
Prak..
Kaleng terhempas,berguling di atas jalanan,yang di selubungi bebatuan.
Kira berdecak,“Ck,kalau saja Kannya ga banyak tanya,udah dari tadi juga aku tau jalan nya kemana.”
Gadis itu menggerang frustasi,Ia seperti tak punya tujuan hidup sekarang. Saat ini,Kira tengah menunggu Kannya pulang dari sekolah nya. Kira duduk,tak jauh dari sekolah. Ia tengah duduk di bebatuan,berwarna keabuan. Yang di mana,danau itu terletak persis di belakang sekolah nya. Lebih tepatnya mantan sekolah.
Danau itu terletak tepat di belakang sekolah,namun jarang di padati murid - murid sekolah. Mungkin,karena air yang ada di kolam itu,menyengat dingin.
Kira merebahkan badan nya,di bebatuan yang lumayan besar. Mengadahkan mata nya ke arah langit - langit yang tampak cerah,menjunjung di langit. Lengan nya Ia letakan di dahi nya.
Dia sedang merenungkan kehidupan nya. Entah sekarang,Ia harus bersyukur karena bebas,atau harus kecewa karena hidup nya tampak berantakan. Ia seperti orang yang terlantar. Memang Ia tak di sukai banyak orang di kerajaan saat menenteng nama Canaya,karena sifat nya yang begitu kekanakan ke banyak orang. Banyak yang berpura - pura,menyayangi nya. Namun,tetap ada bunda dan papa nya yang terus mendukungnya,menegur nya.
Tidak.. Tidak ada di dunia ini,yang kebetulan. Semua pasti pada garis takdir nya. Namun,apa takdir nya harus merasakan karma? Karma apa yang Ia dapatkan setelah melukai hati banyak orang?
“Wah,ternyata benar kamu Kira?”Suara seseorang secara tiba - tiba muncul.
Kepala Kira menoleh secara spontan,terkejut ketika mengetahui Ia tak sendiri di danau itu. Senyum tertepis di wajah nya,lega mendapati orang yang merupakan tujuan nya datang ke sekolah ada di depan nya.
“Ta- ehem maksud ku Calista.. Sedang apa di sini?”Tutur Kira.
Calista hanya mengulas senyum tanpa membalas pertanyaan Kira,sembari mengumpulkan air,melalui ember yang Ia bawa. Lalu Ia,berjalan ke arah Kira yang sudah duduk di bebatuan besar.
__ADS_1
Ember yang Ia genggam di letakan di rerumputan,hijau yang menghias tempat itu. Kaki Calista terendam di danau,yang Kira tau itu pasti dingin.
“Tempat ini indah ya..”Lirih Calista,tanpa menatap ke arah Kira.
Kira menganggung sembari menjawab,“Iya.. Indah dan tenang..”
“Kenapa kamu bisa melihat nya?”Timpal Calista,dengan pandangan lurus ke arah ikan yang berlompat - lompatan di danau.
Kira menatap Calista,dengan harapan heran bercampur bingung. Bingung dengan pertanyaan,yang terlontar dari Calista. “M-maksudnya?”
“Kau tau? Aku sudah menyihir tempat ini,seperti danau lumpur. Kenapa bisa kau menganggap tempat ini indah?”
Kira menatap Calista dengan tatapan yang sulit di artikan.
“Heum,sudah tidak usah di pikirkan.. Bagaimana? Apa kau sudah memikirkan,kapan kita mulai belajar ilmu sihir?”Calista berusaha mengganti topik.
“K-kita boleh belajar nya mulai hari ini?”Tanya Kira dengan senyum getir nya.
Calista mengelus lembut bahu Kira,“kalau kamu ingin menjadi seperti dulu,Calista pasti akan mencari cara nya.. Jangan paksakan diri,nanti akan menyulitkan dirimu sendiri Kira.”
Pertahanan nya runtuh seketika,Ia dengan segera memeluk erat tubuh Calista. Menangis sekencang - kencang nya. Selama ini,Ia terus membohongi diri nya. Membohongi kenyataan,Ia bukan lah manusia terkuat di dunia. Pada akhirnya,Ia juga seperti manusia lainnya,juga bisa lemah.
“Aku akan tetap memilih jalan sebelum nya... Menggapai impian ku.”Lirih Nya.
__ADS_1
Ooo
Kruyukk...
Canaya mengusap perut nya,yang kosong. Entah kenapa hari ini,dia jadi mudah lapar. Padahal,sedari pagi dia sudah menyiapkan diri dengan sarapan. Mungkin,karena dia tak memakan bekal nya. Tugas di kelas nya harus Ia kerjakan,jadi,Ia tak bisa menemui Kannya sewaktu istirahat pertama maupun yang kedua.
Namun,Ia harus pulang secepat nya ke kerajaan. Rasa ingin tau nya semakin memuncak. Ia harus menuntaskan rasa ke ingin tauan nya.
Puk..
“Hai Nay!”Sapa Kannya.
“Ouh hay Kannya!”Sapa balik Canaya.
Mereka berdua berjalan beriringan satu sama lain,sembari menenteng tas mereka.
“Oh iya... Tadi aku ketemu sama Kira. Waktu istirahat tadi.”Jelas Kannya.
Kaki Canaya terhenti sejenak. Dan menatap salah seorang sahabat nya,dengan bingung. Kannya ke sekolah? Tapi tidak masuk ke kelas nya. Bertemu dengan Kannya di waktu sekolah?
Segala pertanyaan dengan secepat kilat berputar di benak nya. Namun,Ia tak menanyakan langsung pertanyaan yang ada dalam benak nya ke Kannya.
Canaya meneruskan langkah nya,“dia bicara tentang apa sama kamu Kan?”
__ADS_1
Raut wajah Kannya,berubah perlahan menjadi kesal. “Nah itu,tadi aku nanya kenapa dia berhenti sekolah.. Eh,gara gara ada guru yang manggil aku,aku kehilangan deh jejak dia.”
Seperti nya,pertanyaan dalam benak Canaya harus di tuntaskan hari ini juga. Kalau tidak,akan ada puzzle yang semakin bertambah..