Redstone: Sanctuary

Redstone: Sanctuary
Chapter 17: Questions


__ADS_3

Sudah kuduga, tidak ada yang bagus dari menyimpan benda milik orang mati. Maria menyilangkan tangan di depan dada, berjalan mondar-mandir untuk menghangatkan tubuh.


Suhu ruangan jatuh begitu cepat. Perapian menyala terang, tapi tidak ada kehangatan terpancar dari sana. Ia sudah mencoba membungkus dirinya sendiri dengan selimut, tapi tidak ada hasil. Tubuhnya justru makin menggigil.


Maria sudah mencoba banyak cara. Ia mencoba memejamkan mata di atas ranjang, berharap saat membuka mata, ia akan kembali ke tempat tidurnya yang asli. Gagal.


Ia mencoba berdoa sepenuh hati. Gagal.


Ia berteriak memanggil-manggil Susan, Edwin, Jose. Gagal juga.


Maria merapatkan kerah gaun tidurnya, kemudian berjalan perlahan menyeberangi ruangan, mengintip keluar melalui celah pintu. Jantungnya berdegup sangat kencang. Ia ingin melihat seseorang, tapi ia juga takut kalau yang muncul adalah sosok hitam bermuka penuh lipatan kerut.


Warna sephia memenuhi koridor di luar, membuat Maria merasa seperti melihat dunia dari balik balon transparan. Kesunyiannya membuat bulu kuduk merinding.


Maria menyelinap keluar dengan kaki telanjang. Ia tadinya ingin memakai selop atau sepatu, tapi semua benda di tempat ini terasa sangat dingin di kulit sehingga percuma saja dipakai.


Ia menutup pintu kamar di belakang punggungnya, lalu diam dan menunggu. Ia merasa perlu menunggu reaksi, suara, bayangan, atau sesuatu. Namun setelah diam agak lama sampai telapak kakinya sakit karena kedinginan, Maria tetap saja tidak melihat atau mendengar apa pun. Ia sedikit bersyukur.


Hal pertama yang terlintas di benaknya adalah menengok kamar Jose. Maria sudah berjalan beberapa langkah, tapi kemudian menghentikan dirinya sendiri.


Bagaimana kalau saat ia masuk kamar Jose, yang ditemuinya malah makhluk berwajah kerut itu? Maria yakin ia tidak akan tahan melihat makhluk itu mengambil bentuk suaminya. Membayangkannya saja terasa sangat menakutkan.


Sekelebat bayangan bergerak, tertangkap ekor mata Maria. Refleks, ia menoleh. Napasnya tercekik melihat sesuatu melata ke arahnya dari ujung ruangan. Sesuatu yang gelap, bergulung-gulung seperti benang ruwet.


Rasa panas dan dingin merambati tulang punggung Maria, membuatnya lumpuh. Tungkainya lemas dan kepalanya kosong.


Gerak! Maria berteriak dalam kepala. Bola matanya bergerak-gerak gelisah. Ujung-ujung jari kakinya melengkung gemetar mencengkeram lantai. Gerakkan kakimu, Maria!


Ia berhasil memaksa kaki kanannya mundur. Kemudian kaki yang kiri bisa ikut diseret. Detik berikutnya, Maria mulai berjalan mundur hingga tak sengaja menabrak dinding, membuatnya memekik kaget. Suara jeritannya sendiri mampu membuat Maria terjaga penuh. Dengan segera, ia memutar tumit dari berlari pontang-panting ke tangga menuju lantai satu.

__ADS_1


Sudut matanya menangkap bayangan-bayangan aneh selagi ia lari. Maria mengabaikan itu semua dan mencoba fokus berlari. Ia tidak boleh jatuh. Ia tidak mau jatuh. Kalau jatuh, ia akan tertangkap. Kalau tertangkap ...


Maria tidak tahu apa yang terjadi kalau ia tertangkap, yang jelas pasti bukan hal bagus. Ia mengangkat ujung gaun, melompati dua sampai tiga anak tangga sekaligus.


Tidak ada waktu untuk berhati-hati. Tidak ada waktu untuk memikirkan soal patah tulang atau terpeleset. Maria melompat dan berlari kencang keluar rumah.


***


Aroma tajam gandum dan belukar kering menyambut mereka begitu mobil sampai di luar gerbang kota. Boris menghentikan kendaraan di ujung jalan emas, di akhir petak ladang gandum.


Suara sol sepatu menjejak kerikil mengisi malam, mengatasi debum pintu mobil ditutup. Angin malam bertiup dari arah gunung batu, membuat ujung-ujung mantel mereka berkibas lembut.


