Redstone: Sanctuary

Redstone: Sanctuary
Chapter 25: Problem Solving


__ADS_3

Blake membawa Lucy pagi itu. Mereka melintasi jalan utama Redstone, langsung masuk ke dalam gang sempit yang gelap, meninggalkan keriuhan pagi dan sinar matahari. Tangga batu membawa mereka turun ke perumahan berdinding batu berlumut dengan orang-orang berpakaian lusuh berserakan di lantai. Kebanyakan dari mereka tidur karena baru pulang bekerja, sisanya teler.


Ada satu toko barang antik di salah satu sudut jalan. Jendelanya yang pecah-pecah ditutupi dengan triplek. Pintu kayunya berkarat di bagian engsel, sedikit rompal. Blake meraih gagangnya, menendang ujung kiri bawah pintu dan mengangkat sedikit daun pintu ketika mendorongnya ke dalam.


Ein O'Connor meloncat kaget dari balik mejanya saat Blake menghambur masuk. Ia sedang menghitung koin emas, didampingi dua orang lelaki bertubuh jangkung yang dikenal Blake sebagai Jim dan Joe. Blake tidak pernah tahu mana yang Jim dan mana yang Joe, keduanya sama-sama berbau busuk dan ia enggan menatap wajah buruk mereka.


"Sialan!" maki Ein sambil mengelus dada. "Kau datang seperti setan saja! Ketuk pintunya, Krücher! Demi tujuh lautan, selalu kubilang ketuk pintu!"


Blake memandang ke sekitar. Hidungnya mengerut mencium aroma apak tempat ini. Matanya berhenti pada kantung-kantung koin emas di atas meja. "Habis lelang, eh?" tanyanya.


"Yah, biasa ...," Ein menyahut malas-malasan. Tangannya meraup koin-koin emas yang belum dimasukkan dalam kantung-kantung kecil, mewadahinya ke kantung kain besar di pangkuan. Uang-uang kertas sudah dilak, disusun rapi di sebelah kiri meja sementara sebelah kanannya terdapat tumpukan kertas surat. Blake tahu itu surat perjanjian jual beli. Ein adalah salah satu narahubung tukang tadah.


"Mana Wilson?" Blake bertanya. "Aku tidak lihat dia sejak kemarin. Pergi dengan Van Heiden?"


Ein menyusut hidung dengan lengan kemejanya yang dilipat sampai siku. "Mungkin. Aku tak tahu. Kau mau apa?"


"Kalau dia datang, bilang padanya aku ingin bicara."


"Bicara apa? Kau kelihatan seperti ingin membunuh orang. Perasaanku tak enak."


Blake tersenyum ramah. "Oh, hanya bicara soal hal biasa yang menyenangkan. Misalnya, kenapa dia memberi Devon Relik Hantu yang harusnya jadi milikku."


"Relik Hantu bukan milik siapa-siapa, Krücher," Ein mengingatkan. Matanya menatap Blake tajam. "Kita cuma semacam kapal. Ekspedisi. Kita tidak memiliki benda-benda itu."


"Kau juga terlibat, O'Connor?"


Ein mengikat kantung uangnya, meletakkannya ke bawah meja. Ia melirik Lucy sekilas, kemudian mengedikkan bahu. "Pergilah kalau tak ada hal lain yang kau cari. Aku ini sibuk. Dan lain kali jangan masuk tiba-tiba. Jim dan Joe membawa senjata. Kau kan tak ingin mereka kaget lalu salah tembak."

__ADS_1


Blake berjalan perlahan mendekati meja Ein. Kedua tangan pemuda itu tersimpan di dalam kantung mantel. "Sahabatku O'Connor," bisiknya rendah dalam keramahan kelewat manis, "kau barusan mengancamku?"


"Kalau aku mau mengancammu, Jim sudah menodongkan senjata ke kepala sok tahumu itu." Ein membereskan meja secepat kilat, tidak mengizinkan Blake melihat terlalu lama barang yang sempat ada di sana. "Dengar, Krücher, Van Heiden tahu kau bolak-balik masuk manor Marquis. Kau dicurigai. Saranku adalah kau bersikap biasa dulu. Lakukan pekerjaan-pekerjaan kecil. Salurkan semua relik seperti biasa, jarah pedati-pedati kecil, perkaya diri sendiri, semacam itu. Lalu jauhi Jose Argent. Dia cuma bakal bikin kau terbunuh."


"Kau tahu siapa yang hampir terbunuh?" Blake menyipitkan mata. "Devon."


"Bersyukurlah. Bisa saja itu kau."


"Kau tahu siapa yang sudah terbunuh?" Blake meletakkan telapak tangannya ke atas meja. Matanya menatap Ein marah. "Ask, Billy, Wilhelm, Stud, Otto. Mereka semua menghilang, kemudian mayat mereka ditemukan biru."


