RESTU ISTRIMU

RESTU ISTRIMU
14


__ADS_3

Rama memilih keluar dari kamar rawat inap itu untuk menghindari perdebatam awla yang pastinya berakhir pertengkaran.


Rama memilih untuk mengalah dan tetap menjaga tingkat stres Yufi yang mau operasi caesar.


Rama menghampiri anak -anaknya yang berada di ruang tunggu bersama kakak iparnya.


"Kamu sudah datang? Kok bisa telat sih? Saya juga punya anak untuk di urus, bukan cuma ngurus anak kamu saja yang nakal dan minta jajan terus. Ganti tuh, sudah habis lima puluh ribu. Terus itu biaya operasi gimana? Saya dan kakaknya Yufi gak punya uang. Bapak dan iatrinya juga gak bisa bantu karena uangnya habis untuk yang kerja di sawah," tegas kakak iparnya itu dengan suara tinggi dan keras. Sikap sombongnya begitu kentara.


Rama berusaha sabar dan menarik napas dalam. Ia mengeluarkan uang lembaran lima puluh ribuan dan di berikan kepada kaka iparnya.


"Terima kasih kak. Sudah menjaga anak -anak," jawab Rama pelan.


"Makanya cari yang kerja untuk bantu -banti beresin rumah. Kasihab Yufi nanti habis lahiran, belum urus bayi dan empat anak lainnya. Kamu kira gampang!! Kamu sih enak, di kota!! Bilangnya cari nafkah ternyata cari selingkuhan!! Kamu pikir saya gak tahu!! Yufi cerita semuanya sama saya!! Inget, semua perempuan itu cuma butuh diuit!! Gak ada yang tulus!!" ucap kakak ipar Rama terus nerucus menasehati Rama.


"Sudah Kak. Jangan menilai dari satu sisi saja. Dan jangan fitnah. Kalau tidak tahu cerita sebenarnya," ucap Rama pelan.

__ADS_1


Rama kemudian mengangkat dan menggendong Mayka serta Saskia. Lalu mengajak dua puteranya untuk mengikutinya.


Rama ingat kata - kata Yufi. Keempat anaknya belum makan sama sekali karena Yufi merasakan sakit.


"Sudah makan?" tanya Rama kepada anak -anaknya.


"Belum Ayah," jawab Rafthar yang sejak tadi memegangi baju Ayahnya.


"Kalian tungguin Bunda dulu di kamar. Atah beli makanan dulu, nanti kita makan sama -sama di kamar," titah Rama membawa masuk keemlat anaknya dan di dudukkan pada ranjang yang kosong di sebelah Bundanya.


Rama sudah ke kantin rumah sakit. Membeli banyak makanan dan mjnuman untuk anak -anaknya. Kebetulan Yufi kan harua puasa.


Tak lupa Rama membeli beberapa perlengkapan bayi da kebutuhan pasca bayinya lahiran nanti. Ini anak kelima tentu sudah berpengalaman sekali bagi Rama. Apa yang perlu di siapkan? Apa yang perlu di perhatikan?


"Mas Rama ...." panggil Dama pelan.

__ADS_1


"Dama? Ku kira kamu sudah pulang?" ucap Rama pelan terkesan mengusir Dama.


Dama menatap Rama lekat.


"Mas Rama ingin aku pulang dan cepat pergi dari sini?" tanya Dama pelan.


"Ekhem ... Maaf bukan begitu maksud Mas, Dama. Jangan salah paham. Maaf Mas buru -buru, kasihan Bunda dan anak -anak belum makan," ucap Rama pelan.


Dama hanya mengangguk pasrah. Dama memanggil Rama bukan karena ingin berduaan dan di perhatikan oleh Rama. Dama memanggil Rama karena ingin tahu keadaan Bunda Yufi bagaimana? Anak -anak bagaimana? Lalu, administrasi rumah sakit bagaimana? Kurang atau tidak?


Dama berbalik dan berjalan lemas. Ia membawa satu kantung besat berisi makanan dan minuman yang tadinya akan ia berikan kepada Rama.


Dama duduk tepat di kursi tunggu deoan ruangan operasi. Beberapa dokter dan perawat keluar masuk ruangan itu.


Satu dokter membawa hasil riwayat pasiennya dan membacanya dengan wajah bingung.

__ADS_1


"Pasien ini punya riwayat darah tinggi dan asma? Kuat tidaknya?" tanya dokter itu tegas kepada perawat yang memeriksa pasien tadi.


__ADS_2