Redstone: Sanctuary

Redstone: Sanctuary
Chapter 21: Disarray


__ADS_3

Hal pertama yang tidak boleh dilakukan jika secara tak sengaja bertatapan dengan hantu adalah melepas kontak mata sembarangan. Jose mengetahui itu dari Graham.


Graham adalah salah satu informannya di Redstone. Untuk beberapa keping emas, pria itu akan membantunya mencari tahu banyak hal. Begitu Jose memberi tahu soal rencana kunjungannya ke ladang gandum malam ini, Graham memberinya beberapa saran.


Satu, jika mendengar bunyi-bunyi aneh dari kejauhan, segera berlindung atau pergi. Menurut mitos di Redstone, semakin dekat bahaya maka makin jauh suara yang ditimbulkan bahaya tersebut.


Dua, tetap tenang. Rasa takut memiliki aroma yang bisa dicium oleh segala yang jahat.


Tiga, jika tak sengaja bertatapan dengan makhluk dunia lain, jangan lepas kontak mata.


Begitu menyadari bahwa ia sudah melanggar nasihat ketiga, Jose cepat-cepat mengembalikan pandangan ke depan. Namun bayangan itu sudah lenyap, hanya ada ujung-ujung gandum yang bergoyang ribut karena angin. Blake berjalan mendekatinya, begitu juga dengan Boris. Langkah mereka stagnan, tidak tergesa. Jelas keduanya tidak melihat apa pun yang barusan melayang-layang di atas ladang gandum.


"Ini diapakan?" tanya Blake dari jauh. Tangannya masih menggenggam tali tambang lapuk.


"Bakar!" seru Jose. Ia menyapukan pandangan ke sekitar dengan gelisah. Keringat dingin mengaliri punggungnya dari balik pakaian. Tangannya mencengkeram senter erat-erat. Benda itu sudah mati, padahal baru tadi siang dibeli. "Boris bawa minyak dan korek. Bakar sampai habis!"


"Jahat," seseorang berbisik di telinga kiri Jose, membuatnya meloncat kaget ke kanan.


Namun yang ada di sampingnya hanya udara kosong.


Jauh di depannya, Boris sudah membakar tali yang dibawa oleh Blake. Jose segera berlari menghampiri, ikut memandangi bagaimana semburat-semburat cokelat itu gosong menjadi abu.


"Apa yang kita lakukan sebenarnya?" Blake bertanya. Wajah pemuda itu gusar, tapi ada penerimaan di sana. Meski tidak melihat apa yang dihadapi Jose barusan, ia bisa merasakan kegentingan situasinya. Ia juga merasakan perbedaan suasana antara sebelum dan sesudah tali tersebut dibakar.


"Aku akan menjelaskannya sambil jalan," Jose berjanji. "Tapi sebaiknya kita kembali dulu. Bawa Devon ke dokter."


"Sepertinya tidak perlu, Tuan," Boris berkata. Matanya menatap ke arah mobil mereka terparkir.


Jose ikut menoleh, sekarang terheran-heran melihat Devon—kini memakai mantel Weston, berjalan terhuyung menyeberangi ladang, menuju ke arahnya.

__ADS_1


"Apa yang dilakukan Weston?" gumam Jose heran.


Blake berjalan menghampiri rekannya itu, tapi Devon tidak berhenti. Devon terus berjalan, meski beberapa kali tersandung hingga jatuh. Jose mengabaikannya. Ia masih berdiri diam bersama Boris, memastikan tali yang mereka bakar benar-benar jadi abu.


"Sphere!" seru Devon begitu ia tinggal beberapa langkah dari Jose. Napasnya tersengal. "Maksudku, my lord! Istrimu ... dia ... butuh bantuan!"


Jose memutar tubuh menghadap Devon, yang kini kehabisan napas di depannya. "Apa?"


***


Maria mengeluarkan bunga-bunga mawar dari vas dan membawa-bawa benda itu dengan kedua tangan, berniat menggunakannya sebagai senjata.


Jambangan itu dari porselen, tapi di kulit tangannya terasa seperti berbahan es. Maria memindah-mindah tumpuan tangannya supaya tidak kesakitan. Telapak kakinya melangkah hati-hati memintasi koridor. Pintu kamarnya sedikit terbuka.


Maria menggigit bibir, menahan emosi. Ia takut. Bayangan yang dilihatnya saat menyeberangi halaman tadi berasal dari arah kamarnya, makhluk aneh itu mungkin berada di situ sekarang, menunggunya. Mungkin bentuknya hanya bayangan aneh, mungkin seperti Susan.


Maria menempelkan punggungnya di tembok yang berlawanan dengan pintu kamarnya. Ia memeluk vas bunga di depan dada, membuatnya menjadi tameng meski tidak terlalu berguna.


