
Rama memilih keluar dari ruangan kamar itu untuk menyendiri. Itulah Rama yang selalu mengalah dan menghindari suatu perdebatan. Terlihat cuek dan tidak peduli tapi pada kenyataannya Rama hanya ingin menjaga emosinya, menjaga amarahnya dan menjaga amukannya.
Rama juga seorang pria biasa yang di beri akal sehat, nafsu, hasrat, dan rasa kasihan. Rama paling tidak suka melihat orang yang di sayanginya itu bersedih dan menangis.
Satu bungkus rokok di keluarkan dari kantong celananya. Ia ambil satu batang dan ia sulut dengan korek gas yang sudah di pegangnya sejak tadi. Hanya sebatang tokok yang mampu menemani setiap rasa hati yang sedang di rasakannya.
Angin dingin di rumah sakit begitu menusuk kulitnya yang mulai berkerut merasakan merinding.
Rama menghisap dalam rokok itu dan menahannya beberapa saat lau perlahan di hembuskan melalui mulut dan hidungnya hingga mengeluarkan kepulan asap yang banyak.
Pikirannya mulai melayang jauh. Rama memang tidak memikirkan bagaimana besok. Besok ya di pikirlan besok lagi. Tapi ...
"Dama? Kemana dia?" tanya Rama dalam hati. Setelah seharian sibuk mengurus Yufi, istrinya dan keempat anaknya yang ternyata cukup melelahkan.
Pantas saja, Yufi sering aral soal rumah tangga apalagi soal anak -anak. Emosinya mudah tersulut dan bakal marah -marah tidak jelas. Ujung -ujungnya marah pada Rama dan kalau sudah penat, ia akan kabur ke kampung halamannya atau akan meminta cerai. Selalu seperti itu. Entah sudah puluhan kali rasanya, Rama jenagh mendengar Yufi meminta cerai pada dirinya.
__ADS_1
Rama menghabiskan tokoknya lalu membuang ke tong samlah. Ia berdiri dan menatap ke arah kamar. Semua aman terkendali dan keempat anaknya masih pulas tertidur. Begitu juga dengan Yufi yang terlihat santai bermain ponselnya.
Rama membuka ponselnya. Ia tak memiliki nomor Dama. Di ponselnya memang masih tersimlan nomor Dama yang di beri nama lain bukan Dama, tapi nomor itu sudah lama tidak aktif. Nomor yang sengaja di matukan sewaktu Dama resign dan pindah ke kota lain untuk mencati kehidupan barunya.
Rama mencoba menghubungi nomor lama Dama dan ... tersambung jelas suara dering menyambungkan.
Malam itu Dama sudah berada di tempat tidur dan bersiap untuk istirahat. Tubuhnya lelah sekali. Ia seharian ini menyetir sendiri bolak balik dari kota alin ke kotanya.
Dama memegang ponsel lamanya. Ia bimbang ingin di nyalakan kembali atau tidak seteelah sekian lama ia non aktifkan ponsel itu.
Dama rasa ini sudah saatnya di hunakan kembali. Toh, Rama juga sudah tahu rumah Dama. Jadi? Buat apa lagi mengjilangkan jejak toh memang antara Rama dan Dama selalu berjodoh untuk saling bertemu kembali walaupun sudah berpisah lama.
Ponsel Dama berbunyi nyaring setelah di nyalakan. Nama Rama jelas terpampang di layar ponselnya.
"Hallo ...." jawab Dama ragu. Ia takut Bunda Yufi yang meneleponnya. Karena dulu pernah seperti itu.
__ADS_1
"Dama ... kamu dimana?" tanya Rama pelan.
"Ekehmmm sidah di rumah. Ada apa?" tanya Dama kemudian malah kadi canggung dan gugup.
Sudah lama mereka tak saling berkomunikasi. Bingung bahan apa yang akan di bahas.
"Syukurlah kalau sudaj di rumah. Maafkan Mas tak bisa menemani kamu bahkan terlihat mengabaikan. Kamu tahu kan? Mas bingung, Mas sendirian saja," ucap Rama pelan.
"Iya Mas. Gak apa -apa. Dama paham," jawab Dama pelan.
Senangnya di telepon kembali oleh Rama. Itulah Rama. Sebenarnya lelaki itu sangat peduli dan perhatian pada wanita kesayangannya. Tapi memang waktu dan kondisinya tidak tepat. Rama selalu meminta Dama bersabar.
"Mas ... rindu padamu Dama,"
"Mas ...." Dama memanggil pelan.
__ADS_1
"Iya sayang,"
"Dama sayang sama Mas Rama," imbuh Dama cepat.