
Meski pernah diselamatkan oleh Jose sebelumnya, Hubbert Decker tidak terlalu akrab dengan lelaki muda itu. Namun mudah baginya menebak bahwa undangan untuk menginap di manor Redstone jelas punya motif selain keramahan. Semua orang tahu seorang Argent tidak pernah melakukan sesuatu secara cuma-cuma.
Hubbert tiba di manor Redstone satu jam sebelum makan siang. Manor tersebut lebih mirip istana dibanding rumah, bahkan lebih besar daripada manor Argent di Bjork. Jarak dari gerbang utama ke depan rumah cukup jauh, dengan taman-taman hias yang indah dipenuhi bunga tulip merah bertebaran. Bagian depan rumah disangga tiang-tiang marmer yang lebar, dengan pintu-pintu perunggu raksasa berornamen lambang singa Redstone.
Seorang pria berpenampilan seperti kepala pelayan menyambutnya di depan pintu, memperkenalkan diri bernama Edwin—tebakan Hubbert benar, pria itu memang kepala pelayan—dan membimbingnya ke ruang tamu. Barang-barangnya dibawakan oleh pelayan lain ke kamarnya di lantai dua.
Di ruang tamu, pasangan suami-istri Redstone sudah menunggunya. Meski sudah melihatnya ketika masuk, tadinya Hubbert mengira kedua orang itu semacam patung atau lukisan—sampai Jose tersenyum padanya dan mendekat dengan tangan terulur untuk bersalaman.
"Selamat datang Mr. Decker! Bagaimana perjalananmu?"
"Lancar, my lord," Hubbert berkata kikuk. Ia mengangguk canggung pada Maria yang berdiri di samping Jose. Wanita itu secantik kabarnya, meski bukan tipe yang disukai Hubbert. "Selamat siang, my lady. Terima kasih sudah mengundang saya."
"Tidak perlu terlalu formal," sahut Maria ramah. Tangannya mengibas santai. "Kita belum pernah bertemu, tapi Jose pernah bercerita tentangmu. Aku juga sering membaca tulisanmu."
Hubbert tersenyum sopan dan mengucapkan terima kasih, tahu bahwa itu hanya basa-basi. Ia ragu Maria benar-benar membaca artikelnya di Daily Bjork.
"Kau pasti lelah habis berjalan jauh." Jose menoleh, memanggil Edwin mendekat hanya dengan satu kedikan kepala. "Kamarmu sudah disiapkan, Edwin akan mengantarmu. Kalau ada hal-hal yang kau butuhkan, bilang saja padaku."
Hubbert menoleh pada Edwin yang memberinya gestur siap membimbing jalan. Ia sudah hendak mengikuti pria itu, tapi lalu berpaling kembali pada Jose. "Sebenarnya, saya ingin menanyakan sesuatu selagi masih ingat."
Jose mengangguk. Matanya menatap penasaran. "Silakan."
Hubbert mengusap belakang lehernya dengan tak nyaman. "Apakah Anda mengizinkan hukuman gantung dilakukan di Redstone?"
Jose menggeleng heran. "Tidak."
Hukum diatur oleh istana, tapi beberapa wilayah yang diberi hak otonomi seperti Bjork atau Redstone memang bisa saja memiliki hukum sendiri, karena itulah Hubbert bertanya.
"Tapi apakah hal semacam itu memang kadang terjadi?" Hubbert berusaha memastikan. Ia tahu ada beberapa tempat liar yang membiarkan saja masyarakatnya menggantung orang lain, terutama budak, meski jelas-jelas dilarang oleh hukum.
__ADS_1
"Hukuman yang diberlakukan di sini adalah kurungan penjara," terang Jose. "Hukuman terberatnya sendiri masih sama dengan aturan dari Aston: hukuman penggal. Redstone ada di yurisdiksi Algojo Hedley sebagai eksekutor, tapi sejauh ini tidak ada kasus berat hingga aku perlu memanggilnya." Seiring tiap kata, ekspresi Jose berubah makin serius. "Kenapa, Mr. Decker? Kau melihat seseorang digantung?"
Hubbert mengangguk kaku. "Di ladang gandum Jalan Emas. Mereka menggantung seseorang—budak, sepertinya. Ada banyak orang yang menonton. Saya datang dengan taksi, tapi supir melewatinya begitu saja seolah itu adalah hal biasa ... jadi saya pikir ..."
"Kau yakin? Mungkin mereka sedang melakukan hal lain dan kau hanya salah lihat?"
"Apakah setelah peristiwa setahun lalu, Anda mengira saya akan gagal mengenali mayat?" Hubbert meringis teringat mayat-mayat berjalan di Bjork.
"Edwin, hubungi Inspektur Brooks, minta dia untuk bersiap dan menemuiku di ujung Jalan Utama. Dan Mr. Decker," Jose menatap kembali pada jurnalis itu. "Maaf mengganggu waktu istirahatmu, tapi coba ceritakan lagi lebih lengkap apa yang kau lihat dan di mana, sekalian jalan ke sana."
Hubbert mengangguk. "Jika Anda tidak keberatan, saya ingin mengambil kamera dari tas."
Jose tidak keberatan. Ia meminta pelayan mengantar Hubbert ke kamarnya untuk mengambil apa yang diperlukan. Selagi keluar dari ruang tamu, Hubbert mendengar Jose bicara dengan Maria, tapi suaranya tidak bisa ditangkap dengan jelas.