Satu langkah demi satu langkah, aku pasti bisa, Maria menguatkan diri. Matanya dikerjapkan beberapa kali untuk menjernihkan pandangan.


Ia menggeser langkah pelan-pelan, mengawasi celah kamar dengan waspada. Jantungnya berdegup sangat kencang hingga dadanya mulai sakit.


Cuma beberapa meter lagi, pikir Maria. Hawa dingin makin menjadi, menggigit hingga sumsum tulang. Tubuhnya mulai gemetaran dari ujung rambut sampai ujung kaki. Kulit kepalanya seperti ditarik-tarik. Kau pernah menghadapi iblis, Maria. Yang seperti ini bukan apa-apa. Yang seperti ini cuma mainan anak-anak.


Maria berusaha menguatkan diri, tapi ketika sampai tepat di depan celah pintu kamar yang membuka dan matanya mendapati mata lain yang bulat besar balas memandanginya, batas ketenangannya hancur. Maria menjerit histeris. Ia melempar vasnya kuat-kuat ke depan hingga membentur daun pintu, lalu berlari kencang menuju kamar dayang. Makhluk itu mengejar, Maria bisa merasakannya. Punggungnya meremang dan lututnya memanas.


Benda yang ia cari ada di atas bufet. Ia menyambarnya sambil terus menerjang, mengunci diri dalam lemari pakaian.


Juntaian kain sedingin es menyambar wajah Maria. Rasanya seperti masuk ke dalam lemari es. Ia meringkuk di sudut lemari setelah meraba dalam gelap, mengaitkan kunci lemari bagian dalam. Tangannya gemetaran hebat, tapi Maria berusaha menarik-narik kawat yang dililitkan kuat menahan tutup. Ia tahu tidak mungkin melepas kawat itu dengan kekuatan tangannya. Tujuannya hanya menggeser ikatan di atas toples hingga ia bisa membuka tutupnya dan mengeluarkan gelang gigi dari dalam situ.

__ADS_1


Sesuatu berjalan masuk ke dalam kamar. Maria berhenti bergerak ketika mendengar bunyi geleser aneh yang diikuti suara ketukan pada kayu lemari. Jantungnya melewatkan satu detik penuh saking kagetnya. Dunia seolah ikut berdegup dalam tiap ketuk. Seluruh tubuh Maria menggigil hebat. Ia memaksa dirinya kembali fokus pada toples kaca di tangan. Kukunya sakit karena mencungkil-cungkil kawat beku. Tidak ada hasil. Ia mulai terisak, dengan putus asa membanting-banting toples itu ke dinding lemari dengan tangan kiri sementara tangan kanannya menahan kunci pintu lemari.


Lemari pakaian itu tingginya dua meter, dengan lebar setengah meter. Maria mendapat tempat yang cukup untuk berlindung, tapi ia tahu persembunyiannya tidak akan bisa membantu. Kini bunyi ketukan di kayu lemari berubah jadi garukan keras. Maria makin kencang membanting toplesnya. Percuma sembunyi. Ia toh sudah ditemukan. Pada bantingan kesekian kali, kawat besinya bergeser dan toples itu terbuka.


Di dalam lemari gelap gulita, tapi Maria bisa merasakan tumpahan garamnya di punggung kaki. Ia meraba-raba degan gembira, mencari gelang gigi yang harusnya ada di dalam sana. Jantungnya berdegup panik ketika yang ia dapat hanya bulir garam dingin. Jarinya meraba toples, mengorek-ngorek isinya, tapi tidak ada yang ia temukan. Gelang itu tidak ada di sana.


Apa Susan tidak menaruhnya? Maria kebingungan.


Apa ada yang mengambil?


Atau apakah benda itu tidak ada di sini?


Apa aku mengambil toples yang salah?


Maria menghentikan dirinya begitu menyadari bahwa suasana begitu hening, begitu sepi. Tengkuknya meremang. Ia merinding hebat ketika menyadari bahwa ia tidak sendirian dalam lemari tersebut.


Ia bersandar pada penyekat panel lemari, pada kayu padat sedingin es. Namun ada sesuatu di belakang punggungnya. Menempel padanya, bernapas di lehernya.


Maria menutup kedua telinganya dan menjerit panik.


Lengannya dicengkeram erat dan tubuhnya diguncang keras. Maria menggeleng dalam perlawanan, menjerit lagi.


"Mary!" suara itu memanggil keras, menyentakkan Maria dari kegelapan yang dingin.


Hanya ada satu orang di dunia ini yang memanggilnya Mary.


Maria membuka mata dan mengangkat wajah. Napasnya tertahan.


***

__ADS_1


__ADS_2