
Maria kelihatan masih bingung. Mata biru itu mengerjap lambat, seperti berusaha menyesuaikan diri dengan cahaya kamar.
"Mary?" panggil Jose lagi, kali ini lebih lembut. Apa harusnya aku tidak membangunkannya? Ia menyesal sekarang.
Maria pernah mengalami somnabulisme, tidur sambil berjalan, ketika berada dalam pengaruh Sir William dulu. Rolan memberinya nasihat untuk membiarkan saja Maria jika kondisi itu muncul lagi, dan hanya mengawasi tanpa membangunkannya.
Barusan ini Maria memang tidak sedang tidur sambil jalan. Istrinya itu hanya mengerang dan bergerak-gerak kecil seperti mengalami mimpi buruk, karena itu Jose membangunkannya. Namun bagaimana kalau seharusnya ia tidak melakukan itu? Bagaimana kalau dengan membangunkannya, ia malah merusak sesuatu dalam diri Maria?
"Mary, kau sudah bangun?" Jose membetulkan posisi duduk di bibir ranjang agar Maria bisa bersandar padanya.
Wajah Maria putih pucat. Jose merengkuh sisi wajahnya, mengusapnya hati-hati dengan jantung berdebar. "Katakan sesuatu ...," bisiknya. "Kau membuatku takut ..."
Maria mengerjapkan mata beberapa kali, lalu menarik napas banyak-banyak seakan baru saja muncul dari kedalaman laut. "Jose?" Perlahan tapi pasti, rona wajahnya kembali. "Kau ... memang Jose?"
Sebelum Jose sempat menjawab, Maria sudah mengalungkan lengan ke lehernya, memeluknya erat-erat. Jose bisa merasakan detak jantung Maria di dadanya. Cepat dan keras. Tubuh itu gemetaran, terguncang dalam isak tangis tanpa suara.
***
"Apa ada dokter bagus di Redstone?" bisik Jose pada Edwin di luar kamar. Sebentar-sebentar ia menoleh ke dalam, memastikan kondisi Maria yang saat ini sedang menceritakan pada Susan apa yang terjadi. "Maria tidak apa-apa, tapi aku ingin dia diperiksa."
"Dokter di sini cuma ada dua, Tuan," balas Edwin sama lirihnya. "Yang satu masih muda, tapi dia tidak bisa menulis, hanya bisa membaca. Yang satu lagi sudah uzur."
"Mereka dokter atau dukun?" Jose menyahut pahit. Ia tidak mau memercayakan istrinya pada dokter yang tidak bisa menulis. "Cari dokter dari Aston. Suruh dia datang besok pagi."
"Bagaimana dengan Dokter Rolan?"
Rolan adalah dokter keluarga Argent, paman Jose dari pihak ibu. Meski kelihatan seenaknya, pria itu lulusan sekolah kedokteran di Aston. Rolan juga pernah terlibat kasus supernatural di Bjork bersama mereka, menjadikannya orang paling tepat untuk diminta datang memeriksa Maria.
Namun Jose menggeleng. "Setahuku, Paman sudah kembali ke Orlov. Jaraknya terlalu jauh. Aku akan meneleponnya besok pagi. Tapi untuk sekarang, panggilkan saja dokter lain yang terpercaya."
"Saya akan mencarikan dokter terbaik di Aston untuk Nyonya," Edwin meyakinkan. "Mr. Krücher dan Mr. Devon masih menunggu di bawah, apakah Tuan akan menemui mereka?"
Jose mengangguk. "Sebentar lagi," katanya. "Tanyakan lagi apa Devon yakin tidak ingin dipanggilkan dokter. Sediakan apa pun yang mereka inginkan."
"Tentu, Tuan. Ada lagi yang Tuan inginkan?"
"Tidak ada. Pergilah."
__ADS_1
Begitu Edwin undur diri, Jose bergeser ke samping dan menyandarkan punggung pada dinding koridor. Kedua tangannya ditangkupkan ke wajah. Ia memejamkan mata, mengatur napas dalam kegelapan.
Ketika melihat wajah pucat Maria tadi, Jose yakin separuh nyawanya sempat hilang.
"Tuan?" sebuah suara berbisik memanggil. Jose menurunkan tangan dan menoleh perlahan, mendapati Susan menatapnya sopan. "Nyonya ingin bertemu."
