
Suara tercekik itu muncul lagi, kedengaran lebih jauh daripada suara sebelumnya, tapi juga jadi lebih jelas. Jose merapatkan kerah mantel untuk menghalau angin. Suhu udara turun begitu cepat, sendi-sendi tulangnya jadi kaku. Sinar senter berkeredep seperti kehabisan daya.
"Boris," panggil Jose riang. Ia menoleh ke arah pekerjanya untuk memberi instruksi, tapi matanya malah menangkap hal lain.
Sebuah bayangan.
Perempuan itu hitam. Benar-benar hitam. Jose tahu bahwa yang dilihatnya adalah perempuan karena sosok itu mengenakan rok terusan panjang. Cara jalannya begitu aneh, seperti daun ditiup angin. Bergoyang ke sini, bergoyang ke sana. Semua dilakukan tanpa suara.
"Eh, jangan menoleh!" cegah Jose cepat ketika Blake dan Boris sama-sama ingin berbalik untuk melihat ada apa di belakang mereka. Bulu kuduknya merinding. "Perubahan rencana, saudara-saudara. Boris, kau ke arah kanan sementara Mr. Krücher ke kiri. Aku tidak ingin dibantah, Mr. Krücher," katanya cepat begitu Blake hendak membuka mulut. Matanya menyipit, berusaha menatap sosok gelap di depannya lebih jelas. "Ada bekas galian tanah. Atau timbunan tanah. Kalian akan menemukannya kalau melihat rumpun gandum yang rusak. Begitu menemukannya, cari tali gantungan. Cepat! Harusnya ada di sekitar sini."
Jose memberi perintah dengan suara ceria seakan sedang menerangkan hal paling menyenangkan di dunia ini, tapi Blake bisa melihat wajah lelaki itu memucat, jadi ia menebak ini hal serius. Apa pun yang mereka cari jelas ada hubungannya dengan rasa dingin yang menyergap barusan. Ia ingin menoleh ke belakang, tapi bisa menguasai diri.
Dengan patuh, Blake dan Boris segera mengerjakan apa yang diminta.
"Nah," Jose menghela napas lega. Ia berjalan mundur dengan hati-hati agar tidak jatuh. Matanya masih menatap ke depan, ke arah bayangan aneh yang mengembang-kempis seakan bernapas. "Apa kau yang memanggilku sejak tadi?" bisiknya lirih. Isi perutnya terasa seperti diremas-remas. "Kau ... meniru suara istriku?"
Sosok itu mendekat. Bersamaan dengan kedatangannya, hawa dingin menelusup lewat sela-sela rumpun gandum dan pemandangan di sekitar Jose mulai berubah warna, menghilang. Angin bertiup kencang dari arah pegunungan batu, membuat mantelnya berkelepak liar ke samping menampar betis. Serpihan gandum kering menampar pipi, sekilas kelihatan seperti kulit yang terkoyak.
Ilusi, pikir Jose dengan tangan di atas kepala, menahan agar topi petnya tidak terbang. Tapi dia cuma menyerangku?
Napasnya makin beruap putih. Sebentar saja diam, Jose yakin ia akan berubah jadi patung es.
"Halo, Boris!" panggilnya penuh nada. Rasa takut akan memperburuk suasana, jadi ia berusaha sekeras mungkin tetap tenang, menahan agar giginya tidak bergemeletuk saat bicara. "Mr. Krücher! Apa kalian masih mencari?"
"Masih, Tuan!" seru Boris tergesa. Blake tidak menjawab. Kedua orang itu sepertinya tidak terpengaruh serangan hawa dingin maupun ilusi.
Sayup-sayup, Jose mendengar suara pintu mobil berdebam samar. Weston sudah sampai automobil. Devon sudah aman.
__ADS_1
Tapi dirinya sendiri belum aman. Jose bisa memecahkan ilusi yang hendak melingkupinya dengan memanggil Boris barusan, tapi trik itu jelas tidak akan mempan lagi. Sepertinya sosok di depannya mulai marah jika ditilik dari suara tercekiknya yang makin jauh. Rasanya seseorang seperti sedang berjuang mencari napas, tersiksa.
Jose bisa merasakannya. Wanita itu ketakutan, panik, ingin lepas. Rasa sakit menyerang lehernya, langsung ke kepala, ke pangkal hidung. Tidak bisa bernapas rasanya sangat menyakitkan. Tubuhnya terlalu ringan, membuatnya tersiksa lebih lama dalam jerat tali yang mengiris kulit.
