Redstone: Sanctuary

Redstone: Sanctuary
Chapter 10: Threads


__ADS_3

Semua orang bicara berebutan. Maria benar-benar perlu berusaha keras untuk mencerna apa yang sedang dibicarakan. Baik Jose, Brooks, maupun Hubbert bicara pada satu sama lain, saling menimpali, mereka seolah hanya mengobrol bertiga saja, tapi setiap kali selesai bicara, para lelaki itu selalu memperhatikan reaksi Maria seolah menunggu persetujuannya untuk melanjutkan cerita.


Mungkin mereka merasa tenang karena aku 'orang luar', pikir Maria maklum. Jadi mereka merasa dibebaskan dari pengalaman buruk tadi.


Mereka sudah selesai makan. Brooks pamit ke balkon untuk merokok. Hubbert meneguk teh panas dari tempatnya, masih belum mau menceritakan apa yang dilihatnya tadi sebelum kembali ke mobil. Jose dan Maria ada di seberangnya, duduk bersisian di sofa panjang yang sama.


"Aku juga pernah dengan rumor soal hantu di sana," Maria mengingat-ingat. "Tapi selama ini aku belum pernah melihat hal yang aneh meski bolak-balik lewat Jalan Emas. Kau pernah?"


Jose menggeleng. "Waktu instalasi turbin juga tidak ada masalah apa pun."


"Ladang gandum itu milik siapa?" tanya Hubbert tiba-tiba. Raut wajahnya kini sudah lebih tenang.


"Milik Redstone," Jose menjawab. "Gandum yang tumbuh di situ gandum liar, sudah dicemari belukar parasit. Yang diserang parasitnya adalah akar gandum, jadi bulir-bulirnya akan terasa pahit."


Brooks berjalan kembali ke ruang tamu begitu mendengar pembicaraan dimulai. "Angin yang tadi aneh. Jelas-jelas seperti menyerang kita. Apa yang kau lihat sebenarnya, Mr. Decker?"


Hubbert tadinya merasa takut, tapi setelah segalanya berlalu, ia malah jadi bersemangat. "Saya ingat kalau saya melihat gambaran orang yang digantung itu pada permulaan ladang, jadi saya mau memeriksa jejak kaki atau semacamnya. Tiang gantungan dan orang sebanyak itu pasti meninggalkan jejak, kan? Tapi waktu saya menyibak tanaman belukar, saya melihat hal yang sangat aneh."


Brooks mengempaskan tubuh ke salah satu sofa, ikut menyimak dengan wajah penasaran. "Apa itu?"


"Seseorang." Hubbert bergidik. Mengingat apa yang dilihatnya barusan masih terasa menyeramkan. "Awalnya saya mengira itu manusia. Dia berbaring di tanah, setengah tubuh bagian bawahnya tertutup semak belukar. Saya hanya ingat melihat bagian torso dan wajah."


"Manusia mati?" tanya Brooks.

__ADS_1


"Kau lihat wajahnya?" timpal Jose.


"Ini yang mengerikan, Sir." Wajah Hubbert mengerut, terpilin dalam ekspresi ngeri ketika menyampaikan, "Wajah itu ... aneh, penuh dengan garis-garis hitam aneh ..., tapi garis itu bukan cat, seperti benang-benang tebal atau tumpukan tali merekat di muka." Hubert membuat gerakan mencakar muka karena merasa jijik, seakan ingin melepas sesuatu yang menempel di wajah. "Rasanya seperti melihat foto seseorang yang dicoret-coret dengan pena hitam. Seperti itu. Tapi kali ini saya melihatnya dalam wujud langsung. Rasanya ... tak nyata. Itu bukan manusia."


Keheningan melingkupi ruangan. Detak jarum jam memenuhi udara, membuat suasana makin mencekam. Brooks mendadak teringat pada siluet aneh yang melambai padanya dan ia jadi menggigil. Namun itu mungkin hanya salah lihat. Matanya kemasukan debu dan ia salah lihat, mungkin saja.


"Saat melihat itu, saya segera tahu bahwa saya melihat hal yang ... yang bukan dari dunia ini." Hubbert menatap Jose lurus-lurus. "Anda tahu kan maksud saya? Saya merasakan hal yang sama dengan waktu saya keluar dari hutan lindung Bjork. Waktu saja melihat Anda dan Dokter Orlov."


