Redstone: Sanctuary

Redstone: Sanctuary
Chapter 23: Unveiled


__ADS_3

Devon bangkit berdiri begitu melihat kedatangan Maria. Perempuan itu tidak mengenakan jubah tidur pink panjang semata kaki, melainkan gaun terusan pastel polos. Rambut cokelatnya dijalin ke belakang, ditahan dengan sirkam hias. Namun Devon tahu bahwa ia tidak salah, itu memang perempuan yang ia lihat di Redstone yang lain.


"My lady," sapanya canggung. "A-aku senang kau selamat. Eh, emm ... maaf karena pergi tiba-tiba."


Maria tersenyum sopan. "Aku juga senang kau selamat, Mr. Devon. Berkat kau, Jose bisa datang tepat waktu."


Devon melirik Jose yang berdiri di sebelah Maria. "My lord," sapanya. Perasaannya campur aduk antara malu, jengkel, juga lega. Blake benar, selama ini ia salah dengar. Nama panggilan lelaki itu bukan Sphere tapi Spare. Yang selama ini dikiranya pelayan justru adalah tuan tanah di Redstone. Ia tahu bahwa Jose Argent memang masih muda, tapi tidak menyangka umur mereka tidak jauh beda.


Dan istrinya cantik! Devon mengumpat dalam hati. Di ruangan seterang ini, Maria jauh lebih bening daripada yang ia ingat. Namun Devon lebih suka melihat perempuan pemberani di Redstone yang lain dibanding seorang nyonya yang sopan seperti ini. Rasanya ia jatuh hati.


Jose mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan. "Di mana Mr. Krücher?"


"Oh ... Blake ... eh, dia ada urusan. Dia mau memberi tahu Lucy bahwa aku sudah kembali. Lucy itu adikku," terang Devon. "Blake minta maaf karena harus pergi mendadak, tapi dia ... dia memang begitu. Maksudku, dia sibuk. Dia menyesal tidak bisa tinggal lebih lama."


Baik Jose maupun Maria terkekeh pelan, keduanya terlihat geli.


"Mr. Krücher sesopan itu?" Jose tertawa.


"Tidak perlu pura-pura gugup Mr. Devon," giliran Maria yang bicara. "Mr. Devon yang kutahu adalah orang yang tetap tenang meski tersesat di alam lain sendirian. Kenapa perlu berakting gagap seperti ini?"


Pipi Devon memanas. Ia menghela napas, menyadari tidak mungkin menipu pasangan di depannya. Saat tertangkap oleh pemangsa, binatang kecil akan pura-pura mati atau menunjukkan perut untuk menunjukkan bahwa mereka tidak berbahaya, bahwa dirinya sebaiknya ditinggalkan. Menggunakan prinsip yang sama, Devon selalu membuat sikapnya jadi kelihatan bodoh dan tak berbahaya saat tertangkap. Biasanya itu membantunya lolos. Sekarang jelas tidak.


"Blake memang ada keperluan," jelasnya. "Dan kau ternyata bukan footman."


"Aku tidak pernah bilang aku footman," kilah Jose.


Devon ingin mendebat, tapi ia sendiri tidak ingat apakah Jose pernah bilang bahwa dirinya seorang pelayan. "Dulu kau pernah bilang kalau kau pekerja!"


"Kapan?"


"Pertama kali kita bertemu." Devon menatap Jose dengan kritis, menyesal kenapa ia tidak pernah sadar lelaki itu terlalu rapi dan bersih bahkan untuk ukuran pelayan bangsawan. Setelannya selalu halus tanpa noda. "Dulu kau tidak serapi ini."


"Dua tahun lalu? Seingatku, kubilang aku pesuruh." Jose memastikan. "Pamanku menjadikan aku pengantar pesan dan aku menghabiskan seharian berlari ke sana-kemari melakukan pekerjaan pelayan. Aku memang pesuruh waktu itu."


Devon mendecak. Ia menatap Jose lama, kemudian akhirnya tertawa. "Baiklah, aku yang salah. Siapa sangka orang yang berlarian denganku di atap kota dan mencuri buah di pasar ternyata seorang tuan muda!"


