
Di sisi lain...
Seorang gadis remaja yang memiliki usia dua belas tahun,tengah tebangun dari tempat tidurnya .
Gadis itu mengedipkan matanya berulang kali,untuk memulihkan pusing yang ada di kepalanya. Secara spontan gadis itu menyentuh keningnya yang terasa pusing.
Saat penglihatannya sudah jelas dan tidak kabur,sang gadis membulatkan mata tak percaya yang ada di hadapannya. Bukankah tadi dia tengah di kamar mandi kerajaan? Dari pada itu,dia saat ini benar - benar sadar. Dia berada di suatu gubuk lusuh,berkali - kali lipat buruk dari pada kerajaan.
“Huh,lagi - lagi aku berpindah. Kenapa hidup ku bisa seperti ini? Salah apa aku? Hingga seseorang mempermainkan hidupku sekonyol ini. Huhu,aku ingin kembali ke teman - teman dan kakak - kakak di panti. Rindu tante Farah dan Tante Sinta.”Lirih Kira yang tidak lain adalah Fifi.
Fifi hanyalah seorang gadis kecil yang tidak mengerti apa - apa. Dirinya begitu stress berat. Bagaimana bisa dirinya yang begitu kecil di hadapkan kenyataan seperti orang besar lainnya? Ia tak cukup kuat untuk itu.
Gadis itu menyelipkan anak rambutnya ke belakang telinganya. Saat menyelipkan anak rambutnya,dia baru teringat akan satu hal. Bagaimana wajahnya saat ini? Apakah sama seperti dulu?
Kakinya mulai bergerak di tanah. Walaupun sebenarnya kakinya belum terlalu bisa di apdatasikan.
Fifi berusaha mencari keberadaan cermin,agar dia bisa melihat wajahnya dengan jelas. Namun,takdir tidak memihaknya karena keadaan di gubuk itu sangatlah gelap.
Lentera yang ada di gubuk itu remang - remang dan lumayan menyakitkan mata. Tapi Kira bertekad agar dia bisa menemukannya. Dia benar - benar penasaran dengan wajahnya.
Sampai suatu waktu,Kira menyerah lantaran terlalu letih. Keringat mulai bercucuran di wajahnya. Entah kenapa suhu di gubuk itu sangatlah panas.
Kira terduduk di tepi ranjangnya itu. Dia benar - benar tak habis pikir,kejadian yang menimpanya saat ini.
Lalu suatu kejadian tiba - tiba muncul di dalam benaknya. Ingatan suatu kejadian di kamar mandi itu. Sesosok gadis berwajah sama dengannya waktu di kerajaan. Siapa gadis itu ? Pertanyaan itu yang terus - terusan tertanya di dalam hatinya.
Bukan hanya pertanyaan itu,mengapa dia di sini? Juga dalam titik pertanyaannya saat ini.
Tiba - tiba suatu gemuruh di langit terdengar di puncak atas kepala Kira.
“AAAAHH!!!”Teriak Kira. Pasalnya sejak kecil dirinya takut dengan suara gemuruh. “tante Sinta,Fifi takut!”Adunya.
__ADS_1
Kira menitikan air matanya. Untuk apa dirinya mengadu. Sia - sia berteriak sekeras mungkin sampai suaranya habis pun tantenya itu tak akan datang ke dirinya.
Selama malam Kira tersungkur ke tanah,dan terduduk seraya menutup matanya dengan telapak tangannya. Isak tangis mulai terdengar di ruangan itu. Namun tidak terlalu terdengar karena hujan yang begitu deras. Bahkan,Kira sendiri tak berani keluar dari gubuk itu.
Ooo
Di kerajaan Emerald..
Seorang gadis yang memiliki tubuh kecil mungil, tengah tersenyum lebar menatap ibundanya tercintanya itu.
“Naya seneng banget hari ini!”Jelasnya.
Ratu Miranda yang baru saja datang ke kamarnya,langsung mengerutkan keningnya menatap heran putri semata wayangnya itu.
Senang tentu wajar. Namun,alasannya? Ratu Miranda berpikir sejenak seraya mengucir rambutnya.
“Kamu dapet teman baru sayang di sekolah?”Tanya Ratu Miranda sembari duduk di tepi tempat tidur yang king size.
“Tidak. Memiliki teman tidak menyenangkan.”Ketus Canaya seraya mengembungkan pipinya.
