
Berjalan beriringan dengan Canaya,adalah hal biasa dengan Kira. Namun,berada di sekeliling orang sekarang dia merasa risih. Karena sering menghabiskan waktu sendirian,gadis itu merasa tak perlu mendapat teman.
“Ouh anak baru,katanya dia pelayan teman - teman. Naya sudah berganti selera temannya.. Cih,seorang pelayan!”Cibir salah satu temannya Anta.
Kirana yang mendengar cibiran yang sering terdengar di gendang telinganya,melewati dengan angkuh Anta yang tengah serius menatap dirinya.
“Tch,berani sekali dia dengan aku. Dia hanya seorang pelayan.”
Canaya yang merasa Kirana tak memusingkan argumen dari Anta pun,pergi beranjak dari tempatnya mengekori Kirana.
“Anta,Canaya berbeda.. Bisa kau lihat,Naya seperti tunduk kepada pelayan sialan itu.”Bisik pelan Putri Cleo.
“Liat aja bakal aku bikin dua kali lipat perhitungan ke dia!”Cerca Anta. Putri Cleo hanya bisa tersenyum miring.
Ooo
Jam - jam berlalu dengan cepat bagi Canaya,tapi tidak untuk Kirana. Bahkan,gadis remaja itu berpikir waktu begitu lambat untuk berjalan.
Hari ini,hari yang tidak menyenangkan,juga tidak mengecewakan. Hari ini benar - benar tidak istimewa sama sekali.
Yang Kirana lakukan di kelas hanya tidur dengan pulas,dirinya sama sekali tak beranjak dari tempat duduknya,bahkan ketika istirahat tiba. Canaya berusaha membujuk nya,namun usaha nya nihil untuk berhasil. Saat di tanya oleh guru,Kirana justru seperti tidak perduli. Guru di sana sepertinya juga tak perduli dengan sikap acuh Kirana,bagaimana pun posisi Kirana di tempat itu tak di butuhkan.
Wajah sedih terbit di wajah Canaya,ketika keluar dari kelas nya. Padahal,hari ini merupakan hari favorite nya karena ada pelajaran yang di sukai nya . Sebaliknya,wajah datar,dingin tanpa ekspresi terbit di wajah Kirana,ketika keluar dari kelas. Tak ada mood nya yang membuatnya senang. Mungkin sedikit,dan alasannya karena jam - jam yang buruk sudah hilang.
Menjadi seorang Kirana ternyata,tak terlalu sulit ketika dia menjadi putri. Dia baru merasakan,nikmatnya hidup tanpa beban. Tak harus di hukum,dan memikul banyak aturan.
“Nay..”Panggil Canaya.
“Hem.”Deham Kirana sembari berjalan melangkah kan kaki nya.
__ADS_1
“Kamu... Sepertinya bosan dengan pelajaran hari ini ya? Kenapa?”Tanya Canaya sembari menyeimbangkan langkah mereka.
“Waktu aku menyandang nama Canaya,aku di paksa oleh ayah dan ibunda untuk bersekolah di sini.”Cerita Kirana sembari mencari kursi panjang kosong. “Aku tak pernah suka pelajaran,kecuali satu... Kimia,tentang ramuan,sihir. Semuanya aku sukai.. Tapi,di sekolah ini tak ada pelajaran itu. Ayahanda tak suka jika aku menjadi penyihir,sama seperti nenek.”Lanjut Kirana.
Canaya hanya menghela nafas sembari duduk bersebelahan dengan Kirana. Gadis itu menoleh,menatap orang yabg ada di sebelah nya.
“Yaudah,jangan sedih gitu.. Aku yakin kok,kamu pasti lama - pama betah dengan pelajaran ini.”Yakin Canaya.
Kirana yang mendengar itu hanya menggidikan bahu sembari menatap kosong ke arah jalanan. Suasana canggung lalu muncul secara tiba - tiba,Canaya sangat berharap orang yang akan menjemput mereka datang dengan cepat. Seharusnya,dia sudah sampai sebelum mereka keluar dari kelas. Ini sudah 20 menit lebih.
Bola mata Canaya menyusuri lingkungan sekolah nya. Namun,bola berwarna hitam itu berhenti bergerak saat melihat seseorang yang tak asing di mata nya.
