RESTU ISTRIMU

RESTU ISTRIMU
8


__ADS_3

Sejak pagi, Rama gelisah karena Dama tak masuk ke kantor. Apalagi ia tak bisa menghubungi ponsel Dama sejak tadi datang ke kantor.


Rama sempat menelepon ruang kerja Dama dan asistennya membuka suara, kalau Dama sudah mengundurkan diri sejak semalam. Surat pengunduran diri Dama sudah samlai ke pihak pusat.


"Apa? Resign? Sejak kapan? Bukankah kemarin masih baik baik saja?" tanya Rama pelan kepada asisten Dama di divisinya.


"Saya kurang tahu Pak, soal itu. Bu Dama agak mendadak mengambil keputusan ini," ucap sang asisten dengan jujur.


Dama memang mendadak sekali. Malam tadi ia menelepon asistennya untuk membuatkan surat lengunduran dirinya agar di letakkan dinmeja direktu pagi pagi sekali. Melalui telepon Dama juga meminta maaf pada atasannya itu jika sudah tidak bisa lagi bergabunga dalam perusahaan itu.


"Baiklah. Terima kasih," jawab Rama pelan lalu menutup sambungan telepon itu.


Rama terduduk di kursi kebesarannya sambil bersandar dan menggoyang goyangkan kursi itu dengan sikut berada pada pegangan tangan kursi dan kedua telapak tangan di rekatkan sambil menopang dagunya.


Rama sambil mengingat hari kemarin dengan Dama yang nampak biasa saja dan tidak ada masalah pelik di antara keduanya. Biasanya jika ada sesuatu Dama akan selalu bercerita dan bersemangat memintabsaran dan lendapat Rama.


Tak hanya itu saja setiap pagi datang ke kantor, Dama selalu menyiapkan kopi buatannya sendirindan di letakkan di meja kerja Rama lalu menyiapkan sarapan pagi yang ringan untk cemilan saja. Karena Dama tahu, setiap pagi Rama pasti sudah sarapan di rumah.


Sudah dua hari ini, aktuvita situ tidak ada. Aktivitas selama dua tahun dengan ritme yang sama. Rama mulai merasa kesepian dan kehilangan Dama.


Ia mengambil ponselnya dan berulang kali menelepon Dama, namun hasilnya selalu nihil.


"Kamu kemana sih, Dama. Kenapa gak ada kabar," cicit Rama pelan pada diirnya sensiri. Sejak pagi, Rey sudah mulai tak konsentrasi dengan pekerjaannya. Penyemangat hidupnya hilang. Wanit yang selalu memotibasi dirinya tidak ada lagi.


"Ini yang aku suka pada dirimu, Dama. Kamu itu selalu membuat hidupku berwarna. Kamu juga membuat aku bisa tersenyum sepanjang hari. Ini yang membuat kamu berbeda dari yang lain. Kamu gak pernah menuntut apapun dari aku. Waktuku, hartaku dan semuanya hanya kamu yang tak pernah mengutik ngutik privasiku," ucap Rama memuji Dama pelan.


Tatapannya menatap terus pada layar ponselnya. Kalau saja ponsel itu menyala dan menimbulakn suara deringan notifikasi baik pesan atau telepon dari wanita yang rindukan.


Sore ini, Dama dan Lanang serat asisten dan Pak Wira, sudah berada di depan rumah Pak Wira yang terlihat nyaman sekali.


"Rumahnya unik Pak. Kalau boleh biar Dama beli dan Dama mau renovasi untuk usaha. Tempatnya cukup strategis di pinggi jalan begini," ucap Dama pelan.

__ADS_1


Pak Wira hanya mengangguk tersenyum. Rumah ini memang sudah lama ingin ia jual, namun ia masih ingatbkata kata mendiang istrinya untuk tidak menjuak asset satu satunya yang Pak Wira miliki. Tapi ... Sekarang Pak Wira tak membutuhkan ini semua. Cita citanya hanya satu ingin pergi ke mekkah untuk berhaji.


"Kok malah senyum Pak? Biar enak Pak. Dama mau bayarin rumah dan tanah Bapak. Bapak tenang saja, bapak boleh tinggak di sini selamanya bersama Dama," ucap Dama pelan yang langsung jatuh cinta pada pandangan pertama dengan rumah ini.


"Boleh Mbak Dama. Silahkan. Bapak hanya ingin berhaji," ucap Pak Wira tulus.


"Ya ampun Pak. Baiklah. Dama akan pesan keberangjaran haji plus ya. Biar Pak Wira tak menunggu lama," ucap Dama pelan.