Brooks mengerutkan kening mendengar referensi itu. "Ada apa di hutan Bjork?" tanyanya.


Hubbert hanya tersenyum ganjil, lalu meneruskan ceritanya, "Makanya saya segera kembali ke mobil. Perasaan saya tidak enak dan rasanya saya mau muntah. Dalam perjalanan kembali pun saya merasa begitu, benak saya masih dibayangi bentuk aneh itu. Wajahnya yang rata tapi tak bisa dilihat ... lalu saya mendengar suara Lady Redstone dan ... yah, itu menyadarkan saya bahwa kita sudah jauh dari ladang."


Maria menanggapi dengan tangkas, "Syukurlah kalian kembali dengan selamat, hanya itu yang penting. Keputusan bagus, Mr. Decker," pujinya. "Andai kau tidak segera memutuskan untuk kembali, entah bagaimana kalian sekarang."


Hubbert menunduk dengan wajah sedikit merah.


Pasangan Redstone jarang memanggilnya dengan nama depan. Jose dan Maria berasal dari Bjork yang mengadopsi tata aturan istana dengan ketat: hanya memanggil nama depan seseorang jika diizinkan atau sangat akrab dengan orang itu. Brooks tahu Maria memanggilnya begitu untuk memberi tanda bahwa tempat ini seaman rumahnya sendiri. Ia menghargai usaha itu.


"Mungkin aku cuma kelilipan," katanya sambil mengusap rahang, "tapi mungkin juga tidak. Aku melihat bayangan melambai dari jauh, tapi itu saja."


"Bayangan manusia?" Jose memastikan. "Kau lihat wajahnya?"


Brooks mengangkat bahu. "Mungkin manusia. Terlalu jauh untuk melihat wajahnya. Kurasa perempuan, mungkin juga laki-laki yang mengenakan mantel panjang. Jujur saja, sekarang aku sudah tidak terlalu ingat. Mungkin itu cuma bayangan pohon atau efek panas."

__ADS_1


Jose tidak setuju. "Aku ingin memeriksa ke sana lagi," katanya. Begitu Brooks dan Hubbert memelototinya, ia segera menambahkan, "dengan lebih banyak orang, tentunya."


"Ini pertama kalinya aku melihat tuan tanah mengurus masalah hantu," desah Brooks. "Orang akan mengejekmu, Jose. Seolah tidak ada hal lain yang lebih penting saja."


"Ini penting." Jose tersenyum. "Itu tanahku. Aku ingin memasang banyak turbin di sana. Kalau ada hantu mengganggu tamu-tamu yang masuk ke Redstone atau mengganggu pekerja, itu akan menghambat pembangunan."


"Tapi tidak perlu kau sendiri yang turun langsung," sergah Brooks. Ia dan Jose sudah saling kenal sejak lama, sejak Jose masih menjadi anak keempat yang punya dua hektar peternakan di Redstone alih-alih tuan tanah. "Ini ... bahaya."


"Bahaya?" Jose menaikkan sebelah alis. "Kau sepertinya tahu sesuatu?"


Brooks mendengus. "Orang mati itu bahaya. Kita panggil saja pastor lalu minta dia sucikan ladangnya. Lalukan eksorsisme. Tempat itu dulunya makam masal korban perang. Jelas banyak arwah penasaran di sana."


Jose hanya tertawa. "Kalau bicara soal perang, seluruh tanah di Albion ini adalah kuburan. Tapi baiklah, kita coba cari eksarsis dulu."


Brooks mengangguk puas. "Itu lebih bagus!"


Brooks pergi setelah membuat Jose berjanji untuk tidak pergi sendirian ke ladang gandum di luar gerbang kota sementara Hubbert kembali ke kamarnya untuk istirahat.


Begitu mereka hanya berdua saja, Maria baru ingat satu hal. "Tadi ada yang datang mencarimu sebelum jam makan siang," katanya, menjajari langkah Jose menuju kamar. "Dia ingin bicara denganmu secara pribadi, jadi aku memintanya datang lagi nanti sore atau besok."


Jose tidak ingat membuat janji temu dengan siapa pun hari ini. "Siapa? Mr. Krücher?"


Maria menggeleng. Senyum di bibir merah itu tampak semanis madu. "Ms. Lucy."

__ADS_1


***


¬Eksorsisme: pengusir setan dengan upacara tertentu.


__ADS_2