
Dama sudah satu jam menyetir dan Rama duduk manis di samping supir cantik itu. Keduanya diam dan tak banyak bicara.
Dama merasa hubungannya kembali seperti dulu. Walaupun sudah satu tahun ini tak pernah bertemu dan tak berkomunikasi.
Rama sibuk dengan ponselnya. Ia mengetik membalas pesan singkat yang terus masuk ke ponselnya.
"Sudah pasang GPS?" tanya Rama pelan.
"Ada Mas kan? Buat apa pasang GPS? Memang Mas Rama mau tidur?" tanya Dama pelan.
"Ya gak sih. Mas bakal temani kamu," ucap Rama lembut.
"Sampai mana?" tanya Dama pelan.
"Sampai rumah lah," jawab Rama pelan.
"Kirain sampai tua nanti," goda Dama.
Wajah Dama tetap stay cool tanpa tersenyum apalagi tertawa. Ia berusaha nampak serius.
Mendengar ucapan Dama, Rama langsung menoleh ke arah Dama. Menatap perempuan kesayangannya itu sendu.
__ADS_1
Merasa wajahnya di tatap aneh oleh Rama. Dama melirik sekilas ke arah Rama yang tak bekomentar apa -apa.
"Kenapa lihatnya begitu? Ada yang salah?" tanya Dama pelan.
"Memang kamu masih mau di temani sampai akhir hidupmu," tanya Rama serius.
"Mau," jawab Dama singkat.
Dama tidak mau membohongi dirinya sendiri. Hatinya masih mencintai Rama sampai kapan pun. Ikatan cinta itu tak pernah lepas.
Rama langsung membenarkan duduknya dan menatap lurus ke depan lagi untuk fokus pada jalan. Setelah jawaban Dama tadi, Rama tak bicara apapun.
Rama hanya ingin memastikan hati Dama masih untuknya atau sudah di berikan untuk orang lain. Rama tidak mau sok kembali lagi seperti dulu lagi. Kalau toh, ternyata Dama sudah membuka hati untuk orang lain.
Rama menoleh ke arah Dama.
"Terus? Mas harus bilang apa?" tanya Rama pelan.
"Hah? Harus bilang apa? Setelah lama gak ketemu? Hanya diam?" ucap Dama mulai kesal.
Rasanya percuma mempertahankan rasa ini. Menunggu sesuatu yang ternyata memang benar tak akan pernah ada ujungnya.
__ADS_1
Dama bukan Fatima yang bisa mencintai pria dalam diam dan menunggu dengan hati tanpa kegelisahan.
Dama juga bukan khadijah yang berani melangkah terlebih dahulu agar bisa mendapatkan kekasih idamannya.
Dama juga bukan Aisyah yang selalu sabar.
Dama adalah Dama. Wanita yang di beri hasrat, nafsu dan juga akal pikiran. Terkadang, ia bisa kesal denagn semua yang terjadi karena ketidak pastian.
Rama hanya diam. Ponselnya yang terus berada di tangannya di pegang dengan erat. Sesekali terlihat menyala tandan ada notifikasi yang masuk entah telepon atau pesan yang masuk. Jelas, Rama melirik dan buru- buru menatap layar ponsel itu. Lalu segera menelepon.
"Bawa langsung ke rumah sakit sekarang. Saya sedang di perjalanan, mungkin satu setenagh jam lagi sampai. Tolong beri tahu di mana Yufi di operasi dan saya datang akan saya selesaikan administrasinya," titah Rama tegas dan lantang.
Jantungnya berdegup keras. Ia takut sekali bila terjadi sesuatu dengan istrinya.
Dama yang peka dengan keadaan kritis Yufi. Ia menginjak gas semakin dalam agar mobilnya bisa melaju semakin cepat dan kencang.
Satu jam kemudian, Dama berhasil mempersingkat waktu perjalanan. Saat ini mobilnya sudah masuk ke dalam parkiran mobil. Rama turun terlebih dahulu dan berlari ke arah lobby rumah sakit untuk menyelesaikan administrasi terlebih dahulu.
Dalam hatinya tetap ingin Yufi selamat. Selama ini Yufi hamil dan melahirkan secara normal dan sangat mudah sekali. Entah kenapa kehamilan kelima ini mengalami sedikit kendala. Memang sejak awal kehamilan, Yufi diam tak bicara kalau hamil.
Yufi takut kalau mertuanya akan memarahinya karena sudah hamil lagi. Jarak antar anak yang lahir terlalu dekat dan terlalu banyak anak yang harus mereka urus.
__ADS_1
Padahal, Rama saat ini sedang kesulitan keuangan.