***
"Aku juga tidak pernah dengar. Kalau Hubbert bilang dia melihat orang ditembak di tengah jalan, nah itu baru aku percaya."
"Tapi kau memanggil Brooks?"
"Tentu saja. Akan gawat jadinya kalau Hubbert tidak salah lihat, kan?" Jose tersenyum kecil melihat ekspresi Maria. Perempuan lain akan ketakutan mendengar mayat dan darah, tapi istrinya justru menyimak dengan penuh perhatian. "Kau mau ikut?"
"Dan membuat semua lelaki yang bersamamu kikuk dengan kehadiranku?" Maria terkekeh. "Tidak, terima kasih, mereka akan terpaksa menjaga sopan santun di depanku, tidak bisa mengumpat atau merokok seenaknya, jadi mereka tidak akan suka. Aku di rumah saja, menunggumu bercerita saat pulang."
Soal menjaga sopan santun tentu saja benar. Sang ratu memberi aturan sangat ketat soal etiket publik, terutama berkaitan dengan perempuan. Kebanyakan orang mematuhinya.
"Padahal biar saja mereka bersikap kikuk," kata Jose. Masih sambil bergandengan tangan, keduanya melangkah keluar menuju ruang utama. "Omong-omong, aku jadi ingat dulu di Redstone memang hukuman gantung cukup umum."
"Dulu kapan?"
__ADS_1
"Seabad lalu, kurasa," Jose mengingat-ingat. "Aku sendiri hanya dengar dari Graham ketika dia mengoceh soal bobroknya kota ini. Redstone jauh lebih tertinggal dan miskin dari sekarang. Satu-satunya hiburan rakyat adalah melihat algojo menyiksa penjahat atau melihat hukuman gantung dilakukan. Saking miskinnya, mereka bahkan mengemis atau merampok sisa mayat untuk dimakan."
"Itu mengerikan," komentar Maria datar. Emosinya memang hanya terbatas untuk orang-orang yang disukainya saja. Ia tahu jika suatu peristiwa adalah menyedihkan atau menyenangkan, tapi jika tidak berhubungan dengannya secara pribadi, Maria tidak bisa merasa ikut senang atau sedih. Karena keanehannya inilah pertunangannya dulu beberapa kali gagal, hal yang kini justru disyukuri Maria karena ia jadi bisa bersama dengan Jose. Mereka berkawan sejak kecil dan Jose tidak pernah menganggapnya aneh.
"Mau tahu yang lebih mengerikan lagi?"
"Tidak," sahut Maria, tahu Jose tetap akan meneruskan ceritanya.
"Tempat hukuman itu dilakukan adalah di ladang gandum Jalan Emas."
Maria berhenti dan menoleh pada Jose. "Di ladang gandum yang sama dengan yang dimaksud Hubbert?"
"Ladang gandum yang sama." Jose mengangguk, mengajaknya kembali melangkah. "Dulu tempat itu cuma tanah tandus. Eksekusi dilakukan di sana supaya praktis. Algojo datang dari Aston, jadi mereka mencari tempat sedekat mungkin dengan Aston supaya algojo bisa cepat datang atau pergi. Karena eksekusi adalah hiburan rakyat, jadi diperlukan tempat luas yang bisa memuat banyak orang berjubelan."
"Lalu alasan orang-orang itu menggantung manusia di tempat yang sama adalah untuk menjaga tradisi?" Maria tak mengerti.
"Kita akan tahu nanti ..." Jose menghentikan langkah ketika sampai di tengah ruang utama. Ia menoleh ke arah tangga yang menuju lantai dua, pada Hubbert yang berhati-hati menuruni undakan sambil membawa tas kameranya. Pria itu tidak melihat mereka karena terlalu fokus pada anak tangga. "... kalau yang dilihat Hubbert memang benar."
"Maksudmu?" Maria curiga mendengar pilihan kata Jose, tapi lelaki itu tidak menanggapi.
"Mungkin aku akan makan siang di luar," kata Jose beberapa saat kemudian. Jarak antara manornya dengan ladang gandum di tepi perbatasan makan waktu empat puluh lima menit jika naik otomobil, jadi tidak mungkin ia bisa pulang tepat waktu untuk makan siang. Namun Jose ingat ia sudah meninggalkan Maria terlalu lama. Akhir-akhir ini mereka jarang makan bersama. Bahkan tadi pagi kemesraan mereka diinterupsi Blake. "Atau kami bisa pergi setelah makan siang saja," ralatnya.
Maria mendesah lembut dengan lagak menyerah. Ia menggeleng-gelengkan kepala, membuat rambut cokelatnya ikut berkibas ringan di punggung. "Jangan memaksakan diri, Jose. Kau ingin cepat-cepat memeriksa ke sana, kan? Kalau yang dilihat Hubbert benar, siapa tahu kau akan sempat menangkap orang-orang yang main hakim sendiri. Begitu kan? Kau pikir berapa lama aku mengenalmu, hm?"
Mau tak mau, Jose tersenyum senang mendengar ketepatan Maria membacanya.
***
¬hak otonomi: hak istimewa suatu wilayah untuk bebas mengatur sendiri pemerintahan daerahnya lepas dari pusat sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Kalau di Indonesia, contohnya adalah DIY dan DIA.
__ADS_1