"Ah, tentu. Dia cerita apa padamu?"
"Nyonya mendadak terlempar ke tempat yang mirip Redstone, tapi lebih gelap dan dingin. Ada setan di sana yang mengejar. Nyonya bertemu dengan Mr. Devon, lalu kembali ke manor untuk membuka toples garamnya," Susan menceritakan dengan singkat.
Itu cerita yang sama dengan yang sudah Jose dengar dari Maria. Ia mengangguk. "Jangan lepaskan penjagaan dari Mary," bisiknya. "Atur giliran jaga, kalian harus selalu memastikan dia tidak apa-apa."
"Pasti, Tuan," jawab Susan penuh kesungguhan. "Apa yang terjadi malam ini sepenuhnya adalah keteledoran saya," lanjutnya penuh penyesalan. Jemari tangannya saling mencengkeram dengan gelisah. Matanya basah. "Padahal saya berjaga di kamar ... tapi saya tidak sadar kondisi Nyonya. Saya akan lebih cermat lagi ke depannya."
Jose mengangguk, tapi tidak punya kata penghiburan. Ia berjalan melewati Susan, menghampiri Maria yang masih duduk di ranjang, kini sedang memandangi gelang gigi yang diletakkan di atas selimut di pangkuannya.
Maria menoleh, memberinya senyum cerah. "Tadi itu tepat waktu sekali. Kalau kau terlambat sebentar saja mengeluarkan gelang ini ... aku tidak bisa membayangkan."
"Tak usah dibayangkan." Jose duduk di bibir ranjang menghadap Maria. "Sekarang kau aman."
"Aman?" ulang Maria. Matanya menatap penuh selidik. "Kau tahu kalau ada sesuatu di rumah ini, ya? Makanya kau bilang soal hantu penasaran waktu kita bahas gelang gigi. Kau juga tahu gelang ini memang bekerja sebagai pelindung, makanya kau sarankan aku memakainya. Benar?"
"Tentu saja aku bisa menebaknya." Maria mengangkat dagu lebih tinggi. Perasaannya campur aduk antara jengkel dan lega. "Aku memikirkannya barusan dan semuanya cocok. Setan yang kulihat deskripsinya sama dengan yang dilihat Mr. Decker. Begitu ingat itu, segala hal langsung terhubung."
"Terhubung bagaimana?"
"Siang tadi kau pergi ke ladang gandum lalu Mr. Decker melihat setan, lalu kau mendadak ingin buru-buru kembali ke sana meski hari sudah larut." Ujung jari Maria mengetuk-ngetuk gelang. "Kau buru-buru ke sana karena Blake datang dan memberimu artifak ini. Kau pikir ini akan melindungiku selagi kau membereskan akar masalah."
"Benar." Jose meraih kedua tangan Maria dan meremasnya dalam genggaman. "Aku tidak bilang karena takut membuatmu gelisah ... kupikir tadi itu kesempatan emas. Aku membuat kesalahan dengan membawa pulang makhluk aneh. Blake mendadak datang dan memberi artifak pelindung, kupikir semua akan berjalan mulus."
Maria menelengkan kepala, membuat rambutnya jatuh ke bahu. "Tunggu, jadi tebakanku barusan benar?"
Jose mengangguk.
"Semuanya benar?"
Satu anggukan lagi.
__ADS_1
Meski dugaannya benar, Maria justru jadi sebal. "Cerita semua hal padaku dari awal, Jose Argent! Aku tidak mau ada yang ditutup-tutupi atau disembunyikan lagi!"
"Boleh aku cerita nanti?" Jose bertanya. "Tamuku menunggu. Eh, baiklah," ralatnya buru-buru begitu Maria melempar tatapan tajam. "Aku akan cerita. Mmm, kau sudah tahu kalau aku kadang-kadang bisa melihat sesuatu?"
"Aku juga," sahut Maria. "Tapi kau tidak pernah cerita sejauh apa yang bisa kau lihat atau rasakan ... kita memang selalu menghindari cerita itu."
Pintu kamar masih terbuka lebar. Susan ada di luar, menunggui mereka bersama dengan dayang lain. Gadis itu pasti bisa mendengar mereka. Jose sempat berpikir untuk menutup pintu, tapi membatalkannya karena tidak ingin membuat Maria merasa terkurung setelah apa yang baru saja terjadi. Ia beringsut mendekat, membuat jarak mereka tak lebih dari lima belas senti. Basah di bulu mata Maria terlihat jelas, begitu pula warna-warna kemerahan pada bola matanya. Jose menjatuhkan pandangan. Ulu hatinya terasa sakit memikirkan bagaimana niatnya menjaga Maria justru membuat wanita itu sempat berada dalam bahaya.
