
Canaya melentang kan tubuh kecil nya di ranjang,sembari menatap langit - langit kamar nya. Hari ini diri nya bosan,persis sebelum Kirana datang.
Padahal Canaya baru saja bermain bersama dengan Kirana,tapi dia sudah tak bisa jauh dari Kirana. Di pejam kan mata nya,berpikir apa yang harus Ia lakukan selama Kirana pergi.
-Flash Back-
“Kenapa? Dan kamu mau ngelakuin apa? Aku boleh ikut?”Banyak pertanyaan yang tumpah dari mulut Canaya.
“Oke,aku bales satu- satu. Aku pengen ngelakuin sesuatu,dan nanti kalau aku udah pulang baru aku kasih tau. Dan kamu tidak boleh ikut,paham?”Kirana menjawab butir demi butir pertanyaan Canaya.
Canaya yang tak bisa menolak,hanya bisa memangut - mangutkan kepala nya. Berpikir positif,mungkin Kirana tidak mau membebani nya,walau sebenarnya tak apa - apa diri nya terbebani,karena mereka sahabat. Itu akan di bahas tuntas oleh Kirana nanti setelah Ia pulang.
Gadis itu melangkah kan kaki nya,menatap sekilas punggung Kirana yang membelakangi nya. Tampak sahabat nya itu,tengah menunggu seseorang. Yang bisa di lakukan Canaya,hanya bisa percaya.
- Flash back -
“Hoamm...”Kantuk Canaya,bosan sudah menguasai nya saat ini.
Tok.. Tok.. Tok...
Mata Canaya yang hampir terpejam,langsung terbuka sempurna ,mendengar suara ketukan dari arah pintu.
“Masuk..”Balas Canaya sembari menatap pintu kamar nya,dengan pose masih tidur terlentang.
Ceklek..
Tampak seorang wanita,yang familiar ,dan orang yang paling di sayangi oleh Canaya. Wanita itu tersenyum pada nya.
“Sayang,ini bunda.”Sapa Ratu Miranda,dengan senyum yang setia mengembang.
Canaya hanya bisa tersenyum canggung,sembari duduk di tepi tempat tidur.
__ADS_1
“Bunda kenapa di sini?”Tanya Canaya.
Ratu Miranda menutup pintu dan,kemudian mendelik ke arah Canaya yang bertanya seperti itu pada nya. Canaya yang di tatap seperti itu hanya bisa menggaruk kepala nya yang tidak gatal.
Ibunda nya itu,lantas berjalan ke arah nya,dan duduk di tepi tempat tidur berwarna merah muda. “Memang kalau bunda ke sini butuh alasan? Sedangkan gadis itu tidak punya alasan bermain sama kamu?”
Tampaknya bunda nya itu, cemburu kepada anak nya sendiri. Canaya terkekeh kecil dengan penuturan Ratu Miranda.
“Apa yang lucu?”Ratu Miranda mulai menatap Canaya dengan heran bercampur bingung.
Canaya menggelengkan kepala nya. “Temenin aku di sini ya bun..”
“Dengan senang hati bunda terima tawaran kamu... Memang tujuan mama ke sini,buat nemenin kamu sayang.”Balas Ratu Miranda. “Di mana Gadis itu? Sudah pergi?”
Canaya menggelengkan kepala nya,membuat Ratu Miranda sedikit kesal. Entah lah,dirinya iri kepada remaja yang umur nya sangat jauh dari diri nya sendiri.
“Um,Kira pergi sebentar.. Nanti,dia dateng lagi kok.”
“Iya kenapa?”Tanya Canaya heran.
“Kenapa dia sekelas dengan kamu sayang? Bukan kah tingkat kelas nya berbeda dua dari kamu.”Tanya Ratu Miranda yang sudah terlanjur penasaran.
Canaya tak harus berpikir panjang,pertanyaan ini sudah terlontar oleh kepala sekolah kerajaan. Dengan santai Canaya menjawab “Can- maksud aku Kira tidak naik kelas berturut - turut sejak kelas lima.. Jadi,aku menyuruh nya untuk mengulang dari sejak kelas lima hehe..”
