
Gemetar Anggin ketakutan mencoba untuk pergi, namun tangannya ditahan oleh Cio. Berontak Anggin meminta untuk di lepaskan, tawa Cio seolah menyindir.
"Hehe, kenapa buru-buru sih. Nikmati aja dulu malam ini. Eh, tapi kayaknya nggak deh. Tapi gue yang bakal nikmatin lo, haha."
"Lo siapa, lo mau apa dari gue. Gue nggak punya masalah sama lo!"
Ucap Cio menyuruh Anggin untuk diam dan tidak perlu banyak bertanya. Anggin mencoba memberontak, namun tubuhnya ditahan keras oleh Cio. Perlahan Cio mendekatkan kepalanya ke leher Anggin untuk menggigitnya, sekali lagi Anggin memberontak melepaskan diri.
Seketika kalung dan tanda belati itu bersinar seolah menyatukan kekuatan, hal itu lantas membuat Cio terluka dan terpental kesakitan. Batin Cio dan bertanya-tanya apa yang sebenarnya terjadi, kenapa bisa Anggin yang seorang manusia bisa memiliki kekuatan layaknya bukan manusia.
Ia segera bangkit sambil berfikir dan teringat kalau hal itu hanya bisa dilakukan oleh gadis serigala putih.
"Apakah dia gadis serigala itu?"
Tak sengaja liontin kalung yang di pakai Anggin keluar dan terlihat oleh mata tajam Cio, itu pun semakin memperkuat kecurigaan Cio yang mengira kalau Anggin lah gadis serigala yang selama ini mereka cari. Sementara Anggin juga di buat kaget dengan luka di tangan orang itu, karena darahnya yang berwarna hijau bukan layaknya darah manusia.
__ADS_1
"Kenapa bisa gitu?" tajam Anggin menatap luka itu.
"Ternyata bener, dia gadis serigala itu" batin Cio dengan agresifnya ingin mengambil kembali belati dan membunuh gadis serigala itu.
Namun, niat Cio harus tertunda lantaran Riko membawanya melesat pergi jauh dari Anggin. Kaget Anggin melihat orang misterius itu tiba-tiba menghilang, tak lama Laga dan kedua saudaranya datang dan membuat anggun terkejut.
"Ka-kalian. Kalian kenapa bisa ada disini?. Pergi kalian!"
Endus Laga melihat luka pada tangan Anggin dan mencoba untuk segera menyembuhkan lukanya. Berontak Anggin meminta Laga untuk melepaskan tangannya.
"Bangsa lain apa sih!. Lepasin gue!"
Paksa Laga membawa Anggin segera pergi. Kesal Riko melepaskan tangan Cio sedikit keras, sikap tempramen nya seketika keluar dan marah besar dengan apa yang di lakukan Cio.
"Sebenernya apa yang ada di pikiran lo, Si!. Harus berapa kali gue bilang sama lo, kalo lo nggak perlu ngelakuin hal bodoh kayak tadi!"
__ADS_1
"Kenapa?. Kenapa gue nggak boleh ngelakuin ini!. Oh gue tau, karena lo udah jatuh cinta kan sama gadis serigala itu!" keras kepala Cio yang juga tak mau kalah.
Kaget Riko mendengar Cio yang menyebut tentang gadis serigala.
"Kenapa lo kaget. Lo udah tau kan kalau Anggin itu adalah gadis serigala yang selama ini kita cari. Tapi, kenapa lo sembunyiin ini dari kita!. Oh gue lupa, lo kan jatuh cinta sama serigala itu. Makannya, lo sampai bela-belain untuk ngelindungin dia. Iya kan?, jawab Riko!"
"Nggak!. Gue nggak ngelindungi dia, apalagi jatuh cinta. Gue sembunyiin hal ini karena lo, Si!. Gue paham sama sifat lo, kalau lo sampai tau hal ini pasti lo nggak akan bisa diem. Lo bisa bahayain diri lo sendiri cuma untuk mengambil belati pusaka itu."
"Gue nggak perlu ngingetin lo lagi, betapa bahayanya kalau lo mengambil paksa bela pusaka itu. Lo bisa liat sendiri kan tadi!. Dan ini, ini cuma luka kecilnya (memegang tangan Cio). Lo bisa bayangin, kalau lo maksain diri lo tadi. Kalau gue nggak hentiin lo, lo bisa musnah. Dan bukan itu aja, tapi bangsa vampir juga bisa dalam bahaya karena lo."
Terdiam Cio berfikir dan mengakui kesalahannya, kalau tindakannya tadi memanglah sangat ceroboh dan berbahaya. Lembut Riko memegang lengan Cio sembari mengatakan kalau hal besar itu tidak bisa dilakukan dengan emosi, karena emosi itu bukan membantu tapi justru akan menghancurkan.
"Sorry, gue tadi bener-bener nggak bisa nahan diri."
***
__ADS_1