Jose ikut tertawa. Ia mendekati Devon dan memeluknya hangat, menepuk-nepuk punggung lelaki itu penuh persahabatan. "Terima kasih sudah membantu Maria," katanya tulus. "Kau bisa minta apa pun, aku akan mengabulkannya."


Kalau aku minta istrimu, kau pasti membunuhku. Devon meringis. Ia balas menepuk Jose. "Kau juga menemukanku, jadi kita impas. Tapi kalau bisa, aku ingin cerita lengkap apa yang terjadi."


Jose mengangguk, mempersilakannya duduk. Ia sendiri mengambil tempat di seberang Devon, duduk bersisian dengan istrinya.


"Bagaimana kondisimu? Kau yakin tidak perlu dipanggilkan dokter?" tanya Maria.


Devon menggeleng tegas. "Aku hanya lapar dan kedinginan tadi, tapi di sini ada wiski enak." Ia menunjuk gelas di meja dan mendecak puas. Itu bukan lager murah seperti yang biasa ia minum di kedai Todd. "Dan aku juga sudah makan."


"Masih sekuat dulu ya," Jose terkekeh. "Aku ingat bagaimana kau muncul berdarah-darah dan masih saja bisa kabur dari kejaran orang-orang pasar."


"Wah, kau memang suka mengungkit hal memalukan. Eh, apa aku harus menggunakan bahasa sopan denganmu sekarang?" Devon bertanya ragu. Orang di depannya masih berwajah Sphere yang dikenalnya, tapi kini ia merasakan hal yang berbeda. Aura yang berbeda. Mungkin karena bajunya beda, pikirnya.


"Senyamanmu saja, aku tidak keberatan kau bersikap seperti biasa." Jose tidak pernah mempermasalahkan hal semacam itu. "Omong-omong, apa Mr. Krücher bilang ia akan pergi ke mana?"


"Tidak." Blake bukan jenis orang yang biasa mengatakan ke mana ia akan pergi. Devon yakin bahwa jika bisa, pemuda itu juga akan menguburkan jenazahnya sendiri saat mati. "Dia cuma bilang kalau ini urusanmu, jadi dia mau melakukan hal lain."


"Urusanku?" Jose tak mengerti. "Apanya?"


"Yah ... urusan dengan hantu ini ...," Devon berkata hati-hati. "Katanya, pasti karena itu kau diberikan wilayah ini. Untuk mengurus hantunya. Dia hanya bisa mengurus soal manusia, jadi dia pergi."

__ADS_1


Jose diam.


Maria menatap keduanya bergantian, kemudian membelokkan topik, "Mr. Devon, apa kau tahu kenapa kau bisa terdampar di Redstone yang lain?"


"Devon saja, my lady," sahut Devon cepat, "jika kau tidak keberatan. Aku tidak tahu apa sebabnya bisa terdampar ... tapi awal mulanya adalah saat kereta yang dibilang Sphere, maksudku Jose, lewat. Kau tidak keberatan aku memanggil namamu, kan? Tidak? Terima kasih. Sampai mana tadi? Oh, ya. Aku melihatnya dari tepi ladang. Lalu aku mendengar suara."


"Suara?"


"Ya, seseorang memanggilku. Awalnya kupikir suara Lucy. Tapi Lucy terlalu jauh. Lalu aku melihat ... eh, orang. Orang banyak." Devon membayangkan apa yang ia alami kemarin lusa. "Ada banyak yang berkumpul di situ, tapi aku tidak merasa aneh. Padahal sebelumnya tidak ada siapa-siapa, tapi aku merasa orang-orang itu wajar saja ada di sana. Mereka berkerumun, jadi aku juga tertarik melihat apa yang terjadi." Ia diam sejenak untuk menoleh ke sekeliling, merasa tak nyaman. "Lalu aku melihatnya ... ada perempuan ... digantung."


Keheningan melingkupi ruangan itu. Untuk beberapa saat hanya ada suara gemerisik kain ketika Devon merapatkan mantel pinjamannya dari Weston.


