Reinkarnasi Menjadi Putri

Reinkarnasi Menjadi Putri
Chapter 14


__ADS_3

Raja Anggara meminta agar Pangeran Rey bisa menemani Canaya maupun Kira bermain. Bagaimana pun juga,seisi ruangan sama sekali tak mengenal Kira..


Apalagi tercatat di pikiran mereka, Kira gadis itu seorang yang hampir bisa di katakan pembunuh.


Pangeran Rey hanya bisa menyetujui perkataan ayahnya,Canaya juga adalah prioritasnya. Dia harus melindungi Canaya dengan segenap kemampuannya.


Lelaki itu menampakan kakinya di lantai. Para pelayan yang Ia lewati ,hanya Ia cuekan saja. Namun,tak membuat para pelayan itu sedih. Pangeran Rey,mau ketemu perempuan cantik di luar sana tetap tidak kepincut. Banyak cara yang wanita penuh obsesi lakukan,namun tak membuat hati Pangeran Rey tergeser sedikit pun.


Lelaki itu terus bertanya di mana keberadaan Canaya,dan orang yang di katakan sahabat itu.


Tak sengaja dirinya melewati taman,di mana tempat itu adalah tempat orang untuk berlatih pedang.


Pangeran Rey yang melihat dengan jelas,Kira dan Canaya tengah memainkan pedang. Lelaki itu langsung berjalan ke arah Canaya,dan segera menarik tangan gadis itu secara paksa.


“Kak Rey..”Lirih Canaya.


Lelaki itu menoleh ke belakang menatap sekilas wajah Kira.


“Bagaimana bisa kamu memainkan pedang dengan seorang anak kecil berumur 10 tahun? Bahkan dia sendiri tak bisa memainkan pedang. Kamu ingin membunuhnya?”Bentak Pangeran Rey secara kasar.


Kira yang mendapat perlakuan Pangeran Rey seperti itu hanya bisa menangis dan meraung sekuat - kuatnya. Tubuh lelaki itu tak tampak lagi,lelaki itu tak tau bagaimana penampakan Kira jika sedang sedih.


Tak pernah sekalipun dia mendapat amarah dari Pangeran Rey,tak pernah.. Tapi,kali ini di depan semua orang,Pangeran Rey berani membentaknnya. Padahal,Pangeran Rey tak pernah memarahinya, walaupun dia melakukan banyak kesalahan. Entah Pangeran Rey berubah,atau memang karena dia ada di dalam tubuh Kira.


‘Kasihan sekali dia’


‘Siapa suruh dia hampir membunuh Putri’


‘Kenapa dia bisa menjadi sahabat Putri Naya’


Banyak cercaan,bisikan kasihan,dan hinaan untuknya. Gadis itu mengusap wajahnya dengan kasar,tak seharusnya dia sedih bukan?

__ADS_1


Ya,benar tak seharusnya dia mengeluarkan air mata dengan cuma - cuma. Cukup sudah,sekarang dirinya tak lagi mau di katakan seorang yang lemah. Dia berjanji tidak akan sekalipun menangis mengeluarkan air mata dengan alasan yang sepele.


“PERGI KALIAN!? AKU TAK BUTUH BELAS KASIHAN KALIAN!”Gertak Kira.


Bisa dilihat dari mata Kirana,beberapa orang mencebikan bibirnya ke arah Kira.


Namun,semua itu hanya di balas oleh Kira dengan raut wajah datar.


Gadis itu berjalan terpincang - pincang di lantai,berusaha berjalan untuk menemui tabib ,merawat luka yang sedang melanda di bahunya.


Setelah menemui ruangan itu,dia langsung meminta diobati dengam wajah tak berekspresi.


“Kamu Kirana Austcia Malika kan?”Tanya tak yakin sang tabib.


Gadis bernama Kira itu,hanya bisa menatap sang tabib yanga ada di depannya dengan wajah heran. Seperti menandakan siapa itu? Namun,menurut sang tabib wajah Kira seperti sedang menampakan siapa dirinya. Berarti dia harus memperkenalkan dirinya.


“Nama saya Primosrena,biasa di panggil Rena. Saya adalah tabib yang merawat mendiang ibu mu,namun ibu mu tak berhasil saya selamatkan karena dewa yang di atas sudah menjemput.”Ceritanya. “Akhirnya,saya memutuskan untuk pindah ke negeri lain.. Dan pada akhirnya juga saya di angkat menjadi tabib kerajaan.”


