RESTU ISTRIMU

RESTU ISTRIMU
10


__ADS_3

Satu tahun kemudian ...


Harapan Dama terwujud. Ia menjadi orang tua tunggal yang sukses mengurus anak lelaki satu -satunya dan sukses membuat lapangan pekerjaan dari usaha yang di rintisnya mulai dari enol.


Jatuh bangun ia lakukan sendiri tanpa ada orang yang membantunya. Dama sudah di usir oleh orang tuanya sensiri karena aib yang ia torehkan hingga mencemarkan nama baik keluarganya.


Suatu malam, seperti biasa. Dama menghitung uang yang terkumpul dari toko sembakonya. Malam itu tepat pukul sembilan, dua karyawannya sedang bersiap untuk menutup toko. Mereka masih membereskan barang -barang dan menyapu lantai agar esok pagi saat buka sudah siap berjualan lagi tanpa harus membersihkan lantai yang kotor atau sampah yang menggunung belum terbuang dan sengaja tersimpan di dalam toko.


Ada sebuah sepeda motor berhenti tepat di depan toko. Pengendara itu terlihat sedang melepaskan helmnya dan masuk ke dalam toko.


Dama sama sekali tak melihat sang pengendara motor yang membeli beberapa camilan dan minuman dingin itu turun dari motor. Tahu -tahu ia menyapa Dama yang sedang fokus menghitung uang dan mencatat barang yang sudah habis stoknya.


"Dama ...." panggil sang pengendara itu membuka maskernya.


Dama meletakkan ikatan uang di dalam laci lalu di tutup rapat dan kepalanya menengadah ke arah ornag yang memanggil namanya. Suara itu tak asing lagi di telinganya.


"Mas Rama?" cicit Dama pelan sambil celingukan menatap di sekitar toko. Kedua karyawannya sedang membuang dan membakar sampah di depan.


Dama langsung mengambil tangan Rama dan mencium pinggung tangan lelaki itu seperti dulu tanla ada beda.


Rama tersenyum. Itu tandanya, Dama masih menghargainya sebagai sosok lelaki yang di hormati.


"Mas rindu sama kamu. Ehh ... ternyata kita bertemu di tempat yang tak pernah di sangka -sangka," ucap Rama pelan.


Suara petir menyambar keras dengan si iringi kilatan cahaya. Jelas sebentar lagi hujan akan turun seperti biasa yang terjadi di malam hari.


Dama hanya menatap Rama dari atas kepala sampai bagian bawah yang bisa di jangkau. Semua yang di pakai Rama adalah pemnerian Dama. Mulai dari masker, tas kecil, jaket, kaos yang di pakai, celana panjang dan sepatu yang kini terpasang pantas di kaki kekarnya. Dalam hatinya tersenyum bahagia. Itu tandanya Rama masih mengingatnya dengan baik. Walaupun sudah satu tahun ini mereka benar - benar tak slaing berkomunikasi satu sama lain.


Dama masih terdiam dan tak menjawab ucapan Rama.

__ADS_1


"Kenapa kamu pergi tanpa memberi kabar? Kenapa kamu pergi tanpa bicara baik -baik padaku? Kenapa?" tanya Rama mulai mendesak dengan nada suara agak meninggi.


Geludug semakin keras terdengar hingga jelas hujan deras turun dengan cepat membasahi bumi hingga kedua mata tak bisa menembus air yang mengalir dari langit itu.


Rama masih menatap Dama tajam. Dama tidak pernah tahu, Rama hampir saja gila mencari keberadaan Dama yang tak pernah ia ketahui rimbanya.


Dama menarik nala dalam dan mencoba menenangkan hatinya dengan menghembuskan pelan napas itu melalui kedua lubang hidungnya


"Hujan Mas. Yuk, masuk ke rumah. Motornya pindahkan ke teras rumah lewat samping. Tokonya sudah mau Dama tutup. Makan dulu di rumah Dama, mau?" tanya Dama pelan.


Tak tega melihat kondisi Rama yang nampak kusut dan terlihat kurus sepwrti tak di urus.


Rama hanya menatap Dama tanpa memberikan jawaban baik lisan maupun lewat gerakan tubuhnya.