"Terima kasih Mbak Dama," ucap Pak Wira pelan sambil menitikkan air mata.


Keinginannya bisa terwujud sempurna tanpa harus menunggu lama. Pak Eira merasa beruntung bertemu dengan Dama. Harapannya tak lama lagi bisa terealisasikan.


Skip ...


Rama sudah menaiki motornya menuju rumah Dama. Rama sengaja pulang lebih awal agar bisa mendatangi rumah Dama. Tidak lupa ia membelikan susu cokelat kotak intuk Lanang dan beberapa cemilan kesukaan Lanang.


Sesampai di depan rumah Dama. Rumah itu terkunci rapat dan terlihat sepi. Mobil Dama tidak ada bahkan mainan Lanang yang sering berserakan di teras rumah pun sore ini nampaknbersih dan sunyi. Seperti tidak ada tanda tanda kehidupan di dalamnya.


Sejak tadi Bu Rahmat memang menunggu kedatangan Rama. Ada beberapa titipan yang di titipkan kepada Bu Rahmat untuk Rama termasuk barang barang yang di tinggalkan oleh Dama.


"Sore Bu Rahmat. Dama dan Lanang kemana?" tanya Rama pelan.


Bu Rahmat mengerutkan dahinya bingung. Selama ini memang Bu Rahmat mengenal Rama sebagai calon suami Dama. Itu yang selalu di perkenalkan Dama kepada orang orang di sekitarnya.


"Lho ... Gimana sih? Bukannya Pak Rama calon suaminya. Kok malah gak tahu? Mbak Dama sudah pindah dari sini tadi pagi. Dia memang menitiokan ini dan beberapa barang elektronik yang di tinggal bisa Pak Rama bawa. Kayak kulkas, kompor gas, TV, masih banyak barang mbak Dama yang gak di bawa," ucao Bu Rahmat pelan.


"Terus?" tanya Rama dengan kalem.


"Terus gimana Pak?" tanya BubRahmat yang makin tidak paham.


"Maksud saya, terus Dama pindah kemana?" tanya Rama bingung.

__ADS_1


"Walah ... Kalau soal itu, Ibu juga gak tahu. Coba kamu buka saja tas itu isinya mungkin ada surat atau apa? Informasi Mbak Dama pindah kemana?" titah Bu Rahmat pelan kepada Rama.


Rama menuruti perintah Bu Rahmat dan membuka isi tas kecil itu perlahan dan menjauh dari Bu Rahmat yang nampak kepo dan penasaran.


Di dalamnya hanya ada surat dan satu amplop cokelat yan sepertinya berisi uang tunai.


Rama mulai membuka surat itu dan membacanya.



Teruntuk Kesayangan ku ...



Mas Rama ...


Maaf, kalau terkesan mendadak dan terburu buru sekali lalu tak memberi kabar sama sekali. Tentu, Mas Rama akan tanya, Kamu kenapa Dama? Pasti akunakan menjawab, i'm fine Mas Rama. Aku baik baik saja. Lalu, Mas Rama akan bilang, kata yang terucap dari perempuan kalau bilang baik baik saja mengandung makna seribu tanya dan memiliki seribu alasan jawaban. Jawaban sesungguhnya tidak akan pernah terhawab pasti. Akan selalu ada jawaban lain di setiap jawaban yang Mas Rama lontarkan. Benar sekali. Tepat sekali. Itulah perempuan.


Alasan klasik bukan?


Maafkan sikap Dama selama ini. Kalau Dama banyak menuntut, egois, posesif dan cemburuan. Itu semua memang suatu bentuk dari rasa sayang dan rasa cjnta Dama kepada Mas Rama. Suatu rasa tulus yang takut kehilangan orang di cintainya.


Berulang kali, Dama di terpa rasa bersalah yang besar. Dua tahun hubungan kita berdua sudah semakin jauh dan membuat rasa nyaman itu sulit terlepas satu sama lain tapi tidak dengan keputusan untuk hubungan kita.


Dama hanya butuh waktu sendiri. Kasih Dama waktu untuk menata kehidupan Dama bersama Lanang.


Kalau memang kita berjodoh dan di takdirkan bersama maka semua akan indah pada waktunya.


Ini bukan kata perpisahan. Karena akubtak mau berpisah dan melepaskan Mas Rama dari hatiku yang paling dalam. Nama Mas Rama tidak akan pernah terganti lagi.


Aku mencintai kamu, Mas Rama ...

__ADS_1


Dari yang selalu membutuhkan kamu, Dama ...


__ADS_2