
"Jadi," kata Jose akhirnya setelah Maria diam agak lama. "Bagaimana pendapatmu?"
Mereka berdua ada di atas ranjang, duduk berhadapan, dengan begitu banyak kliping dan arsip bertebaran di atas seprai.
"Aku tetap pada pendapatku semula," sahut Maria sambil membetulkan ikatan rambutnya di belakang kepala. "Brooks mencurigakan. Aku tidak percaya dia."
"Tapi sarannya wajar. Kalau ada setan, maka diusir saja. Dia hanya mencemaskanku." Jose menekuri satu buku kliping dan membolak-balik isinya.
"Redstone punya pengalaman buruk dengan eksorsis." Maria menggeser satu guntingan artikel lawas dan meletakkannya ke pangkuan Jose. Artikel itu berisi potongan berita mengenai perburuan penyihir empat puluh tahun lalu. "Eksorsis justru dianggap penyihir, banyak dari mereka yang diburu untuk dibunuh. Kalau kau malah memanggil eksorsis untuk mengusir sesuatu yang tadinya cuma diketahui sebagai mitos belaka, kau akan memberi kepastian dua hal pada semua orang: satu, hantu yang tadinya hanya sebatas rumor memang ada dan nyata. Dua, kau akan dianggap kafir. Infidel. Pagan."
"Perburuan penyihir itu sudah lama, Mary. Lagi pula kalau aku memanggil pastor untuk melakukan eksorsisme, bagaimana mungkin aku malah jadi infidel atau pagan?"
"Mungkin saja." Maria mengedikkan bahu, yang malah membuat lengan kamisolnya melorot jatuh, mengekspos kulit putih halusnya yang tak berbercak. "Masyarakat hanya melihat apa yang ingin mereka lihat. Masalahnya, lebih dari setengah isi Redstone membencimu. Sisanya tak peduli kau siapa. Brooks harusnya memikirkan itu waktu memberimu saran! Kalau kau sampai salah melangkah, semuanya bisa rusak."
Jose membetulkan letak kamisol Maria, mengambil kesempatan untuk mendaratkan satu ciuman di leher jenjang itu ketika mencondongkan tubuh, lalu kembali menatap kliping di pangkuannya. "Aku masih berpendapat Brooks cuma tergesa saja memberi saran, bukan berarti dia mencurigakan. Tapi kau benar soal eksorsis itu. Aku tidak akan memanggil siapa pun sampai jelas apa yang sedang kita hadapi."
"Jelas hantu, kan?"
"Yah, hantu kan tidak tiba-tiba muncul. Selalu ada sebabnya," Jose berpikir. "Sebelumnya tidak ada hal semacam ini. Aku berkali-kali lewat Jalan Emas tapi tidak pernah melihat manusia dengan muka penuh tali atau dihantam angin aneh. Pasti ada pemicunya."
"Jangan-jangan Hubbert pemicunya? Mungkin dia menyinggung sesuatu atau melakukan hal-hal aneh." Maria merapikan tiap berkas yang tersebar, mata birunya sebentar-sebentar menatap Jose, memandangi rambut hitam berantakan itu, juga pada tubuh yang kekar meski terlihat ramping dari luar. Mereka berdebat panjang tadi siang mengenai Brooks, yang berubah jadi pertandingan mencari data pendukung dari kliping serta arsip lama, perdebatan itu berujung pada cumbuan melanjutkan kemesraan mereka tadi pagi.
"Hubbert? Kalau dari ceritanya, dia tidak melakukan apa pun yang bisa memicu sesuatu." Jose yakin wartawan itu tidak melakukan hal bodoh. "Aku akan coba bicara dengan Graham. Mungkin dia tahu sesuatu soal angin dan mitos hantu di sini."
__ADS_1
Maria menaikkan kedua alisnya dengan heran. "Benar juga. Kenapa tidak dari tadi panggil dia?"
"Karena jarang-jarang kita berdebat panjang," Jose tertawa. Senyumnya tersimpul hangat. "Aku ingin menikmatinya lebih lama. Dulu hampir setiap hari kita berdebat di pinggir danau."
"Aku akan mendebatmu tiap hari kalau kau segitu kangennya," sahut Maria geli. Pipinya merona kemerahan karena senang. Ia beringsut mendekat, menyandarkan tubuhnya ke pelukan Jose, menikmati hawa panas yang menjalar padanya. Yang ia inginkan cuma agar saat-saat damai ini berlangsung lebih lama. Ia tidak ingin ada hal yang mengganggu.
