REINKARNASI SERIGALA PUTIH

REINKARNASI SERIGALA PUTIH
Kaget!


__ADS_3

"Siapa, yang sudah menyerang Astra dengan belati ini!" tekan Riko sambil memegang belati.


Terdiam mereka hanya menggelengkan kepala. Sekali lagi Riko mengulangi pertanyaan yang sama, namun tetap tidak ada yang menjawabnya.


"Riko, belati itu sudah Bunda simpan ditempat yang aman. Jadi, nggak mungkin kalau pihak luar bisa mengambilnya. Tapi, bagaimana bisa belati itu-.." ucap Tara terhenti.


"Kalau pihak luar tidak bisa mengambil belati ini, itu artinya ada pihak dalam yang sengaja ingin membuat perpecahan antara bangsa serigala dan vampir semakin dalam. Siapapun itu, akan aku cari!" lanjut Riko.


Menyala mata Seli dengan raut wajah panik mencoba tatap tenang. Sahutnya dengan santai menjawab Riko dengan meminta Riko untuk tidak bereaksi berlebihan.


"Bukankah itu justru lebih bagus kalau Astra sudah tiada, karena tujuan kita akan jauh lebih mudah. Lagian, dalam peperangan bukan hal aneh kalau harus ada yang tiada."


Tajam Riko menatap Yola, "Atau jangan-jangan, kamu yang sudah lakuin ini?"


"Kalaupun iya, ini juga suatu hal menguntungkan bukan?. Jadi lebih baik, kita nikmati apa yang sudah terjadi. Dan pikirkan peperangan selanjutnya" sahut Seli lalu melesat pergi.


Angguk Tara menyetujui ucapan Seli dan menyusul melesat pergi. Dekat Kana dan Cio mencoba menenangkan Riko, lirih Cio mengatakan pada Riko kalau ia paham apa yang ia rasakan (Riko).


"Gue juga udah capek dengan peperangan ini. Gue juga mau kalau bangsa vampir dan serigala hidup damai tanpa menyakiti satu sama lain. Tapi, apa mungkin?" kata Cio.


"Itu mungkin, jika kita segera bertindak. Sepertinya, memang ada yang sengaja memprovokasi bangsa serigala dan vampir" sambung Kana.


Tatapan menyala Riko sambil menatap belati ditangannya.

__ADS_1


Hela nafas Anggin didepan rumah dan segera masuk dengan meloncat ke balkon kamarnya. Saat masuk ke kamar, Anggin dikejutkan dengan keberadaan Marsel yang menunggunya dengan tatapan sinis.


"E-elo, ngapain disini?" gugup Anggin.


Henti Marsel meminta Anggin untuk tetap berdiri didepan pintu, berjalan sok gagah menahan takut.


"Ke-kenapa?" bingung Anggin.


"Tetep disitu. E-elo siapa, jawab jujur?" ucap Marsel dari kejauhan.


"Gu-gue?. Ya gue Anggin, lu lupa ingatan apa gimana sih?"


"Nggak, nggak mungkin. Gue tadi liat lu lompat dari atas balkon, terus bisa ngilang ce-cepet banget. Dan sekarang, lu bisa naik lagi ke balkon kamar cuma dengan tangan kosong. Lu siapa, jawab jujur!" tekan Marsel.


"Jangan deket-deket, te-tetep disitu!"


Tak mau mendengarkan Marsel, Anggin terus mendekati Marsel. Semakin dekat, dan semakin dekat membuat keringat dingin Marsel keluar karena begitu takutnya.


"Abangku sayang, Abang mau tau kan siapa aku?"


Gemetar Marsel mengangguk, ucap Anggin dengan senyum santai mengatakan kalau dia adalah serigala.


"Hehe nggak mungkin, mana ada serigala jadi-jadian didunia ini. Lu pasti setan kan!"

__ADS_1


"Nggak percaya, kalau aku serigala?"


"Ng-nggak!"


Tanpa berfikir panjang lagi, Anggin menunjukkan jati dirinya didepan Marsel dengan memperlihatkan taring dan mata menyala. Tertegun kaku Marsel melongo tak percaya.


"Masih nggak percaya lagi?" lanjut Anggin.


Kembali Anggin menunjukkan cakar dan bulu-bulu tipis serigala yang ada ditangannya tepat didepan wajah Marsel. Marsel pun dibuat begitu ketakutan tak percaya, dan langsung terjatuh pingsan.


"Se-seri-.."


Keberatan Anggin dengan wajah lucunya, "Duhh.. pakek acara pingsan segala. Mana berat banget lagi, beban banget sih!. Lagian lo juga Gin, ngapain harus nunjukin jati diri lo!. Udah tau Abang lo ini lemah, mana nggak bisa dipercaya lagi" memapah Marsel ke atas kasur.


Beberapa menit berlalu, terus Anggin membangunkan Marsel yang tak kunjung bangun sambil menepuk-nepuk wajahnya.


"Duh Bang, bangun dong. Jangan-jangan, Abang gue lewat lagi?" wajah polos Anggin.


Mendengarkan detak jantung Abangnya dengan meletakan telinga ke dada Marsel. Lega Anggin menghelakan nafas saat mengetahui jantung Marsel masih berdetak.


"Huh, masih aman. Bangun dong, masak gitu doang pingsan sih!" dumel Anggin terus menepuk wajah Marsel.


...

__ADS_1


__ADS_2