
Laga dan kedua saudaranya mencari Anggin dirumahnya, namun kekuatan mereka mengatakan kalau Anggin tidak ada disana.
"Gawat, sepertinya dia sudah mulai tidak bisa mengendalikan dirinya" ucap Laga dengan taring yang keluar.
"Sekarang kita mau cari kemana dia" sahut Dara mengendus.
Stif mengambil sedikit debu dan mengendus untuk mencari jejak Anggin, tanya laga apakah ia tahu dimana keberadaan Anggin. Angguk Stif menyuruh kedua saudaranya mengikutinya.
Terhenti Anggin disebuah jalan yang sepi, berteriak kesakitan memberontak pada dirinya.
"Haa!.."
Merunduk seperti serigala, dengan mata menyala dan setengah bagian wajah hampir membentuk wajah serigala. Tak berselang lama, Laga dan kedua saudaranya berhasil menemukan Anggin. Terhenti mereka seolah membentuk segitiga mengelilingi Anggin dengan maksud agar Anggin tidak bisa melesat jauh dan melakukan sesuatu hal yang bisa mengancam keberadaannya.
Merekapun mengeluarkan kekuatan agar rasa sakit dari gen serigala yang mengalir ditubuh Anggin sedikit berkurang, namun kekuatan mereka tidak mampu menyeimbangi. Anggin semakin memberontak dengan taring dan cakar serigala yang perlahan keluar.
Kekuatan yang semakin tak terkontrol membuatnya menggores tubuh Laga dengan cakarnya dan melesat pergi ke hutan, kesakitan Laga memegang lukanya. Stif mengambil sedikit tanah untuk menutup luka Laga agar darahnya tak tercium oleh bangsa vampir, lalu segera menyusul Anggin.
__ADS_1
Endus Riko sekejap mencium darah serigala, disusul kedua saudaranya memberitahunya kalau mereka juga mencium darah serigala.
Angguk Riko melesat pergi ke kamarnya lalu keluar dengan jaket yang menutupi badan. Tahan Kana bertanya pada Riko kemana ia akan pergi, dingin Riko metanjawab kalau ia ingin mencari tahu siapa serigala itu.
"Apa lo lupa kata bunda. Kita tidak diizinkan keluar selama 3 purnama, lo jangan cari masalah" kata Cio.
"Gue tau" sahut Riko melesat pergi.
"Keras kepala banget tu anak" jutek Cio.
"Dia tau cara jaga diri, jadi biarin dia pergi" lirih Kana.
"Sama-sama kepala batu" senyum tipis Kana.
Terhenti Riko ditempat yang tadinya dilewati Anggin, mengendus-endus dan melihat setetes darah yang jatuh. Ia kembali mengendus dan memastikan kalau itu bukanlah darah serigala putih.
"Apa benar, kalau ada serigala lain disini?" lirihnya.
__ADS_1
Ia mencoba mencari jejak serigala itu dan melesat pergi. Sementara Anggin masih belum bisa mengendalikan diri, melihat tangannya seolah mengeluarkan bulu. Anggin yang tak kuat menhan sakit langsung jatuh pingsan, sigap Laga menangkapnya.
"Apa yang akan kita lakukan padanya?" tanya Data.
Laga pun mengatakan kalau ia akan membawanya kembali ke rumah dan menyuruh kedua saudaranya untuk pergi, karena ia merasa akan ada vampir yang datang.
"Lo yakin mau bawa dia pulang, bagaimana kalau dia tetap tidak bisa mengendalikan diri dan membuat kekacauan" ucap Stif.
"Betul kata dia" Angguk Data.
"Kita akan terus pantau dia dari jauh," lanjut Laga segera melesat pergi membawa Anggin.
Terhenti Riko mencoba kembali mengendus, "Kalau memang benar ada serigala lain disini, kenapa bau mereka tidak bisa tercium."
Tiba dirumah Anggin, Laga langsung meloncat di balkon kamar Anggin. Ia lalu menaruh Anggin diatas kasur dan bergegas pergi. Tangis Mami Sindi di ruang tamu dan Marsel yang bingung menenangkan maminya, meminta Marsel untuk mencari adiknya. Bingung Marsel dengan wajah humornya bertanya pada maminya kalau ia harus mencari Anggin kemana, sementara dia juga tidak tahu kemana Anggin pergi.
"Kalo Mami tau, Mami juga nggak bakal nyuruh lu nyari adek lu!" kesal Mami Sindi yang sedih.
__ADS_1
Garuk kepala Marsel dengan wajah serba salah, "Bakal disalahin terus gue sama Mami kalo keadaannya kayak gini" bisiknya.
Masih ada lanjutannya diepisode berikutnya👇.