Ratu Miranda menepuk kening nya,berpikir kenapa anak nya begitu lugu,dan polos,padahal harusnya Canaya tak ikut campur dengan dunia pendidikan ,seorang remaja yang bahkan tidak di ketahui identitas nya.
Helaan nafas keluar dari bibir tipis Ratu Miranda,wanita itu akan bertindak ,jika terjadi lagi dengan putri nya sendiri.
Ratu Miranda tersenyum sembari mengusap puncak kepala Canaya. “Yuk cerita waktu kamu masih kecil,pasti seru deh.”Ajak Ratu Miranda,dan Canaya tersenyum senang.
Ooo
__ADS_1
“Ini rumah mu?”Tanya Kirana ragu - ragu.
Tak percaya apa yang ada di depan nya saat ini. Sebuah menara yang tinggi menggapai langit - langit. Itu di pastikan tempat burung - burung hitam berada,salah satu burung di sana pastilah gagak.
“Waktu itu,kamu pernah bilang,kalo kamu pernah meneliti atau belajar tentang ilmu sihir. Kenapa kamu tak tau tempat tinggal para penyihir?”Tanya Kannya kepada Kirana,dan hanya di balas senyum kikuk. “Sebenarnya ini bukan rumah ku,ini bisa di bilang tempat kerja ibu ku.”
Kirana mengangguk mendengar penjelasan Kannya. “Pertanyaan mu,mengenai aku belajar tentang ilmu sihir,benar adanya... Tapi,aku belum menguasai semuanya. Karena ada gangguan,makanya aku minta kamu biar mempertemukan aku dengan ibu mu. Supaya,nanti, aku bisa bertanya banyak hal pada nya.
Sembari berjalan mendekati menara,Kannya ingin menanyakan sesuatu pada Kirana. Hal,yang mengusik nya di tengah pelajaran favorite nya.
“Kenapa kamu suka sihir?”Akhirnya pertanyaan itu tumpah juga.
“Ada suatu kejadian,yang ingin membuat ku bermimpi menjadi penyihir besar. Tapi nanti aku cerita nya.”Mendengar Kirana yang seperti menyimpan rahasia,Kannya hanya bisa memajukan bibir nya beberapa senti karena tidak di kasih tau.
Tok.. Tok...
Tak ada suara,namun Kannya masuk bebas ke temoat itu.
Mata Kirana menyapu bersih tempat itu,baru masuk dia sudah di perlihatkan tangga yang berseling - seling ke menara puncak.
Kannya yang tampak membaca pikiran Kirana ,yang tau pasti melelahkan ke atas,entah bagaimana ibu Kannya setiap hari naik turun ke atas.
“Tak usah kaget,ibu ku sudah terbiasa menggunakan sapu terbang. Tangga ini bukan untuk ibu ku,tapi untuk ku yang tak bisa terbang menggunakan sapu terbang.”Jelas Kannya dan di angguki oleh Kirana.
Kannya ingin bercerita lebih lanjut kepada Kirana,mungkin sesudah diri nya bercerita,beban nya mulai berkurang satu persatu.
“Huft,aku.. Aku tak pernah suka sihir.”Jujur Kannya sembari berjalan melewati tangga itu. “Aku sama sekali tak memiliki niat apapun dengan sihir,maupun obat - obatan.. Makanya,aku bersekolah di sekolah kerajaan. Sekolah dengan standar tinggi. Untungnya,ibu tak menghentikan mimpi ku.”
Mendengar itu Canaya hanya bisa tersenyum sembari mengekori Kannya.
“Tapi,tetap saja.. Ibu membekali aku ilmu,membaca pikiran,yang pekerjaan itu harus ku tingkatkan skillnya.”Kirana menjadi pendengar yang baik. “aku kadang - kadang menikmati ilmu itu,tapi tidak semua. Karena aku tidak suka tantangan. Menjadi penyihir itu butuh tantangan. Kalau tabib? Aku bahkan tak bisa mengenal yang mana obat dan racun.”
__ADS_1
Keduanya hanya bisa tertawa geli..