REINKARNASI SERIGALA PUTIH

REINKARNASI SERIGALA PUTIH
Perasaan yang terikat


__ADS_3

Pulang Marsel dengan wajah kusut sambil membawa kucingnya, terhenti Anggin melihat Marsel dan segera menghampiri dengan sebungkus makanan ringan ditangan. Ejek Anggin melihat rambut Marsel yang berantakan dengan sampah yang masih tersangkut di rambut.


"Kenapa lu bang, berantakan banget tu rambut sama muka lo. Ini lagi, ada sampah di rambut (mengambil sampah). Lu nyari kucing, apa mulung sih?. Haha."


"Hahaha (cibir Marsel). Asal lo tau ya, ini semua gara-gara si Riko codet itu!"


"Kalo itu mah, pasti yang buat masalah lo duluan."


"Orang gue nggak ngapa-ngapain. Dia duluan tuh, orang tadi gue nyari si meong ini. Eh tiba-tiba dia dateng, terus nabrak gue dari belakang. Nyungsep lah gue ke tong sampah" heboh Marsel.


Panik Anggin bertanya apakah yang dia ucapkan itu benar, angguk Marsel dengan drama kesakitan.


"Yaampun, terus calon suami aku gimana?"


Seketika ekspresi Marsel berubah datar, menjitak lirik kepala Anggin. Kerut alis Anggin mengusap kepala menatap kesal Marsel.

__ADS_1


"Duh, sakit!"


"Lagian, ini Abang lu yang kesakitan. Malah yang ditanya si codet."


"Gitu aja lemah bang, jadi cowok tu harus kuat, teguh, perkasa, tahan segala keadaan, cuaca kondisi, tahan banting, tahan hujan, tsunami, gunung meletus.."


Pusing Marsel mendengar banyaknya ocehan Anggin, langsung menutup mulutnya.


"Lo kira, gue pawang alam!"


Kesal Anggin menepuk tangan Marsel memintanya untuk melepaskan tangannya, tekan Marsel mengatakan kalau dia tidak akan melepaskan. Karena kesal Anggin pun langsung menginjak kaki Marsel, kesakitan Marsel langsung melepaskan tangannya. Jijik Anggin mengelap mulutnya sambil mengendus, berisiknya berteriak bete.


"Rasain tu, bau tong sampah. Enak kan?, ini mau lagi."


Tak tahan Anggin segera pergi meninggalkan Marsel sambil ngedumel, penasaran Marsel mencoba mencium tangannya. Ia pun langsung dibuat pusing dengan baunya dan ikut merasa jijik.

__ADS_1


Terhenti Riko disebuah taman berdiri memegang kursi dengan dua tangan, sejenak ia teringat ucapan Cio. Ia pun bertanya-tanya pada dirinya apakah yang diucapkan Cio itu benar, apakah dia memang sudah memiliki rasa terhadap Anggin. Bingung Riko dengan perasaannya mengusap rambut menahan emosi, frustasinya langsung mengeluarkan kekuatan dan membuat kursi yang ada didepannya terlempar.


"Hah!. Nggak Riko, udah cukup!. Lo harus buang perasan lo itu, lo harus fokus sama tujuan awal lo. Tujuan lo adalah membuat gadis serigala itu jatuh cinta dan mengambil belati, bukan sebaliknya!"


Emosinya langsung mengubah diri menjadi kelalawar dan terbang pergi. Terduduk Anggin diatas kasur berbalut selimut sambil memeluk bantal, wajahnya yang begitu gelisah seperti memikirkan suatu hal.


"Hmm.. kenapa ya, akhir-akhir ini perasaan gue nggak tenang banget?. Kenapa gue ngerasa akan ada suatu hal besar terjadi, tapi apa?"


Tiba-tiba tangannya mengarah pada kalung, kerut alis Anggin menundukkan kepala melihat kalung dengan wajah penuh pertanyaan. Lirihnya melepaskan kalung itu menatap jeli di setiap ukiran liontin


"Sebenarnya ini kalung apa sih, kenapa gue harus selalu pakai kalung ini. Padahal ini cuma benda mati, dan kenapa juga gue ngerasa kayak punya ikatan yang kuat ya?. Kalau diliat-liat, kalung ini unik juga sih. Ukirannya pun nggak kuno, nggak modern juga."


"Bulan?. Rasanya, gue terikat banget sama yang namanya bulan" lanjutnya dengan senyum memandang lembut kalung itu.


Perlahan Anggin menutup mata, mendekap erat kalung itu dan mengarahkannya tepat ke jantungnya. Seketika pikirannya mengarah pada beberapa serigala yang lemah, kaget Anggin langsung membuka mata.

__ADS_1


"Serigala?"


***


__ADS_2