Mereka tumbuh bersama sejak kecil hingga keduanya bisa dengan mudah menebak jalan pikiran satu sama lain. Itu hal yang sangat praktis, Jose menganggap ia bisa terus bersikap sama seperti dengan saat sebelum mereka menikah.
Namun Jose salah. Ia menyadarinya baru-baru ini. Bahkan meski Maria bisa membaca pikirannya, ia harusnya tetap mengkomunikasikan niatnya dengan jelas.
Berpikir bahwa wanita itu pasti memahami kondisinya, ia mengabaikan Maria dan beberapa kali sengaja pura-pura tidak menangkap ketika dirayu. Maria memang memahaminya, tapi bukan berarti pemahaman itu akan membuatnya tidak terluka. Jose baru memahami itu saat Maria mengkritiknya kemarin, menegaskan bahwa dirinya bukan boneka pajangan. Ia sudah bertekad mengubah sikap, tapi lagi-lagi terpeleset di sandungan yang sama: komunikasi.
Jose menganggap Maria pasti mengerti maksudnya, karena itu ia jarang menjelaskan maksudnya dengan gamblang. Maria bukan manusia berkemampuan super, istrinya hanya pandai menduga, tidak benar-benar bisa membaca pikiran. Seharusnya ia tidak melupakan itu.
"Sejak setahun lalu, setelah malam itu di Bjork, kadang-kadang aku melihat hal aneh," Jose memulai. "Awalnya kupikir ini cuma sementara. Lagi pula aku tidak selalu bisa melihat. Hanya kadang-kadang aku mendengar sesuatu, melihat bayangan, atau cahaya berpendar."
Maria mengerti. "Kadang-kadang kau diam seperti melihat sesuatu padahal tidak ada apa-apa, kupikir kau cuma merasa tak nyaman sepertiku. Kita memang jadi sensitif sejak kejadian itu. Aku heran kenapa yang lain tidak."
"Mungkin karena kita yang terlibat penuh?"
"Paman Marco tidak merasakan apa-apa, kan? Dia tidak kena efeknya?"
Jose tersenyum kecil. "Bisa saja dia pura-pura tidak lihat. Atau mungkin memang tidak bisa lihat. Kalau membicarakan Paman, segalanya mungkin."
Maria tertawa lembut, menyetujui hal itu. "Baiklah, pendahuluannya sudah cukup. Bagaimana intinya?"
"Yah, seperti yang kubilang tadi ... setelah kembali dari ladang gandum tadi siang, aku merasa ada yang aneh. Awalnya mobilku ditabrak oleh angin besar. Lalu dalam perjalanan pulang, aku tidak bisa berhenti berpikir seolah kami kelebihan satu orang."
"Dan kau tidak cerita itu padaku."
"Maaf. Kupikir bahkan kalau ada hal aneh, Hubbert yang akan kena, bukan kau. Kan dia yang lihat. Aku tahu bahwa bahaya membiarkan sesuatu itu ada di rumah, jadi aku memang berniat kembali lagi ke sana secepatnya untuk melihat apa yang bisa kulakukan. Lalu sorenya Blake datang, dia memberi Relik Hantu." Jose melirik artifak yang masih tergeletak di atas selimut, di tengah mereka. "Gelangnya menyeramkan, tapi aku merasa tidak ada hal jahat dari relik itu. Jadi aku meninggalkannya di rumah."
"Tapi kenapa aku bisa terlempar ke dunia lain?" Maria masih memandangi gelang di atas selimut, memperhatikannya dengan tekun. "Itu tempat yang sama dengan yang pernah kau datangi, seperti ceritamu soal masuk ke Bjork yang lain."
"Itu dia hal yang belum terpecahkan." Jose merenung. "Lalu satu lagi, kau bisa kembali karena gelangnya sekarang di dekatmu, tapi aku tidak tahu kenapa Devon bisa kembali." Ia berpikir sebentar. "Kau mau menemuinya bersamaku?"
__ADS_1
Maria mengangguk.
***