Jose cepat-cepat menarik napas panjang, mencegah dirinya terisap dalam fragmen ingatan. Matanya panas dan basah karena tidak mengedip. Kini suara-suara menyiksa yang didengarnya makin lirih.
Makin jauh suara hantu, biasanya berarti makin dekat hantu tersebut. Begitulah mitos di Redstone. Yang di depannya saat ini jelas hantu. Hantu yang marah.
Jose masih beringsut mundur, matanya tak lepas dari sosok yang bergerak seperti layang-layang. Bayangan itu makin besar.
"Apa ini yang kau cari?" Blake berseru dari kiri. Pemuda itu bangkit dan mengangkat satu tangan, menampakkan siluet tali tambang keropos.
"Bagus!" Jose berseru lega.
Ups, pikirnya menyesal. Ia mengalihkan mata dari bayangan itu. Sebuah kesalahan.
***
Maria berjalan memimpin jalan melintasi halaman. Pintu rumah tidak terkunci. Ia membukanya perlahan, mengintip dari celah pintu, kemudian berjingkat masuk tanpa suara. Devon mengikuti di belakang.
"Dengar," bisik Maria sambil menggeret Devon melipir ke tembok, menyaru dengan bayang-bayang gelap. Tempat ini masih sama dengan terakhir Maria meninggalkannya: dingin, dengan warna sepia mengisi ruangan, seolah mereka berada dalam foto tua. "Aku lihat bayangan aneh dari luar tadi."
"Bayangan apa?" Devon mengedarkan pandangan ke sekitar dengan wajah berkeriyut cemas. "Kenapa rumahmu mengerikan, sih?"
"Ini bukan rumahku, cuma mirip!" desis Maria. "Ada bayangan di kamarku. Mungkin makhluk yang mengejarku ada di sana."
"Info menarik. Jadi sekarang kita keluar lagi?"
__ADS_1
"Tentu saja tidak!" Maria menyilangkan lengan di depan dada untuk menghangatkan diri. Telapak kakinya sakit dan lututnya gemetar kedinginan. Ia benar-benar merindukan kamarnya yang hangat. "Aku cuma bilang agar kau berhati-hati. Masalahnya, kamar di mana relik itu berada letaknya di sebelah kamarku."
Devon mengerang pelan. "Kenapa sih kau tadi keluar dari rumah ini tanpa bawa-bawa reliknya?"
"Aku akan mendorongmu nanti kalau makhluk itu datang," kata Maria tenang. "Biar kulihat apa kau bisa berpikir jernih kalau dikejar yang seperti itu."
Keseriusan pada nada suaranya justru membuat Devon terkekeh, dan suara tawa lelaki itu menenangkan Maria, mengingatkannya bahwa ia tidak sendirian di tempat ini.
"Baiklah, My Lady. Devon ini akan jadi tameng hidupmu," katanya. "Apa kalian menyebutnya? Squire? Knight?"
"Knight." Maria mengangguk, kembali memimpin jalan menuju lantai dua. Lantai terasa sedingin es hingga malah jadi panas menusuk. Maria menggigit bibir, menabahkan diri sendiri agar tidak menjerit sakit. Ia akan mengeluh kalau sudah sampai rumahnya yang sebenarnya. Ia akan mengeluh di depan Jose, bukan lelaki lain.
Maria berhenti berjalan begitu mereka sampai pada koridor panjang yang mengarah pada jajaran kamar utama. Ia menarik napas pelan-pelan. Ujung-ujung jari kakinya melengkung, mencengkeram lantai es. "Kamarku di sana," bisiknya lembut. "Yang pintunya bergagang emas. Di sebelahnya ada kamar lain yang lebih kecil untuk dayangku. Aku ingat mereka menyimpan toplesnya di sana."
Tidak ada tanggapan.
Maria menoleh. Di sisinya hanya ada jambangan bunga berisi mawar. Warnanya kecokelatan karena pengaruh warna pada rumah ini. "Mr. Devon?" panggilnya pelan. Ia memutar tubuh, melongok ke luar koridor. Yang ada hanya hamparan karpet sedingin es dengan dinding-dinding yang diam.
Devon sudah lenyap. Bahkan suara napasnya pun hilang.
"Ke mana dia?" Maria menoleh ke segala arah. Tempat ini familiar, tapi membuatnya takut. Rasa dingin merambati punggungnya perlahan, membuatnya bergidik, mengingatkannya segera tentang toples garam di kamar.
Ingat prioritasmu! Maria menegur dirinya sendiri.
Ia harus mendapatkan Relik Hantu dulu, baru setelah itu mencari Devon. Maria membulatkan tekad.
***
__ADS_1