REINKARNASI SERIGALA PUTIH

REINKARNASI SERIGALA PUTIH
Cinta yang besar?


__ADS_3

Malam hari, Anggin yang melihat Nesa sudah tertidur pulas segera pergi untuk menemui bangsa serigala. Berjalan mengindip menuju balkon dan langsung meloncat.


Sekali lagi, saat akan melangkahkan kaki, tiba-tiba Riko sudah berada di hadapannya. Tertegun sejenak dan saling menatap, lirik Anggin memastikan tidak ada yang melihat mereka. Tekan Anggin bertanya pada Riko apa yang ia lakukan di rumahnya.


"Aku nggak akan biarin kamu, nyakitin keluarga aku. Sedikit aja kamu sentuh mereka, aku nggak akan segan-segan nyakitin kamu!" peringatan Anggin.


Sahut Riko menjawab kalau kedatangannya ke sini bukanlah untuk menyakiti keluarganya, ia hanya ingin meminta jawaban dari pertanyaannya tadi saat di sekolah.


"Nggak penting, dan aku nggak perlu jawab pertanyaan konyol kamu itu."


Anggin melesat pergi dan di susul Riko mengejarnya langsung menarik tangan Anggin. Toleh Anggin menggeramkan mulut dan melepaskan pegangan Riko.


"Kamu mau apa lagi sih Riko!. Udah cukup, sekarang kamu pergi dan tinggalin aku."


Riko memegang erat tangan Anggin dan terus melempar pertanyaan yang sama, "Aku cuma mau tau jawaban dari mulut kamu, apa sekarang rasa sayang kamu buat aku udah nggak ada, sedikit aja?"


Angguk Anggin, "Oke, kamu mau tau jawabannya kan?. Sekarang kamu akan tau" menarik tangan Riko dan melesat.


Terhenti Anggin di hutan dan langsung melepaskan pegangannya.


"Kamu mau tau apa perasaan aku sama kamu. Aku, udah nggak punya rasa sama kamu, selain rasa benci!. Aku, benci sama kamu, aku benci!" ucap Anggin penuh kebencian sembari meneteskan air mata.


Geleng Riko, "Nggak, aku tau kamu masih sayang kan sama aku. Dan bilang sama aku kalau perasaan kamu belum berubah sama aku, bilang Anggin" berjalan menghampiri Anggin sambil memegang lembut pundaknya.


Keras Anggin menyingkirkan tangan Riko dan mendorongnya, ia kembali mengulangi ucapan yang sama sambil menatap tajam mata Riko kalau perasaannya sudah sangat berubah, dan dia juga sangat membencinya.

__ADS_1


"Keadaan dan perasaan, semuanya bisa berubah seiring berjalannya waktu. Termasuk perasaan aku ke kamu!"


"Tapi perasaan aku buat kamu nggak berubah Gin, aku sayang sama kamu."


Tawa kesedihan Anggin, "Haha.. Apa, sayang?. Sayang kamu bilang!. Omong kosong!. Jangan kamu pikir, aku bodoh dan nggak tau. Aku udah tau semuanya, dan udah cukup kamu pura-pura lagi Riko!"


"Kamu selama ini deketin aku, cuma karena belati kan!. Jawab Riko, jawab!" lanjut Anggin.


Sahut Riko kalau awal tujuannya memang ingin mengambil belati. Tapi, seiring berjalannya waktu dan kedekatan mereka selama ini membuatnya tanpa sengaja menaruh perasaan.


"Hehe, perasaan?. Kamu itu nggak punya perasaan Riko, aku tau semua omongan kamu ini bohong!. Kalian udah tega pisahin aku dari Bunda dan bangsa serigala yang lain, kalian semua jahat!"


"Oke, aku akan ikutin permainan kamu. Aku akan penuhi tugas dan keinginan kamu" sambung Anggin.


Dengan tatapan tajam dan mata yang menyala Anggin menggeramkan tangan dan mengeluarkan cakarnya.


"Tugas kamu, akan selesai sekarang juga."


Anggin lalu melukai tubuhnya tepat pada bagian tanda belati dengan cakarnya untuk mengeluarkan belati pusaka itu.


"Anggin!" teriak Riko.


"Tetep di situ!"


Ia mengeluarkan kekuatannya dan menarik belati dari dalam tubuhnya, tenangnya menahan rasa sakit yang seolah menyayat tubuhnya itu. Tak berselang lama, belati pun ada di genggaman tangannya.

__ADS_1


"Aku nggak akan jadiin belati ini sebagai perisai aku lagi, kamu mau belati ini kan?. Sekarang kamu ambil dan penuhi tugas kamu, buruan habisi aku!" melempar belati itu pada Riko.


Tertegun Riko menatap belati, tekan Anggin meminta Riko untuk segera menghabisinya.


"Ayo Riko, tunggu apa lagi!. Inikan yang kamu mau. Sekarang aku udah ada di depan kamu, dan belati juga sudah di tangan kamu. Aku bebasin kamu untuk bisa habisin aku sekarang, ayo Riko!"


Perlahan Riko mengangkat tangannya dan mengarahkan belati pusaka itu tepat ke jantung Anggin. Perasaannya tak karuan, ia merasa tak tega dan tangannya merasa lemah jika harus menyakiti Anggin. Terhenti Riko kembali menurunkan tangannya, ia mengurungkan niatnya untuk menghabisi Anggin.


"Nggak, aku nggak bisa. Aku nggak bisa nyakitin kamu Gin."


"Tapi kamu udah nyakitin aku Riko, kamu udah nyakitin aku!. Sekarang cepet, cepet habisi aku!"


"Aku nggak bisa!" ucap Riko sembari melangkahkan kaki melesat pergi.


Teriak Anggin menghentikan Riko, "Tunggu!. Kamu yakin nggak mau habisi aku, kamu yakin mau sia-siain peluang besar kamu ini!. Kesempatan ini nggak akan datang 2 kali Riko, aku udah kasih kesempatan sama kamu untuk habisi aku sekarang. Jangan sampai kamu nyesel, karena udah sia-siain kesempatan ini."


"Aku akan lebih nyesel, kalau aku nyakitin wanita yang aku cinta."


"Heh, kamu udah buat kesalahan besar dengan menyia-nyiakan kesempatan ini Riko. Kamu tau kan, apa yang bisa aku lakuin kalau aku masih hidup. Aku, bisa buat hidup kamu, dan bangsa vampir kamu itu nggak akan aman. Karena aku, adalah kebinasaan kalian semua!" tekan Anggin.


"Aku nggak peduli Gin. Mau kamu habisi aku sekalipun, aku terima. Karena cinta aku buat kamu sekarang, jauh lebih besar dari kebencian kamu" ucap Riko lalu melesat pergi.


Bingung Anggin dengan perasan yang kacau, ia tak tahu apa yang ia rasakan saat ini. Iapun meluapkan kekesalannya dengan memukul sebatang pohon yang ada di belakangnya


"Hahh!" kesalnya mengusap kepala.

__ADS_1


***


__ADS_2