
Maria bangun cukup pagi, tapi ternyata Jose sudah lebih dulu terjaga. Lelaki itu duduk bersandar di kepala tempat tidur, di sisinya, sedang membaca surat.
"Rajin benar kau," bisik Maria.
Jose menoleh, rambut ikalnya masih berantakan, tapi senyumnya lebih manis dari biasa. "Selamat pagi, Mary. Kau tidak mimpi buruk?"
"Tidak pernah mimpi buruk kalau bersamamu," jawab Maria mengantuk, tidak sepenuhnya sadar apa yang ia katakan. "Harusnya kita lebih sering begini."
"Yang tidak mau kamar tidur bersama kan kau sendiri."
"Aku tidak suka ...," Maria memejamkan mata dan berbaring miring, memeluk lengan Jose. "Kalau tidur bersama ... lalu tengah malam bangun mendapati tempat di sebelahku kosong, rasanya menyedihkan. Lebih baik sejak awal tidur sendirian."
Jose menatap Maria lama. Tidak biasanya keluhan semacam itu datang. Ia hanya tahu bahwa alasan penolakan Maria dulu adalah karena harga dirinya sebagai wanita tidak mengizinkan ia dilihat ketika sedang merias diri atau menghapus riasan.
"Lucu," katanya sambil membereskan surat, menyingkirkannya ke atas baki perak di nakas. Ia merosotkan tubuh kembali ke dalam selimut dan memeluk Maria. "Orang lain jujur saat sedang mabuk atau di bawah tekanan. Kau jadi jujur kalau mengantuk."
Maria hanya bergumam tak jelas, kepalanya menyuruk ke dada Jose, mencari kehangatan. "Kau sendiri jujurnya kalau apa?"
"Aku tidak pernah bohong." Jose mencium pelipis Maria, jarinya menyisir rambut cokelat itu, mengagumi warnanya yang berkilau seperti madu terkena cahaya lampu. "Tidak padamu."
"Itu surat siapa? Nolan?"
"Apa? Bukan." Jose tertawa. Ia menggapai ke belakang, meraih surat yang tadi disingkirkannya. "Ini dari Tom. Thomas North. Mau baca?"
Maria menggeleng. "Aku cuma bertanya."
"Aku dan Nolan sudah lama tidak berkorespondensi. Sudah sebulan."
"Bagus."
Jose mengerutkan alis. Gerakan tangannya berhenti. Ia menumpu tubuh pada siku, memperhatikan Maria sudah tidak memejamkan mata lagi, hanya menatap kosong ke depan. "Kenapa? Aku baru tahu kau tidak suka. Selama ini kau tidak pernah protes."
"Aku diam saja karena kau hanya menulis surat biasa," sahut Maria, ikut bangun. Ia menurunkan selimut, duduk menyandarkan punggung di kepala tempat tidur. Mata birunya hanya terbuka setengah, kelihatan jelas masih mengantuk. "Lagi pula hanya seminggu sekali. Tapi ..." Ia berhenti agak lama untuk mengumpulkan kesadaran. "Kau kan tahu dia masih mengharapkanmu."
Jose terkekeh. "Tidak. Dia menyukai orang lain."
"Aku yakin dia masih menyukaimu waktu kita menikah."
"Dia menyukai orang lain," ulang Jose tegas. "Kalau tidak, dia tidak mungkin mau berhenti berkorespondensi denganku. Kau tahu kenapa dia berhenti?" suaranya melirih jadi bisikan rendah, "dia takut orang yang disukainya salah paham."
"Siapa?" Maria bertanya heran.
"Aku tidak boleh bilang."
__ADS_1
"Marsh?"
Jose tersenyum penuh rahasia. "Ada lagi yang kau cemaskan?" tanyanya. "Atau keluhan lain? Hal lain yang kau tidak suka tapi tak mau bilang? Katakan saja, mumpung kau belum benar-benar sadar."