“Tak di sangka,wanita angkuh,dan melakukan apapun untuk mendapatkan hati raja di kerajaan itu.. Datang ke sini untuk merebut hati Raja Sean dan Ratu Miranda,dengan memanfaatkan anaknya sebagai sahabat mu. Heh,kau mengancam apa dengan Putri Naya?”Sinis pelayan itu.


Sudah cukup,Kira tak mau meladeni wanita paruh baya yang ada di depannya. Kesabaran juga ada batasnya.


“CUKUP!? Aku tidak perduli anda mengatakan apa,anda bukan siapa - siapa saya... Jadi,anda tidak berhak untuk mengatur hidup saya,campur tangan dengan kehidupan saya. Bahkan,merawat ibu saya saja tidak bisa. Benar - benar tak berhak!”Cerca Kirana.


Setelah mengatakan kekesalannya itu,gadis itu melangkah pergi menjauh dari ruangan itu. Meninggalkan wanita paruh baya terpatung pada tempatnya.


Tak berubah-batin Rena.


Setelah keluar dari ruangan itu,Kira menyadari dirinya jauh lebih bebas sekarang. Tak perlu sekolah,tak perlu lelah untuk berpura - pura sopan,namun tak bebas untuk melakukan apapun,karena salah sedikit saja dengan Fifi,pasti dia akan di hukum. Mungkin dia bisa menikmati hidupnya sebagai Kira,sampai menemukan penyihir yang bisa mengembalikan mereka ke tubuh masing - masing.


Ooo

__ADS_1


“Sial!”Umpat Kirana yang mendengar pernyataan Canaya.


“Kamu harus bersekolah Naya,biar kamu pintar.. Emang apa rugi nya sih?”Gemas Canaya.


“Banyak ruginya tau! Toh,kalo aku kembali ke tubuh aku.. Aku ga perlu cari kerja,atau jangan - jangan kamu udah nyaman dengan kehidupan kamu sekarang? Jawab!?”Bentak pelan Kirana.


“Huft... Jangan berpikir negatif dulu Naya,aku bukanya nyaman. Tapi,aku sendiri suka bersekolah. Dan oh iya,di sekolah kamu kan tidak ada teman. Tolong bantu aku carikan teman.”Pinta Canaya.


Kirana tertawa hambar. “Astaga Fifi,kamu tau ga sih,nyadar ga sih? Aku itu kan cewe nakal,dan banyak jauhin aku. Terus kamu nanya dan minta aku cariin kamu temen,ogah!”


Perkataan Kira ada benarnya sih,tapi Canaya berjanji dia akan mendapatkan teman. Sekaligus agar dia bisa menikmati bagaimana hidup sebagai putri walau sesaat.


Ooo


Akhirnya,masa sekolah tiba. Sedangkan Pangeran Rey,lelaki itu sudah kembali ke kerajaannya mengurus beberapa masalah yanga ada di daerahnya.


Setelah kejadian ke salah pahaman yang sudah di jelaskan oleh Canaya,lelaki itu tak merasa malu sedikit pun. Karena khawatir itu wajar kan,namun kesalahannya itu selalu menghantuinya di mana pun dia berada.


Canaya tengah bersiap - siap dengan ranselnya,tak menyangka sebulan penuh Ia habiskan di kerajaan. Cukup menarik hidup dan tinggal di sini menurutnya.


Gadis itu menghela nafas pelan,dan berjalan ke kamar Kirana.


Bisa di lihat Kirana menekuk wajahnya du depan cermin. Gadis kecil itu berjalan ke arah cermin,mendapati Kirana tengah menoleh ke arahnya.


Baju yang di pakai Kirana masih berbentuk piama,remaja itu masih belum bisa terbiasa tanpa pelayan. Seharusnya Canaya memberi perintah agar Kirana mendapat pelayan. Mengesalkan.


“Naya... Biarpun kamu akan berada di tubuh ini lagi,mau bagaimana pun juga,kamu harus bisa mandiri.”Celoteh Canaya.


Kirana yang mendengar celotehan itu hanya bisa berjalan ke kamar mandi. Seharusnya tak perlu dirinya meminta Canaya membantunya lagi,seperti kemarin. Sedangkan Canaya? Dia tersenyum menatap Kirana.


Betapa enaknya hidup kamu Nay-batim Canaya.

__ADS_1


__ADS_2