ein melanjutkan begitu si kembar menutup pintu. "Jauhi bangsawan itu. Kau kan tahu orang-orang kelas atas itu bagaimana, mereka tengik. Dia juga. Dia cuma memanfaatkanmu."


"Semua orang merasa mereka bisa memanfaatkanku," koreksi Blake. Ia menarik satu kursi kayu yang tersedia dan duduk di depan Ein. Punggungnya dicondongkan ke depan. Ia berbisik rendah, "Eksperimen apa yang dilakukan Wilson?"


Ein mengangkat bahu. Ia mendekatkan kepalanya pada Blake dan balas berbisik, "Wilson meneliti efek reliknya sebelum menjual ke orang lain."


"Kalau dia meneliti efeknya untuk dijual, kenapa tidak dia ambil relik itu setelah anak buahku mati?"


Ein mendecak. "Kau selalu bergerak cepat, lebih cepat daripada Wilson. Sebelum dia sempat mencari siapa yang mati, kau sudah ada di sisi mayat. Bagaimana dia bisa ambil reliknya? Tapi anak buahku, anak buah orang Stonard itu ... siapa namanya? Kyle. Nah, anak buahnya, lalu orang-orang lain; Wilson sudah ada di sana sebelum mayat-mayat itu ditemukan orang lain. Tidak ada relik tertinggal."


"Kau tahu siapa pelakunya, tapi kau diam saja?"


"Aku saja baru punya kesimpulan itu sekarang, waktu kau bilang kalau anak-anak buahmu mati bawa relik! Jangan bodoh, ah! Kau kan tahu Wilson tak mungkin berani beroperasi sendiri. Mungkin yang menyuruhnya ya Tuan Heiden sendiri. Lalu menurutmu bagaimana aku harus menuntut, ha? Pada siapa? Lagi pula aku tidak punya bukti. Semua cuma dugaan, dugaan, dugaan! Nah, sana tanya cewek itu apa aku bohong atau tidak!"


Blake tidak perlu menoleh untuk memastikan. Kalau Ein bohong, Lucy pasti sudah langsung memberi tahu.


"Baik. Perubahan rencana. Kalau Wilson datang, beri tahu aku. Tapi jangan sampai dia tahu aku mencarinya. Pastikan Jim dan Joe tidak bicara pada siapa pun." Blake membentuk pistol dengan tangan kanan, menempelkan ujung-ujung jari telunjuk dan jari tengahnya di pelipisnya sendiri. "Atau, dor!"

__ADS_1


Ein menatap Blake lama, matanya serius. "Kau tembak anak-anak buahku, kau ikut mati. Sumpah, Blake, kau mati."


"Kalau sampai isi pembicaraan kita bocor, bukan cuma aku yang mati," balas Blake dingin. "Mati pun tetap kuseret kalian semua ke dasar neraka. Aku bersumpah."


***


"Perempuan yang bisa membaca pikiran?" Graham mengerutkan kening mendengar cerita Jose. "Maksudmu Lucy? Lucy dari Abysmal?"


"Kau tahu?" Jose menoleh. Mereka berjalan bersisian di jalan utama Redstone, sekilas hanya terlihat seperti dua lelaki biasa karena tidak berpakaian perlente. Graham memang biasanya lusuh sementara Jose kali ini sengaja tidak memakai jas sutera meski Edwin tampak kecewa. Dua pekerja Argent mengawal di belakang mereka.


"Aku tahu bahwa dia adalah pengawal Blake." Graham menyambar satu buah apel sambil melemparkan koin perak pada penjual. "Kenapa kau pikir dia bisa membaca pikiran?"


"Bukan membaca pikiran, dia cuma bisa membedakan mana yang jujur dan mana yang bohong," Jose mengoreksi. Ia memimpin jalan menuju kedai kopi. Kedai itu tidak terlalu penuh, tidak memiliki ruang di dalam, jadi mereka duduk di meja kayu yang digelar di pelataran jalan. Ia memilih tempat dan duduk duluan, mengangguk kecil agar yang lain juga duduk.


"Silakan, silakan, teh atau kopi?" seru si pemilik sambil berlari tergopoh ke arah mereka. Serbet kotak-kotak biru disampirkan di bahu kirinya. Ia masih membawa nampan kotor bekas tatakan gelas.


"Teh untukku," kata Jose.


"Yang lain?" si pemilik bertanya pada dua pekerja Argent.


