Redstone: Sanctuary

Redstone: Sanctuary
Chapter 30: A Surprising One


__ADS_3

Hubbert Decker kebingungan. Seolah belum cukup buruk baginya bahwa ia diincar untuk dibunuh, kini ia harus menghadapi kenyataan bahwa dirinya sudah mati.


"Dikabarkan mati," koreksi Rolan gemas. "Lagi pula hanya mati di Redstone."


"Aku tetap harus ke Nordem."


"Yeah. Kau akan bepergian dengan nama Huges Boston atau Jim Smith, terserah. Lalu rambutmu sebaiknya direndam di arang atau semacam itu."


"Yikes!" Hubbert mengerutkan hidung.


"Demi keselamatanmu. Mereka pasti memeriksa orang-orang berambut merah."


"Bisakah aku pakai wig saja? Aku suka rambutku." Hubbert tidak bermaksud sarkastis, tapi nadanya memang terdengar seperti itu.


"Kau masih sempat memikirkan kesukaanmu?" balas Rolan. "Bagus. Kita bisa beli wig kuno yang biasa dipakai pelawak istana. Kau pasti kelihatan sangat-sangat normal dengan wig putih panjang yang bergulung di ujung-ujung."


Hubbert melengos malas. Ia berjalan berdampingan dengan Rolan menuju kamarnya. Dokter itu menawarkan diri mengantarnya selesai mereka bicara di perpustakaan, tapi Hubbert menebak niat Rolan adalah mengawasinya.


Cahaya matahari tumpah menerangi koridor dari kaca-kaca jendela di sisi kanan mereka. Hubbert memandang keluar, bertanya-tanya sendiri bagaimana dirinya bisa terseret dalam drama politik para bangsawan. Ia jadi membayangkan apa yang salah dari langkahnya. Apa harusnya ia pergi ke Nordem lewat jalur laut? Apa seharusnya ia tidak perlu mengatakan pada Jose soal sosok yang dilihatnya?


Hubbert berhenti. Rolan menoleh padanya dengan penasaran. "Kenapa?" tanyanya.


"Apa yang terjadi pada Lady Redstone?" Hubbert bertanya. Ia heran kenapa pertanyaan ini sempat terlupakan olehnya. Matanya menatap Rolan serius, menuntut kejujuran. "Kita belum sempat membahas ini karena sibuk membicarakan Van Heiden. Kenapa dengan Lady Redstone? Kau bilang dia sakit menggantikanku? Kau sempat bilang aku membawa setan ke rumah ini?"


Rolan diam sejenak, kelihatan seperti sedang menimbang apa yang sebaiknya ia katakan. "Katanya kau melihat manusia aneh yang wajahnya penuh dengan serat benang, kan?"


Hubbert mengangguk kaku. Sinar matahari menyirami sebagian tubuhnya. Langit masih biru di luar sana, tapi ia jadi bergidik mengingat pemandangan kemarin. Padahal ia pikir ia hanya salah lihat. Namun arah pembicaraan ini sepertinya akan mengungkapkan hal lain. Hal yang tidak ingin ia tahu.


"Yah, malam harinya, Maria melihat hal yang persis sama denganmu," Rolan menerangkan dengan enteng. "Lalu entah bagaimana, dia jadi masuk ke alam lain."


Keheningan merayapi koridor. Samar-samar terdengar suara para pelayan bekerja dan rumput dipotong. Suara itu sangat samar, tapi jadi satu-satunya pegangan bagi Hubbert untuk meyakinkan diri bahwa ia masih di dunia nyata. Rolan mengatakan hal aneh dan tak masuk akal dengan nada sangat ringan, seolah setiap hari ada orang masuk ke alam lain. Seolah pria itu sedang bercanda. Namun Hubbert tahu dokter itu tidak bercanda. Seaneh apa pun penjelasan tadi, entah kenapa ia bisa tahu bahwa Rolan memang serius.


"A-alam lain bagaimana?" Hubbert bertanya. "Aku tidak diberi tahu soal ini ... dan ... kenapa malah Lady Redstone yang kena? Lalu ... lalu kalau sekarang aku pergi ke Nordem dan diserang penampakan lagi, bagaimana dong?"


Rolan tertawa manis. "Memang itu tujuannya. Kau boleh pergi besok dan mengumumkan pada semua orang bahwa kau masih hidup, tapi Jose tidak akan melindungimu. Kau bisa saja kena serangan lain dalam perjalanan, mungkin nanti kau sendiri yang akan terlempar ke alam lain, itu terserah kau saja."

__ADS_1


***


Brooks mengenal Jose Argent sejak pemuda itu masih berumur belasan tahun. Pemuda itu selalu mengekor di belakang pamannya yang mirip singa, menjadi pesuruh dan pengantar pesan.


