
Kaki Canaya berderap,melintasi lapangan sekolah nya. Sembari berjalan,Ia menunduk kan kepala nya. Kepala nya di penuhi banyak pertanyaan, banyak pertanyaan yang belum terbalas kan.
Tanpa di sadari,seseorang memperhatikan nya dari belakang tubuh nya. Seseorang itu menghampiri nya,sambil menepuk pundak Canaya.
“Naya!”Sapa gadis itu.
Canaya tak mengindahkan panggilan itu,dan tetap berjalan. Gadis yang berada di belakang nya,mendengus kesal karena tak di gubris oleh Canaya. Ia sudah berkacak pinggang,siap menjahili sahabat nya itu.
“Nayaaaa...”Satu suara beredenging di telinga Canaya.
Gadis itu celingak celingukan,mencari tau asal suara itu. Sampai bola mata nya terhenti,ke seorang gadis yang tengah tertawa terbahak - bahak.
Sontak saja,insting Canaya,menyebut bahwa Kannya pelaku nya. Sangat jelas,tidak mungkin Kannya tertawa tanpa alasan bukan? Ia sendiri tau,sahabat nya itu masih waras,dan tidak gila.
Tap.. Tap.. Tap..
“Aku tau kamu pelaku nya!”Tegur Canaya kesal.
Kannya menghentikan tawa nya,dan berusaha berakting heran.Dengusan kasar keluar dari hidung mungil Canaya,sahabat nya membuat telinga nya bergema.
“Dih,asal nuduh! Bukan aku pelaku nya!”Elak Kannya.
__ADS_1
Canaya menaikan alis nya,“pelaku atas apa?”Timpal nya. “Ga bisa jawab kan? Kalo telinga aku rusak gimana? Mau ganti?”Tukas nya.
Balasan mengesalkan dari Kannya,bukan nya meminta maaf,Kannya justru menyengir menatap Canaya tanpa dosa. “Cuman main - main Nay,serius amat.. Lagian sih kamu nya,di panggil - panggil,ga sahut.”
“Ga usah boong ya,aku ga denger nama aku di sebut ya. Telinga aku masih sehat.”
“Telinga kamu bermasalah Nay,maka nya aku tambah rusakin.”Gurau Kannya.
Canaya terdiam sebentar,sejenak dia tiba - tiba melupakan namanya saat ini. Nama masa lalu nya teringat kembali. Mengingat nama itu,raut wajah Canaya di tekuk. Bagus lah,dia masih mengingat nama 'Fifi' toh setelah,mereka menemukan penyihir yang sanggup mengembalikan mereka ke tubuh nya kembali,nama itu akan terus Ia pakai seumur hidup nya.
Kening Kannya berkerut,raut wajah Canaya berubah dalam sekejap. Apa dia salah bicara? Apa yang Ia katakan,hingga bisa membuat raut wajah Canaya sesedih ini?
Beberapa selang kemudian,Canaya tersadar dari lamunan nya.
Canaya menggelengkan kepala nya,“tidak Kannya,aku masuk ke kelas ku dulu ya. Dah..”
Serius emang perkataan aku bikin orang tersinggung ya?- batin Kannya.
Ooo
“Hey kebo! Mau berapa lama kamu mau tidur di kasur? Putri Canaya tidak ada di kerajaan,singkirkan sandiwara mu yang sama sekali tak berarti ini.”Sindir salah seorang pelayan,bernama Riru.
__ADS_1
Kira menatap sinis,pelayan yang ada di depan nya. Padahal dia sedang ingin berleha - leha,kan baru kali ini dia bisa sebebas ini. Tidak ada pengatur yang bisa mengatur nya. Namun,kebahagiaan nya seperti nya akan di rebut oleh pelayan yang bahkan berani - berani nya masuk ke kamar nya.
Gadis remaja itu tersenyum menyeringai,seringai itu mampu membuat sang pelayan bergidik ngeri. Kalau saja,Ia tak mendapat uang tambahan dari Ratu Miranda,dia pasti tak akan seberani ini,pada orang yang sudah tidak waras.
“Apa susah nya sih menjauh dari Putri Naya? Kau akan membuat hidup Putri kesulitan.”
Kira tertawa hambar, “kapan terakhir kali,kamu peduli dengan Putri Canaya? Pasti ada sesuatu yang memaksa mu melakukan ini.”
Gadis itu beranjak dari tempat tidur,tak ada niatan Riru,untuk mendekati nya. Putri yang begitu di lindungi saja,hampir di bunuh,apalagi dia yang hanya seorang pelayan. Mungkin mati termutilasi.
Kuncir yang ada di meja rias,di ambil nya,dan Ia pasang kan ke rambut panjang nya,yang tergerai berantakan.
Ia terhenti,menatap tajam Riru,yang kaki nya mulai bergetaran hebat. Langkah kaki nya mulai melangkah satu demi satu,mendekati Riru. Melihat Kira mulai berjalan mendekati nya,sekarang pelayan itu ada niatan untuk secara perlahan mundur.
Baru saja,pelayan itu ingin pergi,tangan nya tercekal,suatu kesalahan Ia datang ke sarang orang gila. Pelayan itu mulai meronta,tidak jelas. Keringat bercucuran di pelipis nya,sebuah kejadian memalukan karena Ia takut ke seorang gadis yang umur nya bahkan tak sampai 15 tahun.
Kira perlahan mendekatkan bibir milik nya,ke telinga milik sang pelayan. Berusaha membisikan sesuatu hal kepada nya. “Bilang ke Bunda Ratu Miranda,aku siap menjaga Putri Naya.”Nyeri sudah muncul di tangan pelayan itu,sudah tak tahan Ia untuk berlari pergi dari orang yang begitu menyeramkan itu.
“B-baik...”Dia bisa saja mempertanyakan hal lain,namun Ia harus cepat - cepat pergi dari tempat itu,kalau tidak tulang belulang nya bisa patah di hari itu juga.
Kira melepaskan cekalan itu,dengan sisa kekuatan nya pelayan itu berlari,takut gadis itu akan berubah pikiran dan justru mengirim nya ke akhirat.
__ADS_1