RESTU ISTRIMU

RESTU ISTRIMU
13


__ADS_3

Rama sudah menyelesaikan administrasi dan menandatangani semua berkas rumah sakit.


Operasi caesar itu belum di mulai karena Yufi harus puasa dulu. Normalnya memang do sarankan delapan jam. Tapi, kali ini agak di percepat, bisa lima jam atau enam jam atau bisa kurang dari itu tergantung dengan kondisi pasien.


Keempat anak Yufi dan Rama ada di rumah sakit juga. Kebetulan Yufi sudah tak memiliki ibu. Ibunya telah meninggal beberapa tahun yang lalu. Kedua orang tua Yufi bercerai saat Yufi masih kecil. Dan Yufi di asuh oleh Ayah kandungnya dan ibu tirinya. Ini yang membuat Yufi menjadi pribadi yang keras dan galak kepada siapa pun. Tutur katanya kasar dan mudah bicara kotor. Tangannya terlalu mudah membuang barang dan melempar barang yang ada di dekatnya jika marah.


Yufi sudah berada di satu kamar rawat inap kelas tiga. Ada beberapa bangsal yang kosong. Yufi sudah terbaring di ranjang rumah sakit dengan tangan kiri yang sudah terinfus.


Saat melihat Rama masuk ke ruangan itu, Yufi melebarkan senyumnya. Ia bahagia memiliki suami yang peduli, perhatian dan selalu memberikan apa yang di minta Yufi sebagai suatu bentuk rasa kasih sayangnya pada Yufi, istrinya.


"Ayah sudah datang? Itu anak -anak di depan sama teteh," ucap Yufi pelan.


Rama melepas senyum lega melihat Yufi yang masih dalam keadaan baik -baik saja.

__ADS_1


"Baru banget datang. Langsung ke depan dan bayar semuanya. Katanya sih dua jam lagi kamu bakal jalani operasi," ucap Rama pelan kepada istrinya.


"Iya. Itu anak -anak belum makan. Bunda gak pegang uang. Kemarin Ayah transfer lima ratus ribu habis buat USG makanya di suruh caesar sekarang. Terus beli pampers sama susu buat Mayka. Sisanya buat bayar hutang warung. Tadi mau pinjem Teteh katanya gak ada. Padahal kemarin si Aa ngiriman," ucap Yufi pelan mengadu.


Yufi dan Kakak iparnya memang kurang harmonis hubungannya. Yufi pun dengan Kakak dan adik Rama pun kurang harmonis hubungannya. Apalagi dengan ibu mertuanya.


Ada hal lain, yang membuat keluarga Rama sedikit tak menyukai Yufi. Bukan hanya sikapnya yang kasar dan keras. Tapi juga Yufi pernah membuat kesalahan fatal berujung meminta perceraian di saat Rama terpuruk.


"Tapi ... Masa iya pinjem seratus ribu gak di kasih?" ucap Yufi kesal.


"Udah gaknusah di bahas," ucap Rama pelan.


Rama duduk ejenak dan menatap nakas yang tidak ada apa -apa. Termasuk air minum.

__ADS_1


"Sudah beli peralatan bayi?" tanya Rama pelan.


Yufi menggelengkan kepalanya pelan.


"Belum. Makanya pusing," ucap Yufi pelan.


"Lho uang simpanan yang buat lahiran? Kan ada satu juta dua ratus? Kemana uangnya?" tanya Rama pelan.


"Ya ampun Ayah. Ayah masih hitung -hitungan sama istri. Bunda juga butuh jajan, makan, bedak, lipstik, iya kan? Masa suaminya kerja di kota tapi istrinya gak bisa dandan. Malu Ayah sama tetangga. Nanti di kira Ayah gak sukses di kota," ucap Yufi pelan.


"Bunda itu maunya gimana sih? Ayah itu udah kerja mati -matian. Dari pagi jam sepuluh pagi sampai malam jam dua belas malam baru sampai rumah. Buat apa? Buat nafkah Bunda sama anak -anak. Tolong di syukuri Bun. Bukannya nuntut," ucap Rama kesal.


Rama tidak bisa marah. Ia tak bisa bersuara keras pada Yufi. Rama hanya bisa menarik napas dalam dan mengontrol emosinya.

__ADS_1


__ADS_2