
Masih episode sebelumnya ya guys 👌.
Jangan lupa tinggalin jejak kalian setelah selesai membaca 🙏.
Pergi Anggin menemui Riko, menarik tangannya dan membanting badannya ke sebuah pohon. Menatap Riko dengan tatapan tajam dan menyimpan emosi, tekannya bertanya pada Riko kemana ia sudah membawa bundanya.
"Aku nggak tau dimana Bunda Astra" santai Riko.
"Dimana, Bunda gue!" ulang Anggin sembari menekan nada.
Riko kembali mengulangi ucapannya kalau ia juga tidak mengetahui dimana keberadaan Ratu serigala. Emosi Anggin seolah membara dan tak percaya dengan apa yang di katakan Riko, dengan tegasnya ia meminta Riko mengatakan dimana dia sudah menyembunyikan Ratu serigala sambil memegang erat baju Riko.
Jelas Riko menjawab kalau ia benar-benar tidak tahu dimana Bundanya (Astra). Riko pun menjelaskan kalau ia mendengar saat ratu serigala tiba-tiba menghilang dalam peperangan.
"Aku bener-bener belum lakuin apapun Gin. Aku kira, justru bangsa serigala yang udah bawa Bunda kamu."
__ADS_1
Tertegun Anggin melepas lirih pegangannya pada Riko, dengan tatapan kosong ia bertanya-tanya.
"Jika bukan lo atau bangsa serigala, terus siapa yang bawa Bunda?"
Lirih Riko menggelengkan kepala, sementara Anggin langsung pergi tanpa sepatah kata lagi.
...
Di kamar, mondar-mandir Nesa merasa cemas dengan keadaan sahabatnya (Anggin). Lirihnya sembari berfikir apakah tindakannya sudah benar dengan menuruti ucapan Riko, harapannya pada Riko agar bisa menepati ucapannya dan benar-benar menjaga Anggin.
Sejenak Anggin menatap Nesa dan menyingkirkan tangannya, dan tanpa sepatah kata, Anggin berjalan duduk di tempat tidur sambil melepas jaket yang di pakainya. Kerut bibir Nesa paham dengan gelagat kesal Anggin padanya, ia pun segera menghampiri Anggin sambil meminta maaf.
Tajam Anggin menatap dan gemasnya bertanya pada Nesa kenapa ia harus menuruti ucapan Riko sambil memegang pundaknya.
"Lo tau kan Nes, ini tu peperangan pertama gue sama bangsa serigala selama belasan tahun ini. Tapi, justru saat penting kayak gini gue malah nggak ada di sana!" lanjut Anggin.
__ADS_1
Kerut bibir Nesa dengan wajah bersalah, ia mengatakan kalau ia terpaksa mengikuti arahan Riko agar nyawanya (Anggin) tidak dalam bahaya, keluh Anggin memegang kepala sembari menunduk.
"Tapikan, lo sekarang nggak kenapa-napa Gin. Artinya, apa yang di bilang Riko itu bener. Kita itu sama-sama khawatir sama lo Gin, makanannya kita terpaksa lakuin ini sama lo. Maafin gue ya?.."
Hela nafas Anggin menatap sayu Nesa, "Gue lebih baik korbanin nyawa gue demi bangsa sama bunda gue, Nes. Asalkan bangsa sama bunda gue selamat. Tapi sekarang sebagian bangsa gue harus gugur, dan Bunda juga nggak tau kemana" wajah sedih Anggin.
Bersalah Nesa mencoba menenangkan Anggin sambil meminta maaf, lirihnya mengatakan kalau ia tidak tahu jika keadaannya akan serumit ini.
"Gue bener-bener minta maaf ya Gin, gue cuma khawatir sama lo. Lo itu kan sahabat gue satu-satunya, gue takut kalo lo kenapa-napa. Dan bukan cuma gue, tapi Mami Sindi, Marsel dan mungkin juga bangsa serigala bakal sedih kalau harus kehilangan calon Ratu mereka sekali lagi."
Tertegun Anggin saat mendengar ucapan Nesa, ia tak menyangka kalau sahabatnya itu sangat memikirkan keluarganya serta bangsa serigala.
"Gue tau kekhawatiran lo itu Nes. Tapi, ini memang konsekuensi yang harus gue hadapi. Gue ini calon Ratu serigala, dan tanggung jawab gue itu untuk melindungi bangsa serigala. Jadi gue minta, lain kali lo nggak perlu denger apa yang di bilang sama Riko, walaupun nyawa gue taruhannya. Janji?" tenang Anggin mengucap.
Kerut alis Nesa bingung, karena rasa bersalah iapun tidak bisa menolak apa yang dikatakan sahabatnya dan mengiyakan ucapannya.
__ADS_1
***