"Dia kelihatan menderita ... tubuhnya kurus, terlalu ringan, karena itu ... mungkin karena itu, dia tidak segera mati," suara Devon melirih. "Mata kami bertatapan, lalu begitu aku sadar ... aku sudah tidak berada lagi di Redstone. Semuanya gelap dan dingin. Tempat itu masih sama, segalanya sama dengan Redstone yang kuingat, tapi ... aku segera tahu bahwa aku berada di tempat lain."


"Gadis itu namanya Cory," ucap Jose. "Selain kau, ada juga orang-orang yang pernah mendapat ilusi yang sama. Karena itu aku mencari tahu daftar nama orang-orang yang tercatat sebagai kriminal dan digantung. Namanya Cory, dia membunuh pria yang mencoba menyerangnya di jalan."


"Itu pembelaan diri, kan?" tanya Maria. Nada suaranya tak senang.


Jose mengangguk. "Kejadiannya tahun 1880an. Tidak ada penyelidikan dilakukan, Cory dibawa langsung ke pengadilan dan semua juri meminta hukuman mati. Sore itu, di hari yang sama, dia digantung. Umurnya masih empat belas tahun."


Devon menganga. "Bagaimana kau tahu semua itu?"


"Aku punya caraku sendiri," sahut Jose pendek. "Mr. Krücher bilang kau membawa Relik Hantu, apa itu benar?"


Devon mengangguk. "Aku bawa amulet. Itu ada hubungannya?"


"Tidak tahu," Jose menjawab jujur. "Seharian kau berada di dunia lain tapi begitu bangun kau bisa langsung bergerak selincah kelinci. Itu aneh. Mungkin saja amuletmu melindungi." Ia menoleh pada Maria. "Kau mendadak berada di dunia lain begitu bertemu dengan penampakan, sama seperti Devon. Kalian langsung terdampar begitu mengalami hal yang sama. Jadi kurasa pemicunya adalah interaksi dengan ...," ia mencari kata yang tepat, tapi pada akhirnya berkata, "... makhluk itu."


"Begini," sela Devon. "Sebelum aku, sudah beberapa kali orang melihat penampakan, tapi mereka baik-baik saja tuh. Tidak ada yang aneh."


"Blake?" Devon setengah tak percaya.


"Yah, urusan yang dia lakukan hingga langsung pergi tanpa berpamitan langsung pasti ada hubungannya dengan ini." Jose kelihatan yakin. "Aku tak sabar menunggu laporannya. Untuk sementara, kalau kau mau, kau bisa menginap di sini dulu."


"Untuk apa?" Devon tidak mau. Ia menatap Maria sekilas, yang memberinya senyum sopan sebagai refleks. "Tidak, aku mau pulang. Lucy pasti mencemaskanku."


Jose tidak mencegahnya, tapi ia memaksa Devon pulang dengan dikawal pekerja. Devon tidak menolak, tapi ia enggan naik mobil. Akhirnya, Boris mengantar Devon pulang dengan berjalan kaki.


"Bagaimana dia bisa tetap setenang itu padahal baru saja kembali dari dunia lain?" komentar Jose heran begitu mereka tinggal berdua saja. Ia menoleh pada Maria, yang masih duduk di ruang tamu. "Kau juga."


"Semuanya terasa seperti mimpi buruk saja," jawab Maria ringan. "Begitu bangun dan melihat semua hal baik-baik saja, aku tidak takut lagi. Mungkin dia juga begitu. Kau sendiri juga tetap tenang kan dulu, bahkan meski bolak-balik ke dunia orang mati?"


"Memang ... tapi waktu itu aku tidak sempat memikirkan apa pun karena ada masalah lain yang lebih berat. Paman Marco menghilang."


"Mungkin Devon juga sedang memikirkan hal lain yang berat."


"Bisa jadi." Jose memandangi cangkir tehnya yang dingin di atas meja. Ia belum sempat minum. "Kupikir kau ingin menanyakan sesuatu padanya, tapi kau diam saja."


