Redstone: Sanctuary

Redstone: Sanctuary
Chapter 8: Urban Legend


__ADS_3

"Anda yang menyetir?" Hubbert tidak bisa menyembunyikan kekagetannya melihat Jose mengambil tempat di sisi kemudi.


"Ya, cepat masuk!" Jose mendesak. "Cepat, cepat, sebelum kita tertangkap!"


Tertangkap siapa? Hubbert meneriakkan pertanyaan itu dalam hati selagi meletakkan tas berisi perlengkapan kameranya ke kompartemen belakang, kemudian menyusul duduk di sana. Tak lama, otomobil mereka sudah berjalan mulus menuju gerbang utama manor, dengan Jose terkekeh menang di depan kemudi.


Hubbert baru mengerti apa sebabnya ketika ia menoleh ke belakang dan melihat beberapa orang berlari ke arah mereka dari kejauhan.


Klakson dibunyikan, gerbang dibuka, dan dalam sekejap mereka sudah lolos ke jalan. Pengejar mereka sudah menyerah di tengah jalan.


"Siapa itu tadi?" Hubbert bertanya tegang.


"Boris, pekerjaku," Jose menjawab santai. Ia melirik spion, memastikan tidak ada yang mengejarnya. "Dia selalu ngotot ingin mengawalku ke mana-mana."


"Memang harusnya begitu, kan?"


"Mobilnya tidak akan cukup," sahut Jose heran. "Kau, tas kameramu, lalu nanti Brooks. Kendaraan ini kan kecil. Sementara kalau mereka berlari di sekeliling mobil atau menggunakan mobil lain, kita akan kelihatan mencolok."


"Saya rasa seorang marquis memang sudah seharusnya terlihat mencolok."


"Kecuali kalau marquis itu ingin melakukan inspeksi dadakan."


Hubbert tertawa. Dilihat dari ekspresi penjaga gerbang tadi, sepertinya bukan sekali ini saja Jose pergi mendadak meninggalkan pengawalnya. Bahkan meski sudah menjadi seorang bangsawan tinggi, Jose tetap saja seperti dulu ketika di Bjork; dan fakta itu membuat Hubbert lebih relaks. Seperti menemukan sekeping hal familier di tempat asing.


"Ah, itu Brooks!" Jose berkata sambil membunyikan klakson dua kali dan menepikan automobil.


Brooks adalah pria tinggi dan tegap berusia pertengahan tiga puluh. Wajahnya persegi, tercukur rapi. Pria itu mengenakan seragam biru tua khas polisi. Begitu mobil berhenti di tepi jalan, Hubbert segera membuka pintu dan mengempaskan tubuh di sisi Jose.

__ADS_1


"Ini harus menarik, karena kau memanggil tiba-tiba," katanya sambil melepas topi. Hubbert menoleh ke belakang dengan gerakan seperti baru saja menyadari ada orang lain di dalam mobil. Ia berbalik penuh dan tersenyum lebar. "Halo, aku belum pernah melihatmu. Baru pindah? Namaku Brooks, Karl Brooks!"


"Hubbert Decker," Hubbert menjabat tangan yang terulur padanya. "Dari Daily Bjork. Saya hanya mampir saja."


"Dia tamuku," Jose menimpali dari depan kemudi, sudah menjalankan kembali mobilnya. "Bersikaplah yang sopan, Brooks."


"Aku selalu sopan!" protes Brooks sambil mengipas-ngipas wajah dengan topinya. Ia melongokkan kepala keluar jendela mobil dan melihat ke sekitar. "Kau menyetir sendirian lagi," seruannya sayup terbawa angin, "pengawalmu pasti menangis karena selalu ditinggal pergi. Apa istrimu juga? Mubazir benar."


Jose tertawa. "Mr. Decker, coba ceritakan lagi apa yang kau lihat pada kami, ceritamu mungkin akan menutup mulut Brooks."


Hubbert menceritakan apa yang dilihatnya serinci mungkin. Ia bisa melihat dari ekspresi Brooks bahwa polisi itu tak percaya padanya.


"Biar kuulangi apa yang kudengar, sobat." Brooks memutar tubuh ke belakang, menatap langsung mata Hubbert tanpa mengedip. "Kau adalah wartawan koran Bjork. Dalam perjalanan, kau melihat orang digantung dan supir taksimu diam saja. Kau tahu bahwa hukum gantung tidak ada di kerajaan ini. Kau tahu bahwa itu hukuman primitif yang tidak sesuai dengan aturan. Lalu kenapa kau diam saja?"


"Redstone adalah daerah otonom Albion! Saya tidak tahu apa aturan yang berlaku di sini, mana mungkin saya ikut campur?" Hubbert memaksa dirinya kedengaran polos dan tenang.