Ketika mendengar bahwa tuan tanah baru mereka adalah seorang Argent, Brooks pikir mereka akan mendapatkan Marco, Edgar, atau mungkin Jacob, bukan Jose.


Dalam bayangannya, Jose hanyalah pemuda nakal yang selalu berloncatan di atap-atap Redstone, berteman dengan pencuri dan orang-orang jalanan, bahkan dipanggil dengan julukan memalukan, Spare, cadangan.


Saat melihat Jose datang sebagai tuan tanah, bayangan pemuda nakal itu hilang. Jose benar-benar terlihat seperti tuan besar. Caranya bersikap dan bicara berbeda dengan yang ia ingat. Bahkan Brooks selalu tanpa sadar berubah formal dan menyapanya 'my lord' meski Jose sendiri sudah mengizinkannya memanggil nama depan.


Ya, Jose masih orang yang sama dengan remaja yang diingatnya. Pemuda yang selalu tersenyum ramah. Pemuda yang baik hati.


Atau begitulah menurutnya.


Saat ini, Jose sama sekali tidak terlihat baik hati. Pemuda itu—ah, tidak. Jose sudah bukan seorang pemuda belasan tahun lagi.


Lelaki itu berdiri tegak di hadapan Brooks. Matanya dingin dan tajam, tak berperasaan. Tidak ada sisa-sisa senyum ramah di sana, bahkan tak ada sorot mata jahil yang biasa. Brooks merasa ia seperti berhadapan dengan patung pualam berwujud Jose.


"Apa maksudnya ini, Jose?!" teriaknya marah. Matanya berair. Tangannya sakit. Dadanya kembang kempis. "Aku datang karena kau memanggilku!" jeritnya dengan suara pecah.


"Aku memanggilmu untuk makan siang bersama, Brooks," sahut Jose lembut. "Tapi apa yang kau lakukan? Begitu datang, kau malah sibuk menginterogasi pelayanku?"


"Aku tidak menginterogasi, demi Tuhan!" Brooks membentak. "Aku cuma bertanya apa yang terjadi! Mereka bilang ada orang mati di sini!"


"Sebentar lagi jelas ada," sahut orang di sebelah Jose, yang kelihatannya seperti pimpinan dari prajurit di sekitar mereka. Pria itu tinggi, berwajah muram, matanya dingin. Itu mata seorang pembunuh, Brooks sangat mengenalnya.


Brooks bernapas tersengal, menyeret tubuhnya mundur perlahan. Ia menatap ke sekeliling dengan panik, mencari senjata. Tangannya meraba pinggang, tambah panik saat tidak menemukan pistolnya.


"Mencari ini?" Jose mengulurkan sebelah tangannya yang sejak tadi tersembunyi di balik punggung. Pistol Brooks ada di genggamannya.


Brooks mengumpat, lupa bahwa Jose sejak dulu dikenal sebagai tuan muda bertangan pencopet. Air matanya merebak. "Jose, kalau ada masalah, kita bisa bicara baik-baik," pintanya gemetar. "Kau dan aku sudah saling kenal sejak dulu." Ia tertawa, menggunakan tangannya untuk mengukur tinggi badan. "Sejak kau masih sekecil ini. Kalau aku menyinggungmu, aku minta maaf. Kau selalu bilang bahwa aku temanmu. Ya kan? Kau akan memberiku kesempatan menjelaskan? Aku bahkan tidak tahu kenapa aku dilempar ke sini." Matanya menyapu sekitar, makin cemas saat melihat tak ada jendela.


Ia terlalu panik hingga tidak mengerti apa yang terjadi. Ia ingat setelah bicara dengan beberapa pelayan, ia menemui Jose. Lelaki itu memeluknya singkat—saat itukah pistolnya diambil? Brooks tidak tahu. Ia tidak merasakannya. Begitu mereka masuk ke dalam rumah dan pintu utama ditutup, orang-orang asing bersenjata ini datang padanya dan menyeretnya ke lantai bawah, sementara Jose hanya memandangi dengan senyum di wajah.


Apa ia akan mati hari ini?

__ADS_1


Brooks gemetaran. "Kita bisa bicara baik-baik," bisiknya. Lengannya sakit. Darah banjir dari sana, mengalir turun ke ujung-ujung jari, membuatnya gatal.


Jose menghela napas. "Pertama," katanya ramah, "kita bisa mulai dari Hubbert Decker. Kenapa kau ingin membunuhnya? Siapa yang menyuruhmu?"


Brooks membeku di lantai. Matanya menatap nyalang, napasnya terengah. "Ingin?" ulangnya.


'Ingin membunuh', bukan 'sudah membunuh'?


***


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


IG: @novelnarazwei


FB: narazwei

__ADS_1


Terima kasih bagi yang sudah mendukung di karyakarsa. Cek akun di atas untuk tahu update selanjutnya.


__ADS_2