
Berjalan Anggin dengan wajah betenya membawa sekantong makanan yang ia beli, dimana itu adalah makanan yang di inginkan Marsel yang sedang sakit.
"Kalo bukan karena Abang gue tersayang yang lagi sakit aja, nggak mau gue beli ni makanan!" dumelnya.
Berjalan sembari memontang-mantingkan makanan itu. Tiba-tiba ada sesuatu melesat cepat tepat didepannya, seketika indra penciumannya merespon dan mata yang menyala. Mengendus dan langsung mengikuti aroma yang sangat familiar itu. Terhenti Anggin dibalik semak-semak dan melihat Laga bersama saudaranya berada dihutan.
"Sebenernya mereka itu siapa?. Kenapa tempat yang selalu mereka tuju di hutan?" bingung Anggin bertanya-tanya dan kembali mengintai dengan tatapan tajam.
Kaget Anggin saat melihat 3 laki-laki itu mengubah tubuhnya menjadi serigala, menutup mulut dan mengalihkan pandangan tak percaya dan terheran-heran bagaimana hal itu bisa terjadi. Telan ludahnya dan berfikir apakah mereka adalah manusia serigala, dan apakah manusia serigala itu benar-benar nyata dan bukan hanya fiksi semata.
"Nggak nggak. Kayaknya gue mimpi deh (Mencubit diri). Aduh, sakit!. Ternyata beneran.. astaga, salah liat apa gimana sih gue."
Kembali Anggin menoleh dan memastikan apakah yang ia lihat itu benar atau tidak, sedikit terkejut melihat mereka yang sudah menghilang. Ia pun bergegas pergi dan kembali dibuat terkejut dengan kedatangan Riko yang tiba-tiba ada di belakangnya.
"Astaga!. Riko?, ngagetin gue aja." wajah Anggin terlihat cemas.
__ADS_1
Heran Riko melirik kearah yang dilihat Anggin lalu bertanya apa yang sedang ia lakukan ditempat itu, gugup Anggin menjawab kalau ia sedang habis membeli makanan sambil menunjukkan makanan itu.
"Di hutan?"
"Ee-e, kamu sendiri ngapain di sini?" ucap Anggin membalikkan pertanyaan.
Lirih Riko menjawab kalau dia tak sengaja lewat di jalan itu dan melihatnya, sipit mata tajan Anggin yang melihat setitik warna merah di bawah bibir Riko. Dengan heran iapun bertanya, tertegun Riko langsung mengelap bibirnya. Yang mana itu adalah darah hewan yang Riko minum sebagai penambah kekuatan.
Karena tak ingin membuat Anggin curiga, ia pun mengatakan kalau itu hanya bekas makanan yang lupa ia bersihkan. Angguk Anggin tanpa menaruh curiga, Riko lalu mengajaknya segera pergi dari tempat itu dan akan mengantarkan pulang.
Senang wajah Anggin menggandeng erat tangan Riko, terdiam Riko dengan perasaan yang semakin tak karuan saat Anggin menyentuhnya. Hela nafasnya mencoba tenang dan biasa saja, kerut alis Anggin menatap Riko yang hanya terdiam. Senggol Anggin sedikit keras dan bertanya ada apa dengannya.
"E-nggak, nggak papa. Yaudah ayok, pulang."
Ditengah perjalanan, dengan tangan yang terus menggandeng. Canggung Anggin bertanya pada Riko apakah ia percaya kalau serigala jadi-jadian itu benar-benar ada.
__ADS_1
Kaget Riko menatap tajam Anggin, "Apa dia udah tau jati diri dia yang sebenarnya?" batinnya.
Senyum geli Anggin melihat ekspresi Riko, "Hehe, kamu kenapa sih gitu banget liatnya?. Aneh ya pertanyaan aku?"
"Ya-ya iyalah. Lagian kamu ngapain nanya kayak gitu, emang kamu liat serigala jadi-jadian?"
Bingung Anggin apakah harus menceritakan hal itu atau tidak. Ia beranggapan kalau Riko juga pasti tidak akan percaya dengan ucapannya, dan memilih menyembunyikan yang sebenarnya terjadi.
"Ya nggak sih, aku cuma nanya aja. Lagian, kalau ada beneran pasti seru banget tu. Kayak di film-film gitu, iya kan?" serunya bicara.
Datar Riko menatap lembut Anggin menjawab kalau itu bukanlah hal yang seru, tapi justru menyiksa.
"Maksudnya?"
Next👇.
__ADS_1