REINKARNASI SERIGALA PUTIH

REINKARNASI SERIGALA PUTIH
Kepepet


__ADS_3

Berdandan Anggin menatap diri didepan cermin dengan pakaian sekolah yang sudah rapi. Dibalik pintu, mengintip Marsel berdiri santai menggoda Anggin.


"Waduh, udah kayak biduan aja. Lu mau sekolah, apa mau kondangan?"


Toleh Anggin dengan tatapan sinis, "Sirik aja deh jadi orang. Udah sana pergi, jangan rusak suasana hati gue yang lagi bahagia!"


"Iya deh iya, yang paling bahagia" gumam Marsel meninggalkan kamar Anggin.


Tak berselang lama setelah Marsel pergi, terdengar suara mobil yang melaju pergi.


Mbrum mbrum..


"Yah, gue ditinggalin. Bener-bener resek banget deh" raut wajah kesal Anggin, mengambil tas dan segera berangkat sekolah.


Keluar mengunci pintu dan melesat pergi.


Ditengah perjalanan, langkah Anggin pun terhenti saat melihat mobil yang ditumpangi Marsel mogok. Melesat menghampiri Marsel yang sedang membenarkan mobil.


"Ah, resek banget ni mobil. Diservis udah, di kasih minum tiap hari, masih mogok juga. Mau lu apa?, gue beli mobil baru, baru tau rasa lu!"


"Kenapa.. mogok?" ejek Anggin.


Terkejut Marsel melihat Anggin yang tiba-tiba sudah ada di sampingnya, "Lah lo. Lo, kok udah disini aja?"

__ADS_1


"Kenapa, kaget, terkejut, heran?. Biasa aja, santai santai" ucap Anggin dengan nada PD nya.


"Lo jalan kaki?"


"Naik unta. Ya jalan kaki lah, apakah anda melihat saya membawa kendaraan, tidak kan?"


"Tidak kan? (cibir Marsel). Daripada lo berisik disitu, mending bantuin gue benerin ni mobil, apa telfon tukang servis gitu."


"Itu namanya, karma. Salah sendiri ninggalin gue. Jadi, selamat menikmati jadi tukang servis dadakan, semoga hidup ya mobilnya. Coba liat bannya, siapa tau kempis" ucap Anggin balik mencibir lalu melesat pergi.


Fokus Marsel dengan mobilnya, "Heh mau kemana lo," lirihnya menoleh dengan kaget melihat Anggin yang sudah tidak ada.


"K-kok nggak ada. Tadi beneran Anggin bukan sih, atau jangan-jangan, hantu lagi. Ta-tapi masak, pagi-pagi bolong gini ada hantu" sambungnya dengan raut wajah takut.


"Aduh!. Marsel, lo mau begal gue ya?"


"Heh (menepuk lirih helm mungil Nio), yakali gue mau begal lo. Lagian, kalo gue begal lo, mau diambil apanya?. Mau ngambil motor, juga keburu gue ketangkep. Motor siput kayak gini," celoteh Marsel.


"La terus, lo mau ngapain?. Udahlah, gue mau berangkat sekolah, bai!"


Kembali Marsel menghentikan laju motor Nio, dengan wajah lucu sedikit ngegas, Nio bertanya pada Marsel kenapa ia terus menghentikannya.


"Gue nebeng ke sekolah" kata Marsel.

__ADS_1


"Hehe, bilangannya motor siput, tapi masih mau nebeng juga. Kenapa sama mobil lo, mogok?" sindir Nio dengan lucunya.


"Menurut lo?. Udah sini biar gue yang nyetir" mengambil alih posisi Nio.


"Yahaha, percuma dong mobil bagus."


"Udah diem. Gue terpaksa naik ni motor, daripada gue jalan kaki."


Laju motor Nio membuat Marsel sedikit kesal, karena motornya tidak bisa melaju dengan kencang.


"Bener-bener ya ni motor, nggak bisa diajak ngebut apa?" gumam Marsel diatas motor.


Ucap Nio seolah bersyair mengatakan kalau meskipun motornya berjalan lambat, tapi motornya itu mengajarkan dia akan arti kesabaran.


"Iya sabar, sa..baar.. bangett.. Gimana nggak sabar, motornya aja modelan kayak gini" lirih Marsel.


"Masih untung gue mau ngajak lo, berisik banget deh."


"Kepepet!"


...


...

__ADS_1


__ADS_2