
Lirih Anggin memanggil Laga saat keluar ruangan, henti langkah kaki Laga sejenak menoleh dan langsung melesat pergi.
"Laga!. Kenapa lagi sih tu anak" melesat menyusul Laga.
Saat melesat, Anggin langsung menghentikan Laga dengan memegang tangannya, "Lo kenapa sih, lo marah sama gue?"
"Nggak, ngapain gue harus marah. Udah ah, gue mau pergi" kembali pergi.
"Laga!. Ihh, nyebelin banget tu serigala."
Keluar Anggin di area taman sekolah, tiba-tiba ia melihat seorang wanita mengintip dari kejauhan dan langsung melesat pergi. Kerut alis Anggin sedikit bingung karena tak pernah melihat wanita itu sebelumnya baik dari bangsa serigala atau vampir.
Endus Anggin untuk memastikan dari bangsa mana wanita itu, sayangnya indra penciumannya belum mampu menembus. Anggin pun mencoba mengikutinya, namun ia justru kehilangan jejak sampai kehutan.
"Siapa dia?" lirihnya.
Lirik Anggin melihat sebuah darah hijau yang menempel di sebuah pohon, berjalan mendekat dan memastikan kalau itu memanglah darah bangsa vampir.
__ADS_1
"Ini memang darah vampir, apa ini darah cewek tadi. Tapi, kenapa gue nggak bisa mencium aroma vampir sama sekali?" semakin bingung.
...
Malam hari, meloncat Anggin dari balkon kamar dengan kekuatannya. Namun, tanpa ia sadari ternyata Marsel sedang melakukan olahraga malam dan tak sengaja melihatnya dari kejauhan.
Terkejut Marsel tak percaya bagaimana adiknya bisa melakukan hal itu dengan mudahnya, melihat balkon itu cukup tinggi. Kembali Anggin menunjukkan kekuatannya dengan melesat, Marsel pun langsung tertegun bingung dan sedikit ketakutan.
"I-itu bener Anggin kan. Ko-kok, dia bisa lari secepet itu?. Setan bukan sih?" mengusap wajah dengan mata jelinya.
Berlari Marsel kedalam rumah, karena takutnya ia sampai tak sadar kalau pintu rumahnya belum dibuka.
Berlari Marsel masuk ke dalam kamar, menarik selimut dengan takutnya ke seluruh badan. Mata sedikit mengintip untuk memastikan dirinya baik-baik saja.
"Kenapa Anggin bisa lari sat set gitu sih, atau jangan-jangan Anggin bukan manusia lagi. Tapi kakinya kok masih napak" parno Marsel.
Tiba Anggin ditempat persembunyian bangsa serigala, yang mana seluruh bangsa serigala sudah bersiap untuk peperangan kali ini. Hela nafas Anggin entah kenapa di peperangan kali ini ia merasa begitu cemas tak menentu.
__ADS_1
"Kamu kenapa?" lirih Astra memegang lembut pundak Anggin.
"Anggin nggak kenapa-napa, Bun. Tapi, nggak tau kenapa di peperangan kali ini, Anggin ngerasa akan ada hal besar yang terjadi."
Lembut Astra meminta Anggin untuk tetap tenang dengan mengatakan apapun yang terjadi dipeperangan kali ini pastinya akan membawa dampak baik untuk kedepannya.
"Dampak baik seperti apa, Bun. Peperangan apa yang membawa dampak baik. Jujur, Anggin udah capek dengan ini semua, apa kita nggak bisa hidup tenang dan baik-baik aja."
"Secepatnya hal itu akan terjadi."
Tertegun Anggin menatap lembut Astra, sejenak ia memberi pelukan hangat untuk Bundanya.
Tak berselang lama, peperangan pun dimulai. Anggin dan Riko mencoba saling menghindar untuk tidak saling menyerang satu sama lain dipeperangan kali ini.
Anggin justru dihadapkan dengan Seli, tatapan tajam Seli seolah ingin mengakhiri semuanya dengan serangan penuh yang ia keluarkan. Sedikit kewalahan Anggin kerena hasrat Seli untuk menghabisinya yang begitu besar. Namun, kali ini Anggin berhasil memberikan beberapa goresan ke tubuh Seli.
"Kurang ajar" lirih kesal Seli dengan mata menyala-nyala.
__ADS_1
Sejenak Seli menghindar dari Anggin untuk kembali mengumpulkan kekuatannya dengan sedikit rencana yang sudah Seli siapkan sebelumnya.
...