"Kami tidak minum," Boris menjawab. Aturan nomor satu ketika mengawal tuannya adalah mereka tidak makan atau minum di luar.


"Lho, lho, kenapa? Kopi di sini paling enak. Dari Spanyol! Kalian tahu pembawa kopi paling—"


"Kami puasa," sahut Zoe cepat sebelum pria itu bicara lebih banyak. "Kami cuma menemani tuan-tuan ini saja."


"Puasa?"


"Pentakosta," Boris beralasan, "untuk memurnikan diri agar layak menyambut Roh Kudus."

__ADS_1


"Zealot." Sang pemilik kedai mengangguk-angguk maklum, kemudian pergi setelah berteriak, "Teh satu, kopi satu!" pada anak lelakinya di dalam rumah.


Jose melanjutkan pembicaraannya dengan Graham begitu minuman mereka datang, "Jika orang ingin mengorek-ngorek kebenaran, mereka akan bertanya agak lama. Biasanya dimulai dari hal-hal umum, untuk mendapatkan profil kebenaran dari gerak-gerik yang ditanya. Kemudian setelah dia tahu bagaimana gerak-gerikku saat berkata jujur, barulah dia akan masuk ke pokok pertanyaan. Tapi Blake langsung bertanya ke inti masalah, dan pertanyaannya adalah jenis yang jawabannya hanya "ya" atau "tidak". Itu berarti dia bisa menebak mana yang benar hanya berdasar jawaban buntu semacam itu."


"Itu menarik," Graham meringis. "Kenapa kau menebak Lucy pelakunya, bukan Blake? Kan dia yang bertanya padamu?"


"Miss Lucy membuat tanda yang sama," terang Jose. "Setiap aku berkata jujur, dia mengedip lembut, bahkan meski Blake tidak melihat. Kurasa itu kebiasaan. Setiap aku sengaja berbohong, dia akan bergerak sedikit meski tak mencolok. Membenahi rambutnya, menggerakkan jari kelingking, minum teh. Jelas dia memberi tanda. Sisanya, aku hanya menebak berdasar intuisi."


Graham menyisir rambut cokelat kusutnya dengan ujung jari, tidak meragukan insting Jose sama sekali. Ia menyilangkan tangan di atas meja dan merendahkan suaranya, "Redstone, Istrimu masuk ke alam lain karena kau membawa hantu gentayangan pulang. Tapi bagaimana dengan wartawan yang ikut ke sana bersamamu? Dia tidak ikut pergi ke alam lain?"


Jose menghela napas. "Untuk itulah aku mengajakmu bertemu, Graham," balasnya lirih. "Mr. Decker meninggal pagi ini."


Graham membeliak kaget.


"Mayatnya sudah dikuburkan." Jose mengangguk pelan. "Kami melakukan pemakamannya diam-diam untuk mencegah kebisingan. Aku ingin tahu ada berapa orang yang tewas di Redstone setiap harinya, aku ingin tahu penyebab kematian mereka. Lakukan penyelidikanmu diam-diam."


Graham mengedarkan pandangannya ke sekeliling, kemudian berbisik lirih, "Apa yang kau curigai, Redstone?"


"Arwah penasaran berkeliaran jelas di kota ini. Harusnya ada orang lain lagi yang melihat sesuatu di ladang, bukan cuma Mr. Decker. Dan jika melihat hantu atau arwah akan membuat orang itu mati, harusnya ada lebih banyak korban lagi." Jose menggeleng pelan. "Tak ada laporan masuk padaku. Bahkan soal hantu-hantu pun tidak ada, artinya ada yang sengaja menutupi hal ini dariku."


Brooks? Graham menebak. Ia tidak mengutarakan nama itu, hanya mengangguk pelan. Jika Jose sudah meminta, ia hanya bisa mematuhi.


Sang marquis pernah menyelamatkan keluarganya sepuluh tahun lalu. Graham berhutang nyawa. Ia senang akhirnya bisa membalas budi lelaki itu di Redstone.


***


¬Pentakosta: hari raya orang Kristiani, memperingati kedatangan Roh Kudus 50 hari setelah Paskah.


¬Zealot: fanatik/militan.

__ADS_1


Options terbit dalam bentuk novel di karyakarsa. Kalian bisa cek infonya serta info update Redstone lebih cepat di IG @novelnarazwei dan FB narazwei


__ADS_2