
"Membuat orang jatuh cinta, mencelakai orang, membuat kaya?" Maria mengulang keterangan itu dengan heran. Ia mengamati Relik Hantu di tangannya, memperhatikan rangkaian gigi-gigi geraham yang dipernis hingga mengilap. "Bisa seperti itu ya?"
"Mungkin itu seperti batu-batu permata," kata Jose sambil memperhatikan langkah Maria, berjaga-jaga kalau istrinya tersandung karena tidak melihat jalan. "Menurut legenda ada yang bertuah, tapi yang lebih terkenal adalah yang terkutuk seperti Berlian Hope."
Maria tahu cerita mengenai permata tersebut. Ia mengangkat Relik Hantu sebatas bahu. "Kalau yang ini kesaktiannya apa?"
"Katanya mengundang energi positif." Jose merangkul Maria ketika menuruni tangga menuju lantai satu. Kedua tamunya sudah lama pulang, tapi Blake meninggalkan gelang gigi tersebut sebagai 'kenang-kenangan' kerja sama mereka. "Kurasa yang seperti itu justru akan mengundang hantu."
"Yah, itu masuk akal. Bayangkan saja kalau gigimu dicabuti dan dibikin jadi gelang setelah kau mati. Kalau aku yang dibegitukan sih, aku jelas akan gentayangan."
"Gentayangan mencari gigi kedengaran konyol."
Maria tergelak renyah. Ia mengembalikan Relik Hantu tadi pada Jose. "Kau mau membawanya atau tinggalkan di rumah?"
"Simpan di laci kamar kerja atau pakai saja kalau kau suka."
"Hmm orang lain membelikan gelang emas sebagai hadiah untuk istri mereka. Sayangku yang manis memberi gigi manusia."
Giliran Jose yang tertawa. Mereka sudah sampai di ruang utama di lantai satu, di mana Boris dan Weston sedang menunggu dengan setelan luar mereka.
"Aku sudah memanggil Luke untuk datang. Paling cepat, dia akan sampai dua hari lagi." Jose meraih satu tangan Maria, menautkan jemari mereka. "Sebelum dia datang, aku hanya akan berkeliaran di Redstone. Jadi tidak perlu cemas. Kalau ada apa-apa, aku pasti segera datang."
"Kau cuma membawa Weston dan Boris?"
"Mereka sudah cukup."
Maria sebenarnya ingin protes, tapi ia tahu Jose lebih suka bergerak dengan sedikit orang. "Baiklah," katanya dengan lagak menyerah. Sorot matanya melembut. "Semoga jalanmu diperluas, Sayang."
"Dan semoga rumah yang kutinggalkan diberkati," sahut Jose sambil menundukkan kepala, mencium istrinya.
***
"Tuan tidak bilang pada Nyonya?" tanya Weston selagi mereka menunggu Boris mengambil automobil. Lelaki itu hanya lebih tua beberapa tahun daripada Jose, tapi ia sudah melayani Keluarga Argent sejak masih berumur tujuh tahun. "Maksud saya, bahwa kita akan memeriksa ladang?"
__ADS_1
"Dan membuatnya cemas? Untuk apa?" Jose merapatkan mantel. Sekarang sudah memasuki bulan Juni, tapi cuaca di Redstone memang selalu dingin dan berangin, bahkan lebih dingin daripada Bjork Selatan. "Lagi pula dilihat dari wajahnya, Mary sudah bisa menebak aku akan ke mana."
Weston sebenarnya ingin bertanya lebih lanjut mengenai kenapa Jose memutuskan pergi di malam hari. Namun ia menahan dirinya tepat sebelum pertanyaan itu sempat meluncur. Meski Jose bersikap ramah dan tak berjarak, tetap saja lelaki itu adalah majikan, bukan temannya. Ia harus terus-terusan mengingatkan diri agar tidak kelepasan melewati batasan. Disiplin adalah hal utama bagi para pelayan.
"Itu Boris," katanya begitu lampu automobil menerangi jalan. Ia membukakan pintu depan untuk Jose, kemudian segera masuk ke kompartemen belakang.
Dalam sekejap, kendaraan sudah berjalan mulus memintasi halaman manor.
"Nanti berhenti sebentar di luar gerbang." Jose menunjuk. "Kita akan membawa satu orang lagi."
"Tentu, Tuan." Boris mengangguk tegas. Mengikuti perintah Jose, ia melambatkan jalan dan berhenti begitu berada di luar batas manor.
Weston menebak orang yang akan bergabung dengan mereka adalah Brooks. Ia menggeser sedikit tubuhnya untuk memberi tempat bagi inspektur polisi tersebut.
Sebelum mobil benar-benar berhenti, pintu belakang dibuka dan seseorang menyelinap masuk dengan halus.
Weston segera tahu tebakannya salah. Brooks tidak pernah datang dengan luwes atau lembut. Begitu mobil kembali berjalan, orang keempat sudah bergabung dengan mereka di kompartemen belakang.