Brooks, pikir Maria sambil memejamkan mata, meletakkan keningnya di lekuk leher Jose, aku akan mengawasimu.
***
Lucy datang kembali ke manor Redstone ketika matahari tenggelam. Penjaga gerbang menyambutnya dengan sopan dan memanggil pelayan lain untuk mengantarnya masuk.
Dalam waktu singkat ia sudah berada di lantai dua, di sebuah ruangan hangat yang dindingnya dipenuhi rak buku. Pada ujung ruangan terdapat meja kerja besar yang makan separuh tempat sementara pada separuh awal ruangan berjajar kursi-kursi empuk yang mengelilingi meja marmer rendah. Di atas meja tersaji teh panas dan kue-kue kering.
Marquis Redstone ada di salah satu kursi, tersenyum ramah padanya dan mempersilakannya duduk. "Silakan, Miss Lucy. Kuharap tidak ada hal buruk terjadi sampai kau perlu datang lagi."
"Oh, kau mengakuinya?" Jose tertawa. "Kupikir kau akan menyangkal. Itu ... memang benar? Bagaimana caranya?"
Lucy menceritakan kemampuannya, tentang bagaimana ia akan mendengar denging samar di telinga jika seseorang berbohong.
Jose mendengarkannya dengan tenang, lalu mengangguk. "Baiklah, aku mengerti," katanya, tidak ada kebohongan dalam suaranya. "Lalu bagaimana, Miss Lucy? Kurasa kau datang bukan untuk menerangkan apa kemampuanmu."
Lucy mengangguk. "Saya tahu bahwa Anda mengenal Devon. Saya ... saya juga yakin bahwa Anda bisa membantu saya menemukannya. Dia hilang setelah kereta Anda lewat!"
__ADS_1
Jose menaikkan sebelah alis. "Kereta?"
Blake akan marah, Lucy tahu itu. Namun ia bersedia menerima kemarahan Blake nanti, setelah kakaknya kembali. Lucy mengarang cerita baru, "Devon cerita bahwa ... umm ... temannya bilang ... kereta Anda akan lewat membawa mm dukat emas. Lalu kami ingin melihatnya, maksudku, aku, eh, saya dan Devon. Kereta itu lewat, lalu kami pulang. Saya duluan. Lalu waktu saya menoleh, dia su-sudah hi-hilang. Saya tidak bisa menemukannya."
Jose mengulurkan sapu tangan padanya. Lucy menerima dengan malu dan mengusap sudut-sudut matanya yang basah. "Saya sudah coba tanya banyak orang, tapi tidak ada yang melihatnya. Dan saya ... saya merasa dia benar-benar hilang, bukan pergi."
"Lapor polisi," sahut Jose kalem. "Aku akan membuatkan surat pengantar untukmu, kalau itu yang kau butuhkan."
"Polisi tidak akan membantu!" bentak Lucy. Gadis itu mengerjap pelan, seperti menyadari bahwa ia barusan sudah kelewatan. "Polisi ... tidak akan bisa ..."
"Kalau polisi tidak bisa, kenapa menurutmu aku bisa membantu?" Jose tertawa. "Apa kau pikir pekerjaanku adalah mencari orang?"
Lucy menggigit bibir. Tangannya mencengkeram lutut, berusaha menguatkan diri. "Anda ... Anda Tuan Jose Argent," katanya lirih. "Orang bilang, Anda kembali dari kematian dan bisa membangkitkan orang mati."
"Itu cuma gosip," suara Jose tegas, tapi Lucy mendengar suara yang membuat jantungnya hampir berhenti berdetak. Ia mendengar denging panjang di telinganya.
"Huh?" Lucy terperangah kaget. Ia bahkan hampir meloncat lari. "Itu memang benar? Jadi Anda ... Anda memang undead?"
Jose menatapnya tenang. "Miss Lucy," panggilnya sopan. Belum sempat ia melanjutkan bicara, pintu kamar sudah diketuk dari luar.
Yang datang adalah Edwin. Pria itu meminta maaf dengan sangat pada Jose karena sudah mengganggu, lalu menyampaikan, "Mister Krücher memaksa masuk. Apakah Tuan bersedia menemuinya atau sebaiknya saya panggil Boris?"
***
__ADS_1
¬Infidel: tak bertuhan. Kata yang (dulu) digunakan untuk mencela/merendahkan orang yang beragama lain.
¬Pagan: istilah yang digunakan oleh orang-orang Kristiani sekitar abad keempat untuk menyebut orang-orang yang percaya pada dewa-dewi.