REINKARNASI SERIGALA PUTIH

REINKARNASI SERIGALA PUTIH
Bayangan


__ADS_3

Saat dikamar, terus Mami Sindi membangunkan Anggin yang tak kunjung sadar.


"Bangun dong Gin, adekku sayang" sambung Marsel.


"Duhh.. gimana dong adek lu ini nggak bangun-bangun. Buruan deh lu panggilan dokter sana."


Angguk Marsel mengiyakan ucapan Maminya dan bergegas mengambil ponsel.


"Duh, kenapa pakek acara manggil dokter segala sih" batin Anggin.


Saat panggilan tersambung, Marsel pun langsung menyuruh dokter datang kerumahnya dan menjelaskan kalau adiknya tidak sadarkan diri. Anggin yang cemas dengan kedatangan dokter pun langsung membuka perlahan mata dan berpura-pura memegang kepala terasa sedikit sakit.


"Duhh, kepala gue" lirihnya.


Senang Mami Sindi melihat Anggin yang sudah siuman, begitu juga dengan Marsel.


"Eh, nggak jadi Dok, adek saya udah sadar ini" ucap Marsel dengan lawakan langsung mematikan ponsel dan menghampiri Anggin.


"Gimana sih?" bingung Dokter.


"Kenapa sayang, dimana yang sakit?" tanya Mami Sindi.


Dengan bodohnya Marsel bertanya pada Anggin kenapa ia harus pingsan sambil menyentil lirih wajah Anggin, kesal Anggin mengerutkan kening dan bergegas duduk.


"Heh, ini juga gara-gara lu bang!. Lu ngapain pakek acara nimpuk muka gue sama panci, mana sakit lagi (lirihnya memegang kening)."

__ADS_1


Jelas Marsel mengatakan kalau ia tidak bermaksud memukulnya, tapi ia hanya ingin memukul kecoa yang kebetulan ada di keningnya (Anggin).


"Ya kan bisa disingkirkan aja pakek tangan, nggak perlu juga di pukul pakek panci!"lanjut Anggin


"Ya.. gue juga geli kali. Jadi gue ambil aja barang yang kebetulan deket sama gue."


"Tuh Mi, liat kan. Resek banget kan dia, mana kepala Anggin sakit banget lagi.." manjanya.


Cibir Marsel mengikuti ucapan adiknya, kesal Anggin balik mencibir dan terjadi perdebatan kecil diantara mereka. Teriak Mami Sindi yang dibuat pusing dengan tingkah anaknya itu.


"Duhh.. kalian ini ya, bikin Mami pusing aja!. Lu juga Marsel, lu kan cowok, masak iya sama kecoa aja takut."


"Tuh dengerin, lembek, bakwan kukus!"


"Dasar mulut kecombrang!" sahut Marsel.


"Terus.. terus aja kalian berdua debat ya.."


Kesakitan Anggin dan Marsel meminta agar telinganya di lepaskan, alasan Anggin mengatakan kalau kepalanya sakit.


Panik Mami Sindi, "Yang mana sayang yang sakit, coba sini Mami lihat."


"Ini Mih, sakit banget.."


"Drama, drama.." cibir Marsel.

__ADS_1


"Nggak perhatian banget sih jadi Abang," kesal Anggin.


Sesaat, Anggin melihat bayangan hitam dari balkon kamarnya, endusan tajamnya mencium aroma vampir yang tidak lain adalah Riko.


"Riko, ngapain dia kesini" batinnya.


Kerut alis Marsel yang melihat Anggin terdiam dengan tatapan kosong keluar ruangan, lirih Marsel menepuk pundak Anggin.


"Lo liatin apa sih?" tanya Marsel mencoba menoleh ke arah balkon.


Sigap Anggin mencoba mengalihkan perhatian Mami Sindi dan Marsel, "Eee, e-enggak. Gue capek, gue mau tidur. Mami sama Abang keluar ya, Anggin pengen istirahat."


"Ta-tapi, kamu kan lagi pusing sayang."


"Nggak Mih, Anggin udah baik-baik aja kok, Anggin juga udah nggak pusing. Anggin cuma pengen istirahat aja, jadi Mami sama Abang keluar ya. Mami pasti capek banget kan, mending sekarang Mami istirahat ya."


"Lu kenapa sih, tiba-tiba panik gitu?. Kepala lo nggak papa kan" bingung Marsel memegang kepala Anggin.


Tepis Anggin dengan senyum garingnya mengatakan kalau dia sudah baik-baik saja, sambil membukakan pintu.


"Aneh banget deh" lirih Marsel.


"Selamat tidur," ucap Anggin.


Segera ia menutup pintu kamar dengan hela nafas lega langsung menghampiri Riko yang berada di balkon kamarnya.

__ADS_1


...


__ADS_2