Hubbert menganga. "Saya tidak bohong," katanya.


"Brooks bukan bermaksud menuduhmu berbohong," sela Jose dengan nada menenangkan. "Aku sendiri merasa itu hal aneh. Kalau aku jadi kau dan aku melihat hal aneh dari taksi, aku pasti akan minta berhenti agar bisa mengamati lebih jelas. Namun kau tidak melakukannya. Seperti Brooks, aku jadi bertanya-tanya apa alasanmu. Apakah ada hal yang membuatmu merasa itu adalah hal wajar?"


"Atau kau justru merasa itu sangat tidak wajar sampai takut mengamati lebih jelas?" timpal Brooks.


Dalam benak Hubbert kembali berputar sosok-sosok lusuh berpakaian katun yang berkerumun di bawah tiang gantungan, bersorak-sorai menonton manusia meregang nyawa. Adegan itu terasa makin samar dan jauh, seolah ia tidak benar-benar melihatnya, seperti mimpi di pagi hari yang makin lama makin kabur.


"Saya ..." Hubbert mengerutkan kening, mencoba mencari alasan, tapi tidak menemukan satu pun. Ia memang hanya melihat kejadian tersebut sekilas dari balik kaca mobil, lalu meski merasa heran, tapi entah kenapa sama sekali tak tergerak untuk turun atau berhenti.


"Baiklah, tidak usah dipaksakan," Brooks berkata penuh simpati, lalu mengembalikan tubuhnya menghadap depan. "Kau mau taruhan denganku, Jose? Kutebak kita tidak akan menemukan apa-apa di sana."

__ADS_1


Jose hanya tersenyum, sama sekali tidak melambatkan laju mobilnya. "Brooks, kau tahu kenyataannya akan lebih mengerikan kalau kita tidak menemukan apa-apa."


"Apa maksud Anda?" tanya Hubbert cepat, "kenapa jadi lebih mengerikan?"


"Kau bukan orang pertama yang melihat eksekusi dilakukan di sana," kata Brooks. Matanya menatap ke luar, ke jalanan. "Dulu, sekitar abad delapan belas kurasa, pada dua atau tiga petak ladang gandum itu memang ada tempat khusus untuk eksekusi. Tapi sekarang eksekusi tidak dilakukan di sini. Penjahat akan dikirim ke Aston atau Hadley akan dipanggil untuk melakukan eksekusi di tengah kota sebagai peringatan bagi masyarakat—tujuannya bukan lagi sebagai hiburan."


"Jadi?" Hubbert tidak bisa menebak apa yang ingin dikatakan padanya. Apakah maksudnya ada kumpulan orang yang suka menggantung manusia diam-diam? Apakah ada kejahatan bawah tanah?


Namun ia salah.


"Pernah ada yang melapor melihat pemenggalan atau cambuk atau pematahan tulang dilakukan di ladang gandum," lanjut Brook dengan nada berat. "Tapi saat kali aku datang ke sana untuk memeriksa, kau tahu apa yang kulihat?"


Hubbert tidak tahu. Ia tidak bisa menebak.


Jose yang menjawab, "Tidak ada apa-apa di sana, Mr. Decker. Mayat, darah, orang-orang, semuanya hilang seolah tak ada apa pun yang terjadi."


Rasa dingin menyergap punggung Hubbert. Tiba-tiba saja terik matahari di luar sana tidak lagi terasa menyengat.


"Sejak itu tak ada lagi yang membuat laporan resmi, orang-orang masih melihat, tapi berita hanya beredar dalam desas-desus yang tak bisa dilacak. Semua orang mulai menerimanya sebagai ilusi, sebagai salah satu mitos urban." Brooks mengangkat bahu. "Tapi biasanya orang hanya melihat hal itu dari jauh, karena itu makanya tidak ada penyelidikan lebih lanjut. Ahli yang dimintai pendapat hanya bilang bahwa itu ilusi optik. Maklum saja sih, karena tidak ada bukti."


"Baru kali ini ada yang melihatnya dari dekat," Jose menambahkan. "Kuharap kali ini aku juga bisa melihatnya."


"Nah bagaimana, Mr. Decker?" Brooks menoleh, memberinya cengiran lebar. "Kau mau ikut bertaruh? Tebak apakah yang kau lihat itu memang nyata atau tidak!"


Hubbert menelan ludah. Kadang ia merasa manusia adalah makhluk paling menjijikan dan berbahaya di dunia ini. Namun pada saat seperti ini tetap saja Hubbert jadi merasa melihat manusia akan jadi pilihan yang jauh lebih baik. Meski tahu bahwa pilihannya tidak berperikemanusiaan, ia harap yang dilihatnya tadi memang benar-benar manusia sungguhan.


***

__ADS_1


__ADS_2