Maria menahan kuap dengan kedua tangan. "Tidak ada keluhan, Sayang." Ia menatap ke jendela, melihat hari masih gelap dari balik tirai. Matahari belum bersinar. "Aku tidak mengeluh kok. Omong-omong, kau belum cerita kenapa bisa tahu apa yang harus kau lakukan dengan tali Cory. Bagaimana kau tahu apa yang harus kau cari?"
"Tahu soal kincir anginku, kan?" Jose ikut duduk bersandar di sisi Maria. "Waktu menentukan tempat, aku melihat ada bekas galian tanah. Ada tali setengah terkubur di sana, tapi aku cuma melihatnya sekilas waktu jalan. Kurasa ada yang menggali-gali di sana untuk mencari relik orang mati ... Graham bilang, orang-orang mencari uang dari mengais makam, berharap akan menemukan Relik Hantu."
Maria mengerang. "Mereka tahu ladang itu dulu bekas tempat eksekusi, kan?"
"Justru karena tahu. Mereka menyebut tempat semacam itu dengan sebutan 'situs'."
"Situs?"
"Situs." Jose mengangguk. "Tempat-tempat yang berpotensi menyimpan artifak. Kurasa itu juga sebabnya kincir angin dirusak ... mereka takut pembangunan akan mengusir mata pencaharian."
Maria mengesah. "Orang selalu takut pada perubahan." Ia meraih tangan Jose, menggenggamnya untuk memberi dukungan. Pipinya merona ketika Jose justru mencium punggung tangannya. Ia masih selalu berdebar setiap kali lelaki itu menunjukkan rasa sayang. "Sejak kapan sih, hal mistis semacam ini jadi mata pencaharian utama di Redstone?"
"Sejak dulu," Jose mengingat-ingat. "Semua orang benci penyihir, tapi sebenarnya yang mereka lakukan sendiri sama saja. Kupikir-pikir lagi, memang salahku karena langsung fokus membangun banyak hal. Kupikir pembangunan akan membuka mata pencaharian, kemudian menjadikan tempat ini mau tak mau bergerak ke depan, jadi maju. Aku terlalu mematok diri pada apa yang sudah dilakukan Paman Marco untuk membangun Bjork, padahal Redstone berbeda. Orang-orangnya berbeda."
Maria menyetujui itu. Orang-orang Redstone menjunjung nilai yang berbeda dari Bjork. Di sini kesetiaan bukan hal yang dipandang mulia. Orang-orang saling membelot dan mengkhianati, saling caplok wilayah. "Lalu kau mau melakukan apa?" tanyanya.
"Pertama, putus aliran masuk relik-relik sialan itu." Jose mengesah. "Karena itu aku butuh Blake Krücher."
Jose melingkarkan lengannya ke bahu Maria, mendaratkan ciuman lembut di pipi halus itu. "Jangan minta maaf." Mata hitamnya menatap serius.
Nyawa setiap manusia sangat berharga. Sebisa mungkin, Jose tidak mau sembarangan dengan orang lain. Namun saat melihat Maria sepucat mayat, Jose merasa ada sesuatu yang terbakar dalam dirinya. Ia tahu bahwa jika Maria sampai pergi, akan ada nyawa lain yang harus hilang untuk membayarnya. Ia akan kehilangan kontrol atas standar moral yang selama ini ia pegang. Menakutkan rasanya menyadari Maria bisa membuatnya seperti ini. Ia benar-benar sempat berpikir untuk membunuh semua orang di manor ini jika Maria sampai mati.
Aku tidak akan jadi seperti Paman, Jose ingat ia pernah mengatakan itu pada Marco saat masih anak-anak, saat ia pertama kali melihat tangan pamannya bersimbah darah.
Seseorang menculik Jose untuk ditukar dengan ransum. Orang itu bersikap baik pada Jose, berhati-hati dengannya, menceritakan perjalanan hidupnya. Itu bukan pertama kalinya Jose diculik, tapi pertama kali ia bersimpati pada penculiknya. Semua orang punya alasan melakukan sesuatu, Jose menyadari, bahkan hal-hal jahat juga punya alasan.