"Setiap hari ada orang mati di Redstone." Ein menyandarkan punggung lebarnya ke sandaran kursi. "Orang-orangku juga mati minggu ini. Tidak usah sok dramatis. Seolah kau peduli pada mereka saja."


"Aku tidak peduli kalau mereka mati kelaparan, mati karena berkelahi, mati ditembak polisi, atau mati karena salah mereka sendiri." Blake duduk di sudut meja. "Mereka mati dengan membawa Relik Hantu di saku. Lucunya, itu adalah Relik Hantu yang harusnya ada di tanganku."


"Mereka mencurinya darimu?"


Ein diam lama, matanya menatap meja. Ia menatap kembali pada Lucy, yang masih diam berjaga di depan pintu. Ia tahu tidak ada kebohongan yang akan lolos dari telinga Lucy. "Aku tidak tahu," gumamnya lirih.


"Dia bohong," kata Lucy datar.


Ein mengerang. "Kalian tanya pada Devon saja. Kan dia yang bawa-bawa relikmu!"


"Devon bilang, benda itu diberikan padanya oleh Wilson."


"Aku tidak terlibat," Ein berkata.


"Bohong lagi," Lucy menyuarakan pernyataan itu sambil menggeram.

__ADS_1


Blake menatap Ein dengan mata berkilat-kilat. "Kau nekat, ya."


"Aku tahu apa yang terjadi, tapi bukan berarti aku terlibat!" Ein membetulkan pernyataannya tadi. Matanya menyipit kesal. "Lagi pula, yang dipilih biasanya orang-orang yang tak berguna! Otto misalnya, dia cuma beban. Dia bahkan tak bisa berjaga dengan benar!"


"Tutup mulut," tukas Blake dingin. "Dia orangku. Apakah dia berguna atau tidak, aku yang menentukan, bukan orang lain. Bukan kau. Bukan si tua Van Heiden."


"Hati-hati kalau bicara, Krücher," tegur salah satu dari si kembar.


"Aku bicara padamu?" Blake menoleh heran. "Tidak? Kalau begitu jangan kebiasaan menyahut dari samping. Aku bisa saja salah mengiramu sebagai lalat lalu menghantam kepalamu ke meja. Kita tidak ingin itu terjadi, kan?"


Ein mengangkat tangannya dalam gestur menahan ke arah si kembar, yang sepertinya siap menonjok Blake. "Aku tidak mengerti apa masalahmu, Krücher. Devon baik-baik saja, kan? Lupakan itu. Pulanglah. Wilson akan menemuimu saat dia pulang nanti. Aku pastikan dia minta maaf karena melibatkan Devon."


"Aku tidak butuh permintaan maaf," sahut Blake santai. "Yang ingin kutahu adalah apa yang ingin dilakukan Wilson dengan memanfaatkan orang-orangku. Kenapa dia tidak gunakan saudara-saudaranya saja kalau mau bereksperimen? Saudaranya ada banyak, kan?"


Keheningan melanda rumah itu. Blake mengerutkan kening, mengamati wajah-wajah di depannya. Tidak ada yang membantahnya. Tidak ada yang memberi tanggapan. Itu jelas karena takut salah bicara di hadapan Lucy. Artinya, ia benar.


"Eksperimen apa?" tanyanya serius. Ia bisa menebak ke mana arah pembicaraan ini, tapi tetap butuh kejelasan.


Ein mengesah pelan. "Kau tanya saja pada Van Heiden. Jangan padaku. Aku cuma nara-hubung."


"Eksperimen apa?"


"Keluar, Blake. Ini sudah cukup. Aku tahu kau sudah bisa menebak apa yang terjadi. Otakmu kan pintar." Ein memberi tanda pada kedua pengawalnya yang bertubuh jangkung untuk mengusir Blake.


Pemuda itu sudah meloncat turun duluan dari meja, lalu dalam satu detik yang sama mengangkat satu kaki tinggi-tinggi dan membanting tumit sepatunya ke meja Ein. Kayu itu remuk dengan suara keras, terbagi jadi dua bagian. Ein menyumpah-nyumpah kaget. Jim dan Joe bahkan tak sempat bergerak.


"Astaga, apa ini? Maaf, aku cuma ingin mengistirahatkan kaki. Mejamu rapuh sekali," kata Blake dalam nada heran yang dibuat-buat. Ia memasukkan tangan ke dalam saku jas, memamerkan seringai geli ketika tiga orang dihadapannya terhenyak waspada, kemudian mengeluarkan kantung uang. Diambilnya koin emas segenggam dari sana, lalu dilemparkannya satu demi satu ke tubuh gemuk Ein. "Ini untuk ganti rugi mejamu, ini untuk kekagetan kalian, ini untuk kedatanganku yang mendadak, ini dan ini ..." Ia melempar semua koin di tangannya dengan marah. Ein mengangkat kedua lengannya melindungi wajah. "Kau suka uang, kan? Ambil semua. Aku membayarmu! Nah, katakan eksperimen apa yang dilakukan pada orang-orangku!"

__ADS_1


***


__ADS_2