Lampu mobil dibiarkan menyala. Jose bicara pada Boris, yang segera mengangguk mantap dan berjalan gagah menyibak rumpun gandum. Pria itu membawa senter logam sebagai penerangan. Weston juga memberikan benda yang serupa pada Blake.


Bahan senternya bagus dan ringan, Blake menggeser kenop picu untuk menyalakan lampu, dengan cepat menemukan cara untuk memperbesar sinar atau mengecilkan titik fokusnya.


Ia menoleh pada Jose, yang menyandarkan tubuh pada bodi mobil sambil memperhatikan pekerjanya.


"Bukankah kau sendiri yang minta bantuanku?" Jose tersenyum. "Kenapa malah heran melihatku terjun langsung?"


Blake tidak menjawab. "Kenapa Anda mau membantu mencari Devon?"


"Kau berpikir rekanmu tidak mungkin ditemukan," sahut Jose, suaranya terdengar sayup ditiup angin. "Teorimu bahwa Devon terlibat dalam kasus pelik karena mencuri relik langka itu menarik. Tapi kalau kau memang sungguh berpikir begitu, tidak mungkin mengungkit rumor soal keterlibatanku dengan kasus supernatural segala. Kesimpulanku adalah, kau hanya mengarang cerita untuk membuat Miss Lucy tenang."


"Benar," Blake mengiyakan tanpa bimbang. "Tidak mungkin manusia bisa menghilang secepat itu tanpa jejak. Devon memang mencuri relik langka. Beberapa orang sudah menghilang sebelumnya setelah berurusan dengan benda semacam itu. Jadi saya yakin sudah tak ada harapan. Lalu? Anda masih belum menjawab pertanyaan saya tadi."


"Miss Lucy bisa mendengar kebohongan, tapi dia tidak berkomentar apa pun mendengarmu. Yang berarti antara kau tidak berbohong, atau kau bisa lolos dari radarnya."


Blake tertawa. "Bukankah Anda sendiri yang memberi tahu saya cara memanipulasinya? Dengan berasumsi. Kalau saya hanya menebak alih-alih sengaja menyatakan kebohongan, maka Lucy tidak akan bisa tahu apakah saya bohong atau tidak."

__ADS_1


Jose mengangguk. "Itu dia alasanku, Mr. Krücher: kecepatan berpikirmu." Ia merapatkan topi pet gelapnya ketika angin malam bertiup lebih kencang. "Aku berkata jujur waktu bilang bahwa aku ingin kau bekerja denganku. Aku butuh orang yang bisa berpikir."


Blake menyipitkan matanya dalam rasa bingung. Ia pikir lelaki itu menginginkan Abysmal.


"Aku tidak tertarik pada sindikat kecilmu," kata Jose cepat, bisa membaca pikiran Blake dengan tepat.


"Tuan!" Boris melambai dari jauh, memutar-mutar senternya dalam lingkaran besar.


Jose menyalakan senternya sendiri dan berjalan menyibak ladang gandum, diikuti Weston dan Blake.


"Kalau Anda tahu bahwa saya hanya berbohong pada Lucy," kejar Blake, dengan cepat menjajari langkah Jose. "Untuk apa kita memeriksa ladang?"


"Kau pikir sedang bicara dengan siapa?" Jose tertawa pendek. Suaranya kedengaran angkuh. "Aku Jose Argent, Marquis Redstone! Kalau kubilang akan menemukan Devon, pasti kutemukan. Aku selalu menepati janji."


Tumbuh besar dalam kekacauan di Redstone membuat Blake menjadi orang yang skeptis. Namun sikap tinggi hati Jose entah kenapa mampu meyakinkannya bahwa lelaki itu memang serius. Ada sesuatu dalam diri Jose yang membuatnya memercayai setiap kata yang diucapkan lelaki itu.


"Orang mati seharusnya tidak bangkit lagi," sambung Jose sambil terus berjalan. Napasnya beruap putih. "Jika orang-orang mati sampai muncul, alasannya cuma satu: ada yang memaksa mereka datang dengan cara tak wajar."


Blake mengerutkan kening. "Orang mati?"


Jose menoleh. Sebelah alisnya naik agak tinggi. "Kau tidak sadar? Bukankah dia terus menempel padamu?"


Pertanyaan itu mengirim denyar ngeri ke sekujur tubuh Blake. Mendadak, suara Lucy terngiang dalam benaknya.


Bisakah hantu membunuh?


"Maaf?" katanya, mencoba menguasai diri. "Apa maksud Anda?"


Jose hendak menjawab, tapi sebuah suara memotong duluan. Kedengarannya seperti bunyi seseorang tercekik.

__ADS_1


***


__ADS_2