REINKARNASI SERIGALA PUTIH

REINKARNASI SERIGALA PUTIH
Tremor


__ADS_3

Hari-hari berlalu, dimana Anggin dan Riko semakin dekat dan membuat rasa nyaman Anggin semakin besar. Terduduk mereka berdua ditaman sekolah, tak sengaja Cio melintas dan melihat kedekatan Riko dan Anggin. Tajamnya menatap dengan wajah tak suka melihat Riko begitu dekat dengan manusia.


"Sepertinya dia sudah lupa dengan tujuannya datang kesini!" tekan Cio dengan mata menyala lalu melesat pergi.


Berjalan Nesa dengan kesal mencari Anggin yang tak tahu dimana, "Ihh, kemana sih Anggin!. Kebiasaan deh gue ditinggal mulu."


Wajah betenya menghentikan langkah mengibaskan rambut sambil ngedumel, tak sengaja Kana tiba-tiba muncul berjalan tergesa dan menabrak Nesa. Terkejut Nesa dan membuatnya tak terjatuh tak bisa menyeimbangkan badan, dengan sigap Kana menangkap. Melongo Nesa melihat Kana yang membuat dirinya kagum dengan wajahnya yang begitu manis.


"Manis banget" lirihnya menjerit senang.


"Ma-maaf, nggak sengaja" ucap Kana sambil melepaskan pegangannya.


"Sengaja juga nggak papa kok. Emm, oh iya. Kamu ini adeknya Riko kan?"


Angguk Kana mengiyakan dengan senyum manis. Bisik Nesa memuji mereka dengan mengatakan adik dan kakak sama-sama cakep. Nesa lalu menjabatkan tangan dan memperkenalkan diri, balas Kana menjabat tangan Nesa.


"Kamu nervous ya?" tanya Nesa.

__ADS_1


"Nggak," lirih Kana.


"Hehe, tangan kamu kok dingin ya?"


Segera Kana melepaskan tangannya dengan gugup dan segera pergi, cemberut bibir Nesa saat Kana pergi.


"Yah, dia malah pergi."


Tatapan lembut Anggin, mencoba menyingkirkan sehelai rambut Riko. Riko kembali merasakan hal aneh pada dirinya setiap Anggin menyentuhnya, tak mau rasa itu terus mengganggu iapun segera menghindarkan kepalanya dengan gugup.


Senyum Anggin melihat tingkah Riko yang begitu menggemaskan, lirik Riko dengan bingung bertanya pada Anggin dengan kaku kenapa ia tersenyum seperti itu.


"A-aku nggak biasa."


"Makannya dibiasain" goda Anggin memegang tangan Riko.


Riko pun semakin dibuat gugup dan perasaannya semakin tak menentu, spontan ia melempar tangan Anggin sedikit keras dan langsung berdiri. Kaget Anggin melihat tingkah Riko yang seperti itu, dengan wajah bete merengek.

__ADS_1


"Bebep, kok kamu kasar sama aku sih. Kamu jahat!"


"Aku kan cuma becanda, tapi kamu malah kayak gitu" lanjutnya.


Toleh Riko merasa bersalah dan kembali duduk memegang lembut tangan Anggin sambil meminta maaf karena ia tak sengaja.


"Aku refleks tadi, karena aku emang nggak biasa. Maaf yah. Udah, jangan sedih gitu dong" memegang lembut dagu Anggin.


Saling menatap dengan senyum tipis yang diberikan Riko membuat Anggin langsung luluh, membalas dengan senyum bahagianya.


...


Malam hari, mondar-mandir Riko didalam kamar dengan wajah gelisah mengusap-usap wajah lalu keluar untuk mencari udara segar. Tak tahu apa yang terjadi, ia selalu memikirkan Anggin yang seolah mengelilinginya pikirannya. Ia mencoba mengarahkan pandangannya ke langit. Namun, kembali yang ia lihat bayangan Anggin. Bingungnya mengusap mata terkejut, bernafas sedikit lega melihat bayangan Anggin yang menghilang.


"Sebenarnya apa yang terjadi sama gue? (ucapnya sambil menutup mata). Kenapa gue malah jadi kepikiran sama Anggin gini!. Ayo Riko, lo harus fokus dengan tujuan awal lo. Tujuan lo sekarang adalah membuat Anggin benar-benar jatuh cinta sama lo, lalu mengambil belati itu. Bukan yang lain."


Tenang Riko menarik dan menghelakan nafas mencoba menjernihkan pikirannya.

__ADS_1


***


__ADS_2