Melihat Rama yang masih menatap lekat Dama. Dama pun tersenyum mencoba mencairkan suasana.


"Katanya rindu sama Dama? Gak rindu sama masakan Dama?" tanya Dama pelan.


Dama hanya diam. Dama sudah menduga. Suatu hari bila mereka bertemu lagi, Rama akan membahas rumah itu. Ya, rumah itu memang besar. Ada beberapa kamar di dalamnya. Dulu, Rama bercita -cita ingin tinggal bersama dnegan Yufi dan Dama dalam satu rumah. Jika, Yufi mengijinkan Rama menikah lagi dan menikahi Dama.


Tapi ... Dama memilih jalannya sendiri. Bukan tak sayang dengan Rama. Keadaan yang memaksa semua ini berjalan sesuai kodratnya.


"Ngobrol di rumah yuk? Lanang sudah tidur. Biar Dama masakkan makanan yang menghangatkan tubuh. Lagi pula hujan besar, Mas Rama masih mau nekat menerobos hujan deras dan malam yang begitu dingin?" tanya Dama pelan.


Dama memasukkan semua uang di laci pada tas kecil dengan semua catatan untuk belanjaan besok lagi.


Dama menatap Rama dan mengagukan kepalanya.


"Kenapa? Mas mau kemana? Kayaknya berat gitu?" tanya Dama pelan. Ia melihat ada secercah kecemasan tersendiri dari raut wajahnya.

__ADS_1


"Bunda mau melahirkan malam ini. Kemarin pas USG tidak ada masalah. Tapi, beberapa hari ini, Bunda ngeluh sakit perut. Kemarin periksa ada masalah dengan kandungannya. Mau tidak mau Bunda harus di operasi caesar. Ini lagi nunggu Mas datang," ucap Rama pelan.


Deg ...


Bunda Yufi akan melahirkan. Itu tandanya hubungan mereka baik -baik saja. Rumah tangga mereka tidak ada masalah sama sekali.


"Mas pulang kantor? Langsung jalan? Memang Bunda gak bareng sama Mas? Apa rumah itu kurang besar dan kurang nyaman?" tanya Dama pelan.


"Mas sudah gak kerja di sana lagi. Ada oarang yang iseng dan menginginkan jabatan Mas. Mas sekarang beralih profesi menjadi tukang cukur dan saat ini bekerja dengan orang lain di sebuah baber shop di kota besar. Bunda ... mengetahui rumah dan seisinya adalah pemberian kamu, Dama. Dia marah dan minta pulang kampung setelah tahu dirinya hamil saat usia kandungan menginjak lima bulan. Bunda Yufi juga takut di marahi emak kalau hamil lagi karena waktu Mayka lahir, ia di suruh memakai KB agar tak mudah hamil," ucap Rama pelan menjelaskan.


Sontak ucapan itu membuat Dama tertawa keras. Wajah Rama langsung diam menatap Dama yang terlalu senang dengan tertawanya.


"Ada yang lucu?" tanya Rama tegas menatap Dama yang masih tertawa terbahak -bahak tanpa ada ras adosa sedikit pun.


Teguran Rama membuat Dama seketika diam dan menyembunyikan kekehan tertawanya dibdalam hati saja.


"Apa yang lucu?" tanya Rama agak ketus.


"Ekhm gak ada yang lucu. Cuma ...."


"Cuma apa?" tatapan Rama makin tajam ke arah Dama.


"Cuma gak habis pikir aja. Mayka itu baru satu tahun lebih sudah harus punya adik lagi. Mas Rama terlalu doyan," ucap Dama pelan.


"Kok malah Mas? Ya, laki -laki kan butuh pelampiasan. Bunda Yufi aja yang terlalu subur. Nyatanya dulu sama kamu? Mana ada hamil? Padahal kamu lengen banget bisa hamil dari benih Mas?" ucap Rama dengan bangga.


Dama melotot dan menatap ke sekeliling toko. Dua karyawan itu sibuk menutup toko dan Dama segera menarik tangan Rama pergi dari pintu belakang.


"Jangan lupa kunci semua. Saya masuk duluan. Ada tamu," ucap Dama keras berteriak agar dua karyawannya itu dengar.

__ADS_1


Dua karyawan itu serempak menjawab, " siap bu."


__ADS_2