Ratu Miranda menggelengkan kepalanya. “tapi,kata salah satu pengawal kamu berteman dengan seseorang sayang.”
Canaya menggigit bibir bawahnya. Dia tau itu bukan dirinya. Itu adalah orang yang berani merebut posisinya.
Huh,sudah merebut! Mau mencoba merusak karakteristik ku!-batin Canaya.
“Ti-.. Ah iya ibunda.. Dia teman ku.”Balas Canaya seraya menampakan senyum di raut wajahnya secara terpaksa.
“Semakin hari ,semakin baik perilaku kamu ya sayang. Mama baru sadar,semenjak kamu amnesia.”Ratu Miranda berucap sembari mengelus puncak kepala Canaya. “yuk,sudah malam. Tidur yuk!”
“Iya bunda.”Jawab Canaya,lalu terdiam.
__ADS_1
Sang Ibunda sekarang sudah siap untuk tidur. Dirinya sudah menenggelamkan kepalanya di bantal bewarna putih yang empuk dan lembut.
Berbeda dengan Ibundanya,Canaya hanya terdiam. Dirinya merasa gagal. Begitu sedihnya ketika dia menyadari ibunda yang begitu dirinya sayangi,ibunda yang sangat Ia percayakan ternyata lebih menyukai orang yang berusaha menggantikan tubuhnya dan mengalih seluruh kehidupannya.
Gadis kecil itu menurunkan kakinya. Dan kaki itu mulai berjalan ke balkon. Udaranya memang berhawa dingin,tapi dia ingin menghabiskan sepanjang malam di balkon.
Titik - titik air mulai bercucuran di kelopak matanya. Gadis kecil itu menatap penuh arti bulan yang ada di langit malam.
“Haha.. Akhirnya aku mendapat buah dari banyak kesalahan yang aku perbuat. Aku sadar sekarang.. Aku sadar begitu banyak orang yang mencintai aku,justru akhirnya lelah dengan sifat ku. Aku sering kali menghina orang yang miskin,bahkan teman - teman sekolah ku. Sekarang aku mendapatkan,hasil dari perbuatan ku. Ibunda lebih menyayanginya dari pada
aku. Ibunda bahkan tidak mengetahui,bahwa dia bukan aku. Maafkan aku.. Aku ingin berubah.. Aku ingin..”Curhatannya tersela.“Aku ingin kembali lagi ke tubuhku. Aku janji aku akan berubah. Ku mohon,aku sayang ayahanda,sayang ibunda.”
Namun itu hanya sia - sia. Tidak ada sesuatu yang terjadi. Begitu rasa menyesal terpupuk di dalam hatinya. Harusnya dia tidak melakukan itu. Seperti pepatah mengatakan 'Apa yang kau tabur,itu yang akan kamu tuai'
Canaya menghembuskan nafas kasar. Dia sama seperti Fifi ,umur mereka sebaya namun sudah di hadapkan kenyataan ini. Akan tetapi,Canaya sangat trampil dalam membuat ramuan sihir. Sihir itulah yang menbuatnya berdiri di sini,di balkon dan du istana yang dirinya pijakan kakinya.
Raut wajah penyesalan lalu berubah senyuman. Lebih tepatnya.. Senyuman semiriknya. Matanya mengeluarkan cahaya merah.
“Berani masuk! Berarti harus berani melewati aku untuk keluar dalam hidupku! Setelah kekuatan sihir ini sirna,aku akan secepatnya membuat sihir hingga kau kembali ke posisi mu pelayan!”Ancam Canaya.
Segera mengancam secara tidak langsung,Canaya berjalan cepat ke temat tidurnya. Dan mengamati wajah ibundanya lamat - lamat.
“Andai Ibunda tau yang sebenarnya.. Apakah ibunda akan tetap menyayangi aku seperti dulu? Tatapan kasih sayang? Ku mohon itu akan sama.. Aku masih ingin di peluk dan di gendong kalian.”Lirihnya
Lekas kakinya mulai menjalar ke tubuh tempat tidur king size itu. Lalu dengan cepat menenggelamkan kepalanya sama seperti ibunya. Walaupun,sebenarnya Canaya tidak tidur. Gadis itu tak bisa tidur. Dia berusaha memikirkan cara,walaupun sendirinya merasa depresi.
GIMANA PERASAAN KALIAN KALAU JADI :
A. Canaya
B. Fifi
__ADS_1
KOMEN YA :)