Ketika Marco datang, Jose berniat melindungi orang itu. Ia sudah berjanji akan menjelaskan masalah yang dialami pria itu pada pamannya. Ia berjanji.
Namun Marco bahkan tidak memberi kesempatan Jose bicara. Pamannya langsung menembak mati pria itu begitu Jose sudah aman. Tanpa mendengar penjelasan, tanpa mau tahu alasan apa pun, Marco membunuhnya.
Jose masih berumur delapan tahun. Ketika melihat penculiknya mati di depan matanya sendiri, yang ia lakukan adalah mengamuk.
"Aku yang salah karena tidak hati-hati! Kenapa aku tidak ditembak sekalian?!"
"Kau keluargaku, dia bukan," Marco menyahut dingin sambil menyeretnya pulang. "Kau akan mengerti saat dewasa besok, saat ada orang yang perlu kau lindungi."
"Aku tidak akan jadi seperti Paman!" seru Jose dengan pipi basah karena air mata. "Aku tidak akan jadi pembunuh!"
__ADS_1
Marco hanya tertawa, tawa panjang yang tidak enak. "Aku juga tidak mau kau jadi pembunuh, Jose. Tapi kau tetap akan dilatih untuk bisa melakukannya. Lagi pula, kau seorang Argent."
"Apa semua Argent harus jadi pembunuh?!"
"Tidak, Nak. Tapi kau akan melakukannya saat diperlukan." Marco menatap serius. "Kau akan melindungi keluargamu, bahkan meski tanganmu harus kotor. Tugasmu adalah membuat santuari."
Itu percakapan bertahun lalu, hal yang tidak dipahami Jose pada umurnya dulu. Namun sekarang ia mengerti segala tindakan pamannya dan—dalam rasa nyerinya—sedikit setuju. Penculik itu memang bersikap baik padanya, tapi kalau sekarang ia menempatkan diri di posisi Marco, kalau Maria diculik ... Jose tahu ia akan melakukan hal yang sama.
Yang diinginkannya sama dengan semua orang. Sama dengan Marco, sama dengan penculik itu. Ia hanya ingin tempat yang aman untuk keluarganya.
Untuk mencapainya, Jose tahu ia tidak mungkin menjaga tangannya benar-benar bersih, terlebih di Redstone. Kelemahannya selama ini adalah ia terlalu lemah dalam membuat keputusan. Ia selalu mencari cara agar semua orang bisa bahagia.
"Sayang?" Maria memanggil, menyadarkan Jose dari lamunan. Wajah itu begitu cantik, begitu lembut.
Jose sadar hal paling penting baginya hanya Maria. Ia tidak mau kehilangan istrinya. Ia tidak mau melihat paras halus ini jadi sepucat kemarin malam lagi.
"Kau memikirkan apa?" Maria menelengkan kepala, mata biru safirnya menatap penasaran.
"Memikirkanmu." Jose mendekatkan wajah, menyapukan bibirnya pada bibir Maria, menikmati mendengar kesiap manis yang muncul ketika tangannya menangkup di tubuh ramping itu. Ia mendorong Maria berbaring, membelainya sambil terus mencium.
Satu-satunya orang yang harus ia bahagiakan adalah yang berada di bawah tubuhnya sekarang. Jose menyesal ia terlambat menyadari itu, padahal sejak awal ia mengambil Redstone demi Maria.
Dulu, hal yang paling ia takutkan adalah menjadi dingin dan kejam seperti pamannya. Kini ketakutannya hanya satu, dan tidak ada lagi hubungannya dengan Marco.
***
.
.
.
.
.
.
.
Redstone cuma akan update setiap kali bab yang sudah terbit performanya bagus. Kalian bisa bantu novel ini update terus dg selalu like dan kasih komen apa yang kalian pikirkan setelah membaca bab ini. Untuk cek kapan updatenya bisa buka IG @novelnarazwei atau bisa juga cek infonya di FB @narazwei
catatan:
__ADS_1
¬santuari/sanctuary: tempat perlindungan.