
Segera Anggin memberikan ramuan itu pada bangsa serigala. Tatapan lembut Bunda Astra, kaku menarik tangan Anggin dan lirihnya memanggil.
"Anggin.."
Toleh Anggin melihat tangannya, "Bu-bunda" mata berkaca-kaca.
Sejenak saling menatap, lalu berpelukan melepas rindu mereka karena itu adalah awal pertemuan setelah 18 tahun lamanya mereka terpisah. Tangis pun pecah, hari beriring bahagia yang mereka rasakan.
"Kamu udah tau" ucap Astra memegang dan menatap wajah Anggin.
"Iya Bun, Anggin sudah kembali. Dan calon Ratu Serigala ini, akan membalaskan dendam atas segala penderitaan yang Bunda dan semua bangsa Serigala alami" tegas Anggin penuh kebencian.
Angguk Astra penuh kepercayaan, karena calon Ratu Serigala mereka akan menjalankan apa yang sudah menjadi kewajibannya. Lirih Anggin menyuruh bundanya untuk istirahat dan membahas semuanya nanti, karena kondisinya masih sangat lemah.
Disisi lain Seli (vampir muda yang memiliki kasta), datang menemui keluarga Tara de"ngan membawa pesannya mengenai bangsa serigala.
"Sialan!. Udah gue bilang, gue nggak pernah percaya sama keluguan dia. Sekarang, gimana kita bisa mengambil belati itu" kesal Cio.
"Dengan kekutan, tapi nggak dengan menjadikan orang lain tameng untuk tujuan ini" tekan Riko.
__ADS_1
"Gue setuju sama Riko. Kita punya kekuatan, dan kita akan sampai pada tujuan dengan kekuatan yang kita punya" ucap Kana.hlbyl
Tatapan kurang setuju Cio pada kedua saudaranya. Sambung Seli mengatakan kalau Serigala putih itu tidak akan melakukan semuanya sendiri meskipun indra pencium dan pengingat sangatlah kuat.
"Itu artinya, ada yang sudah membantu dia" sahut Cio.
Angguk Seli sambil memberikan sebuah kertas, yang mana pada kertas itu terdapat 4 tetes darah dengan DNA berbeda yang ia temukan di ruangan pengawetan serigala. Dan dari salah satu darah itu, ada darah dari gadis serigala putih.
Tara mengambil kertas dari tangan Seli sambil mengendus bau darah itu, "Artinya, ada 3 Serigala yang berhasil lolos saat peperangan itu" lirihnya.
"Iya, tanpa kita sadari ternyata mereka bertiga tidak lain adalah Laga, Stiv dan Data" ucap Seli dengan tatapan lembutnya pada Riko.
"Apa sekarang, Anggin akan membenci gue" batin Riko.
Tertegun sejenak, Riko segera pergi meninggalkan keluarganya.
"Riko" lirih Seli.
"Mau kemana lagi tu anak. Bukannya ikut nyelesaian masalah, malah pergi bawa masalah" jutek Cio.
__ADS_1
...
Keesokan pagi, sendiri Anggin berjalan menuju ke ruang kelasnya. Tak sengaja ia bertemu dan bertatap muka dengan Riko, sejenak mereka saling menatap. Tatapan Anggin berubah bak menyimpan kebencian pada Riko, ia segera pergi namun Riko menahannya.
Tekan Anggin meminta Riko untuk melepaskan tangannya, namun Riko tetap kekeh dan terus memegang tangan Anggin. Paksa Anggin melepaskan tangan Riko sedikit kasar.
"Apalagi yang lo mau" tekan Anggin.
"Apa sekarang perasaan kamu udah berubah sama aku, apa udah nggak ada lagi cinta untuk aku."
Toleh Anggin dengan tatapan tajam, "Lo, tau semua jawabannya."
Saat ia akan pergi, tiba-tiba Seli datang menghampiri Riko sembari memegang tangannya. Tatapan Anggin terfokuskan pada tangan Riko dan sejenak menatap wajahnya, seolah acuh iapun kembali melanjutkan langkahnya untuk pergi.
Seli mencium bau serigala dari tubuh gadis itu, lirihnya pada Riko bertanya apakah itu gadis serigala yang bangsa vampir cari. Angguk Riko dengan datar, ia meminta Seli untuk melepaskan tangannya.
"Oh, Sorry" ucap Seli.
Segera Riko melesat pergi, tertegun sejenak Seli menaruh curiga pada Riko kenapa ia tetap tenang disaat keadaan sudah tak berpihak lagi dengan mereka.
__ADS_1
***