
Kembali Anggin ke rumahnya, menoleh-noleh sekeliling memastikan tidak ada yang melihatnya. Segara ia meloncat ke atas balkon kamarnya, tiba di atas ia dikejutkan dengan Nesa yang berada di kamar. Berjalan mengindip membuka lirih pintu balkon untuk masuk ke dalam kamar.
Terkejut Nesa saat mendengar suara pintu yang terbuka, "Jangan makan gue Sri, jangan makan gue. Cita-cita gue belom kesampaian, gue juga belom nikah" nada ketakutan Nesa yang lucu.
Bingung Anggin menaikan sebelah bibir, "Sri?" bisiknya.
Keras Anggin menyenggol Nesa dengan kesalnya mengatakan kalau dia Anggin dan bukan Sri. Tertegun sejenak Nesa membuka selimut dengan mata sedikit mengintip, senangnya saat melihat Anggin dan spontan langsung memeluk. Risih Anggin meminta Nesa melepaskan pelukannya.
"Ihh, Nes lepasin!. Lo ngapain sih peluk-peluk gue!"
Kerut bibir Nesa melepaskan pelukannya, "Lagian lo kemana sih Gin!. Lo tau nggak sih, tadi tu ada suara serigala tauk. Perasaan, setiap ada suara serigala lo kagak ada. Gue takut kalo lo di terkam ama serigala gimana?"
"Sebelum dia nerkam gue, gue dulu yang nerkam dia" santai Anggin.
"Ihh, apaan sih lo Gin. Orang serius juga."
...
__ADS_1
Malam hari tiba, keluar Nesa dari kamar mandi sambil mengeringkan rambutnya yang basah. Liriknya melihat Anggin yang masih tertidur sangat pulsanya.
"Lah, belom bangun juga tu anak."
Gerhana bulan pun muncul diiringi suara auman serigala, tubuh Anggin langsung merespon dan seketika Anggin terbangun dengan cakar yang keluar dan mata menyala. Gerhana bulan itu membuat tubuh Anggin terasa begitu sakit dan seolah ingin memberontak. Nesa pun dibuat terkejut dan takut melihat Anggin yang menurutnya sangat aneh, perlahan ia berjalan menghampiri Anggin.
"Gin, lo kenapa sih?" gemetar Nesa.
Toleh Anggin menatap tajam Nesa dengan taring yang keluar, terkejut Nesa dan spontan berteriak. Sigap Anggin menghampiri dan menutup mulut Nesa, lirihnya meminta Nesa untuk tenang dan jangan berteriak.
Telan ludah Nesa gemetar ketakutan mengangguk perlahan, tertegun Nesa ketakutan tak bisa berkata-kata.
"E-elo punya taring, ca-cakar, dan ma-mata lo.. kenapa bisa Gin?"
"Gue ceritain nanti. Tapi gue minta, lo tetep diem dan jangan ceritain ini ke siapa-siapa. Gue nggak bisa ada di sini lama-lama."
Melesat Anggin keluar kamar dan meloncat dari balkon, tercengang Nesa terduduk lemas di kasur terdiam melongo.
__ADS_1
"Astaga, gue nggak mimpi kan?. A-anggin?"
Terhenti Anggin dengan menahan kekuatannya yang ingin menguasai dirinya, "Tahan Anggin, tahan!.."
Tak lama Laga bersama kedua saudaranya serta Bunda Astra datang menemui Anggin, mereka melihat Anggin yang begitu keras menahan kekuatan yang ingin menguasai dirinya itu.
"Bagaimana ini bunda, apa tidak ada cara untuk membantu Anggin?" kata Laga
"Ini, adalah perjalanan awal dari terbentuknya calon Ratu Serigala Putih. Ini mungkin memang menyakitkan, tapi ini akan berdampak baik untuk kedepannya. Karena calon Ratu Serigala, harus bisa mengontrol emosi dan tidak mementingkan ego."
"Tapi Bunda. Jika Anggin tidak bisa mengontrol emosinya, dan hal ini justru terus terjadi dalam satu malam gerhana, ini juga bisa membahayakan dia. Kita nggak bisa diem aja" lanjut Laga.
"Kita juga nggak bisa lakuin banyak hal, karena kekuatan kita juga sedang melemah" sambung Stiv.
Sejenak mereka berfikir, Laga yang memiliki rencana untuk membantu Anggin langsung melesat pergi tanpa sepatah kata diiringi teriak kedua saudaranya yang mencoba menghentikannya.
"Bener-bener keras kepala" lirih Data.
__ADS_1