“Kannya.”Gumam Canaya,dan Kirana secara sontak menoleh ke arah Canaya. “Kannya.”Panggil Canaya sembari melambaikan tangan nya.
Gadis yang tengah berjalan itu,lantas menoleh ke arah sumber suara. Langkah kaki mya terhenti,dan mengganti tujuan berjalan nya.
“Hallo juga Kannya.”Sapa balik Canaya.
Mata Kannya memincing,menyadari keberadaan orang yang tak pernah Ia kenali. Dia menatap Canaya,seolah memberi pertanda 'siapa dia'. Canaya yang mengerti tatapan itu pun menjawab tentunya.
“Namanya Kira.. Dia sahabat ku,dan tinggal di kerajaan Emerald. Anak baru di sekolah ini.”Canaya memperkenalkan Kira,dan Kannya mengangguk paham.
“Salken Kannya.”Kannya mengulurkan tangan nya.
Kira yang mendapati uluran tangan itu pun hanya menghela nafas nya,bertambah satu teman nya. Dia paling tak suka jika banyak orang yang di sekitar nya.
Dengan malas Kirana membalas jabat tangan Kannya. Namun,Kannya bisa mengetahui bahwa Kirana sama sekali tak berniat dengan nya. Wajah nya meringis,dan meminta maaf kepada Canaya.
“Maaf ya Naya,kayaknya aku harus buru - buru pulang.”Pamit Kannya dan Canaya hanya bisa mengangguk. Beberapa detik kemudian,kaki Kannya yang tengah berjalan lantas berhenti. “Nay,Kira.. Mau pulang sama aku?”
__ADS_1
Secara halus Canaya berusaha menolak ajakan itu. “Maaf sekali,kami sedang menunggu jemputan.”
“Tak ada yang menjemput mu,yakin deh.”Yakin Kannya.
Canaya lantas menatap heran dan bingung ke arah Kannya. Kannya yang merasa Canaya tak percaya dengan nya pun membalas.
“Ga yakin? Serius deh.. Aku itu anak penyihir,beberapa ilmu udah aku makan. Dan aku tau di mana posisi orang yang bakal jemput kalian berdua.”
Mata Kirana yang menatap jengah kedua orang di depan nya,langsung membulat sempurna ketika mendengar 'penyihir'.
“Huft,baiklah. Kita teman,dan kita pasti percaya satu sama lain.”Tandas Canaya.
Kedua nya beranjak dari tempat nya. Tanpa harus di suruh Kirana langsung berdiri pada tempat nya.
Ketiga gadis itu melangkah kan kaki mereka,berjalan keluar dari sekolah. Siswa siswi sekolah itu hanya menatap heran Putri yang ada di depan mereka. Seorang putri bergaul dengan anak penyihir,dan pelayan. Mungkin anak penyihir bisa di toleransi,pelayan? Apalagi mengingat sifat anti sosial Canaya. Kata hebat yang bisa terulang di bisikan mereka.
Mereka bertiga berjalan,dan di pimpin oleh Kannya,lebih tepat nya Kira dan Kannya. Canaya memang lah sering melewati jalan ke sekolah nya,namun,tak pernah mengitari lingkungan di luar sekolah nya. Dia sama sekali tak pernah di ajak oleh orangtua nya untuk keluar dari istana.
Gengsi datang ke diri Kira,ingin dia bertanya akan bagaimana tentang ilmu penyihir,semuanya. Namun,diri nya terlalu gengsi menanyakan itu.
“Oh iya,aku mau nanya dong.. Jadi penyihir enak ga sih?”Tanya Canaya membuka suara. Kirana berterima kasih kepada Canaya dalam hati nya karena mewakilkan apa yang ingin dia katakan sedari tadi.
“Hem,tidak tau yah.. Tapi.. Aku lihat ibu ku senang senang saja dan santai sepertinya.”Balas Kannya.
Canaya menyenggol pelan lengan Kannya. “Kapan nih aku sama Naya kamu ajarin ilmu sihir? Ga usah aku deh,Naya aja.”
Kannya yang mendengar penuturan Canaya hanya bisa mengerutkan kening.
“Maksud nya? Canaya? Kamu?”Tanya Kannya tak mengerti,dan Kira hanya menepuk kening nya.
__ADS_1