
Terduduk Anggin bersama Riko berdua disebuah kursi, Endus perlahan Riko mendekatkan wajahnya dileher Anggin dengan taring yang keluar seolah ingin menggigit. Nervous Anggin saat Riko mendekatkan wajahnya.
"Kamu mau ngapain" malu-malu Anggin sambil menutup mata.
Riko semakin mendekatkan wajahnya dan semakin dekat, dengan manis Riko menaruh bunga dirambut Anggin. Lirih Anggin membuka mata menatap lembut Riko, begitu juga sebaliknya. Memegang ributnya dengan senyum bahagia mengucapkan terimakasih.
"Sama-sama" sahut Riko.
"Makasih"
"Sama-sama."
Dan sekali lagi Anggin mengucapkan terimakasih, kerut alis Riko sedikit bingung dan bertanya kenapa ia terus berterimakasih.
"Ya kan, biar sama-sama terus" goda Anggin.
Senyum tipis Riko mendengar rayuan Anggin yang membuat perasaannya semakin tak menentu.
"Ada apa sebenarnya sama gue" batin Riko.
Tatapan tajam Anggin menatap mata Riko dengan dekat, "Ihh, dimata kamu.."
Kerut kening Riko bingung, bertanya ada apa dengan matanya. Sahut Anggin dengan wajah seriusnya sambil menunjuk lembut.
__ADS_1
"Ada.. aku" candaan Anggin.
Riko pun semakin dibuat malu oleh Anggin, "Eh, ditelapak tangan kamu ada apa ini" ucapnya memegang tangan Anggin.
Sipit mata Anggin melihat telapak tangannya dengan serius, mengatakan pada Riko kalau tidak apa-apa ditelapak tangannya.
"Kamu beneran nggak liat?"
"Nggak, emang ada apaan sih?"
"Masak kamu nggak liat sih, kalau ini adalah telapak tangan masa depan aku" balik Riko menggoda Anggin.
Sipu malu Anggin menahan senyum sambil menggigit bibir bawah, menepuk lirih pundak Riko.
Intip Data dibalik semak melihat ratu serigala mereka dan vampir keluarga Tara bersama. Dengan mata menyala dan taring yang keluar, ia memiliki firasat kalau vampir itu sengaja mendekati ratu serigala untuk mendapatkan belati miliknya kembali. Data berupaya menyerang vampir itu agar ia tidak sampai menyakiti Anggin, saat data akan melesat tiba-tiba Laga menahannya dari belakang.
"Lo mau ngapain?. Lo jangan gegabah."
"Gue harus nolongin calon ratu kita, karena bisa saja vampir keluarga Tara itu Anggin" ujar Data.
"Nggak perlu, karena vampir itu nggak akan bisa mendapatkan belati selama gen serigala dalam tubuh Anggin belum sempurna."
"Artinya, kalau gen serigala dalam tubuh Anggin kembali sempurna. Belati itu akan jatuh ke tangan bangsa vampir?"
__ADS_1
Sahut Laga menjawab itu akan terjadi jika Anggin tidak bisa mengontrol emosinya maka belati itu akan secara paksa keluar dari tubuhnya. Namun, sebaliknya jika ia dapat mengontrol emosi itu maka belati akan tetap aman. Data lalu membalas ucapan Laga bagaiman jika calon ratu mereka itu jatuh cinta pada bangsa vampir.
"Apakah itu tidak akan membahayakan kita?" lanjutnya.
"Takdir mereka berbeda, nggak akan ada cinta yang menyatukan mereka" kata Laga.
Laga pun mengajak Data untuk segera pergi karena jika ia berlama-lama, itu juga bisa membahayakan mereka. Angguk Data melesat pergi. Cuaca yang cerah, tiba-tiba menjadi mendung diiringi rintik hujan yang deras. Anggin dan Riko segera bangkit dan mencari tempat untuk berteduh, kedinginan Anggin mendekap kedua tangan.
Lirik Riko melihat Anggin yang kedinginan, dengan sigapnya melepas jaket dan menutupkan ke badan Anggin agar sedikit hangat. Polos Anggin menatap, bertanya pada Riko kenapa ia melepas jaketnya.
"Kamu kedinginan kan?. Sekarang kamu pakek, biar lebih hangat."
Melepas jaket dan mengembalikannya pada Riko, "Aku nggak papa kok, kamu aja yang pakek. Kamu kan juga kedinginan."
Hela nafas Riko memaksa Anggin untuk memakainya, namun Anggin tetap menolak dengan dasar kasihan pada Riko. Tanpa banyak basa-basi, Riko pun memakaikan jaket itu ketubuh Anggin.
"Udah, sekarang kamu diem dan tetep pakek ya."
"Kamunya?"
"Aku udah biasa, jadi kamu tenang aja."
***
__ADS_1