Maria mengangkat bahu. "Dia kelihatannya tidak lebih tahu daripada kau. Lagi pula ..."


"Lagi pula?"


"Lagi pula kalau aku bicara dengannya lebih banyak lagi, kau akan cemburu."


Jose tertawa hambar. "Kenapa aku harus cemburu?"


"Aku salah?" Maria tertawa renyah. "Kau menatap Devon seperti ingin memakannya hidup-hidup."

__ADS_1


Jose bangkit berdiri, menarik serta Maria bersamanya. Ia mencium lekat bibir merah itu, bertanya-tanya sendiri kenapa selama ini sanggup melewatkan hari tanpa menyentuhnya. "Aku tidak cemburu," bisiknya tegas begitu wajah mereka berpisah. "Kau sebaiknya tidur. Sekarang sudah larut."


Maria membenturkan keningnya ke kening Jose, menggesekkan pipi mereka dengan lembut."Kau yakin aku tidak akan kembali ke sana lagi saat tidur?"


"Aku akan menemanimu, tentu saja. Kurasa sebaiknya kita tidur di kamar yang sama mulai sekarang."


"Ide bagus! Aku suka kamarmu, jadi kita tidur di sana."


"Tentu." Jose berpikir untuk membobol dinding kamarnya dan membuat pintu baru yang akan menghubungkan kamar mereka berdua agar praktis. Awalnya ketika mereka pindah ke Redstone, Jose ingin mereka tidur di kamar yang sama. Namun Maria menolak dengan alasan tidak ingin Jose melihatnya saat sedang merias diri atau berbenah. Bahkan meski Jose meyakinkan bahwa bukan masalah baginya melihat sisi mana pun dari Maria, istrinya hanya berkata bahwa perempuan perlu privasi.


Namun biasanya Maria pindah ke kamar Jose dan tidur di sana setiap kali lelaki itu tidak pulang.


Sambil merangkul Maria naik ke lantai dua, pikirannya melayang kembali pada ucapan Devon tadi.


Katanya, pasti karena itu kau diberikan wilayah ini. Untuk mengurus hantunya. Dia hanya bisa mengurus soal manusia, jadi dia pergi.


Itu masuk akal. Dalam surat cinta pertama yang datang padanya, sang ratu jelas-jelas berkata bahwa yang menarik minatnya adalah kemampuan Jose menyelesaikan masalah di Bjork. Keajaibannya.


Selama ini Jose berpikir bahwa yang dituntut darinya adalah hal yang sama dengan yang diminta dari Marco. Ia pikir Redstone diserahkan padanya agar ia bisa membangunnya jadi lebih baik, seperti Bjork yang berubah jadi lebih beradab. Karena itu setahun belakangan ia membanting tulang membangun sana dan sini.


Namun bagaimana kalau ia salah? Bagaimana kalau Blake yang benar?


Ratu pasti tahu kondisi Redstone. Mungkinkah sang ratu juga tahu ada masalah supernatural yang perlu diatasi di tempat ini? Mungkin karena itulah semua laporan yang ia kirim ke istana selama ini tetap selalu mendapat balasan yang sama: pertanyaan seberapa jauh perkembangan di Redstone.


Jika memang yang dituntut darinya bukanlah mengatasi segala korupsi dan sistem bobrok di Redstone, pantas saja semua laporannya tidak dibaca. Tidak mungkin baginya mengubah Redstone dalam waktu tiga bulan, tapi lain cerita kalau yang diminta adalah mengatasi masalah Relik Hantu dan penampakan yang menjamur. Mungkin saja ia tidak akan bisa langsung memecahkan masalahnya, tapi setidaknya akan ada sesuatu yang bisa ia laporkan.


Jose membulatkan tekad. Ia akan bertaruh di sini.


Sudah kuduga Blake memang berguna, pikirnya puas.


***


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Bab kali ini lebih panjang dari biasa untuk kalian yang masih kasih support 😘 sekarang aku jadi jarang balesin komen satu-satu, tapi semua komentar kalian kubaca kok. Makasih untuk dukungan koin dan komen-komennya.

__ADS_1


__ADS_2