Seorang pemuda bersetelan hitam-hitam seperti baru saja pulang dari pemakaman
"Selamat datang, Mr. Krücher," Jose menyambut ramah. Rambut hitamnya bergerak liar dari sela topi pet hitam, berkibar kena angin malam. "Senang melihatmu malam ini. Yang di sampingmu adalah Weston dan yang sedang menyetir adalah Boris. Boris, Weston, teman baru kita adalah Blake Krücher. Kalian pasti pernah mendengar namanya."
Weston memang mengenal nama itu. Pemuda keji yang membunuh teman-temannya sendiri.
***
"Ambilkan setoples garam, Sue," pinta Maria begitu sampai di kamarnya. "Setoples penuh garam murni."
Susan memerintah dayang lain sementara ia sendiri menuang teh panas untuk Maria. "Nyonya ingin menggunakannya untuk apa?"
"Merendam relik ini, tentunya." Ada sesuatu yang membuat Maria merasa tidak nyaman memandangi kumpulan gigi tersebut dan ia tidak mau mengambil risiko. "Katanya fungsi relik ini adalah mengundang energi positif, tapi aku sudah kapok berurusan dengan segala macam hal mistis. Mau positif atau negatif, sebaiknya tidak ada yang datang ke rumah ini."
"Tuan tidak keberatan?"
__ADS_1
"Aku cuma merendamnya dalam garam." Maria mengangkat bahu. "Jose tidak akan marah karena hal begini."
Itu memang benar. Susan mengangguk pelan dalam persetujuan. Ia ikut mendekati meja di ruang duduk, mengamati gelang bulat kaku tersebut. Ia tidak merasakan firasat apa pun.
"Kenapa Nyonya tidak bilang pada Tuan kalau benda ini terasa aneh?"
"Karena kupikir tadi cuma perasaanku saja. Tapi setelah Jose pergi, benda ini rasanya makin ... janggal."
"Janggal?"
Maria mengusap kedua lengannya. "Seperti melihat sekop berlumpur di kamar tidur atau kertas-kertas surat di kamar mandi ... seperti itu, tapi lebih ekstrem." Ia berhenti sejenak untuk menoleh ke belakang punggung, tapi hanya ada foto pernikahannya tergantung di dinding. "Seperti melihat sesuatu yang tidak seharusnya ada di sini," bisiknya lirih.
Susan menatap Maria dengan cemas. Ia tahu apa saja yang telah dialami keluarga ini sebelum pindah ke Redstone. Maria jadi lebih sensitif pada hal-hal berbau supernatural sejak kejadian di Bjork. Namun tuan putrinya itu biasanya tidak mengeluh. Jika Maria sampai merasa tak nyaman dan menyuarakannya seperti ini, Susan khawatir memang akan ada hal buruk terjadi.
"Bagaimana kalau kita kirim pesan pada Tuan?" usulnya. "Tuan pasti tahu apa yang harus dilakukan."
"Jangan ..." Maria menggeleng. Ia mengempaskan tubuh di sofa dan menyesap teh panasnya. "Masa memanggilnya kembali hanya untuk hal remeh yang tak jelas." Ia menopang kepalanya di atas punggung tangan, kembali menjatuhkan pandangan pada Relik Hantu di meja. "Untuk sementara, cukup masukkan ke dalam toples garam lalu ikat rapat dengan kawat besi. Aku akan mengawasinya, jadi biarkan saja benda ini di kamar."
"Jangan," Susan berkata tegas. "Saya sarankan, biar benda ini dijaga pekerja."
"Jose menitipkan—"
"Nyonya," Susan menyela dengan berani. Ia menatap Maria lekat dan tegas. "Nyonya adalah orang paling penting di rumah ini selain Tuan. Yang paling penting adalah keselamatan Nyonya! Kalau Nyonya tidak mau memanggil Tuan, setidaknya biarkan para pekerja melakukan tugas mereka. Kalau tidak ada apa-apa terjadi, maka puji Tuhan. Syukurlah. Namun bagaimana kalau perasaan Nyonya benar dan ada yang tidak beres? Bagaimana kami harus memandang Tuan nanti? Bagaimana perasaan Tuan kalau pulang dan mendapati Nyonya terluka?"
Maria membeku di tempat selama beberapa detik, lalu tertawa pelan. Ia sudah sangat jarang dimarahi oleh Susan hingga peristiwa ini justru membuatnya geli.
"Nyonya?" protes Susan.
"Baik, baik, kita panggil pekerja." Maria menghela napas. Senyumnya terbit begitu manis. "Jarang sekali melihatmu marah begini, aku jadi kangen. Dulu kau selalu marah dan mengomel tiap kali aku pulang dengan sepatu berlumpur."
Susan ikut tersenyum. "Maafkan saya karena sudah lancang," tuturnya.
"Tidak, Sue. Kau memang harus menegurku seperti itu kalau menurutmu aku salah." Maria mengangkat wajah begitu mendengar bunyi ketukan pintu. "Itu toplesnya. Ambil sana, lalu panggil Edwin. Biar dia yang memilih pekerja."
__ADS_1
***
¬ Berlian Hope: Le Bijou du Roi (rajanya intan) disebut-sebut sebagai berlian yang menghancurkan hidup para pemiliknya. Sepuluh kali berpindah tangan, sepuluh kali itu juga korban jatuh dari pihak pemilik berlian.